Connect with us
thorragnarok

300: Rise of an Empire Movie Review: Girl Power Brings Quite an Old-Time Victory to This Sidequel

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies
Warner Bros. Pictures

REVIEWS

300: Rise of an Empire Movie Review: Girl Power Brings Quite an Old-Time Victory to This Sidequel

This review contains mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

“It begins as a whisper… a promise… the lightest of breezes dances above the death cries of 300 men. That breeze became a wind. A wind that my brothers have sacrificed. A wind of freedom… a wind of justice… a wind of vengeance.”

Kalimat pembuka yang menggetarkan hati ini diucapkan oleh Queen Gorgo (Lena Headey). Sekilas ia terlihat sedang memimpin prajurit Sparta menuju sebuah perang akbar. Ya … istri dari Raja Leonidas (Gerard Butler) ini memang tengah dalam upaya membalas dendam kematian suaminya, however, 300: Rise of Empire isn’t all about her vengeance. Berselang 7 tahun pasca jilid pertamanya, akhirnya sebuah sekuel dirilis juga. Walau kursi sutradara sudah berpindah ke tangan Noam Murro (Smart People), Zack Synder tetap mengawasi proses produksi film sebagai produser dan ya, hampir seluruh visualisasi adegan dalam filmnya kembali menggunakan teknik green screen.

Walau secara de facto 7 tahun lamanya, namun sebenarnya 300: Rise of Empire diplot berlangsung pada masa yang sama ketika si Raja Sparta, Leonidas, bersama 300 prajuritnya, gugur dalam peperangan melawan si God King, Xerxes (Rodrigo Santoro), di Thermopylae alias Gerbang Neraka. Tidak salah kalau Synder menyebut 300: Rise of Empire sebuah film pendamping ketimbang sekuel karena setting waktu yang sama ini. Walau demikian, karena menggunakan sudut pandang karakter yang berbeda, kisah dengan plot baru pun muncul, kisah yang tak langsung terkoneksi namun masih bertalian dengan 300.

Diceritakan pada masa tersebut yaitu tahun 480 SM, selain Sparta, ternyata bangsa Yunani juga tengah menghadapi peperangan melawan armada laut Persia yang dipimpin Artemisia (Eva Green), seorang jenderal perang yang cantik dan tangguh namun terkenal sangat kejam. Yunani sendiri dipimpin Themistocles (Sullivan Stappleton), seorang jenderal ahli taktik perang yang sebenarnya berasal dari kaum politikus Yunani penjunjung tinggi demokrasi. Themistocles bersama dengan para lelaki Yunani lainnya (yang kebanyakan tidak memiliki naluri maupun pengalaman berperang) mau tidak mau harus turut serta melindungi tanah kelahiran mereka.

Usut punya usut, ternyata perang Artemisia ini dipicu oleh Perang Marathon yang digagas oleh Themistocles pada masa 10 tahun sebelum 300 dan side-quel ini. Strategi Marathon ini sangat brilian hingga mampu memukul mundur Persia. Namun, pada perang Marathon ini jugalah, sebuah tragedi mengenaskan dimulai. Seperti kata pepatah, untuk mengalahkan musuh yang sebenarnya, bunuhlah rajanya. Inilah yang akhirnya dilakukan Themistocles. Ia membunuh Raja Persia, King Darius (Yigal Naor), yang merupakan ayah dari Xerxes. Walau demikian, sebelum menjelang ajalnya, King Darius sempat berpesan pada Xerxes agar tidak membalaskan dendamnya, karena dipercaya bahwa hanya dewalah yang mampu mengalahkan Yunani, bukan manusia.

3001

Sayangnya, pasca kematian Darius, Artemisia (yang merupakan anak asuh Darius) yang diliputi rasa dendam terhadap Yunani justru malah memanipulasi rasa kalut Xerxes. Artemisia memanfaatkan emosi Xerxes yang labil, menyuruhnya pergi ke padang gurun tanpa arah hingga akhirnya Xerxes tiba di sebuah goa pertapa yang memiliki pengaruh jahat. Usai melakukan ritual mandi emas di goa tersebut, Xerxes pun berubah menjadi raja para dewa yang kejam.

Dari plot ini pula, kami mengetahui bahwa ternyata bangsa Yunani dan Sparta tidak pernah akur, bahkan tidak saling membantu secara strategis walau musuh yang dihadapi kedua bangsa ini sama. Kematian Leonidas membawa duka yang mendalam bagi rakyat Sparta, terutama bagi istrinya. Kematian Leonidas dianggap sebagai bantuan terbesar Sparta kepada Yunani, namun juga sebuah kekecewaan yang menyebabkan Yunani lagi-lagi gagal mendapat bantuan Sparta ketika tengah menghadapi ancaman laut Artemisia.

The Menacing Eva Green

Kegelapan dalam 300: Rise of Empire masih terlihat penuh warna karena ada karakter baru menarik serta karakter lama yang diberi pengembangan berarti. Karakter baru yang kami maksud adalah Artemisia milik Green yang ditampilkan secara meyakinkan, tangguh dan kejam pada masanya. Sorot mata Green juga begitu kuat menggambarkan pengalaman masa kecil Artemisia yang pahit, yang membawanya hidup penuh dendam bahkan hingga akhir ajalnya.

Karakter baru lain adalah Themistocles milik Stappleton yang ditampilkan heroik sebagaimana mestinya. Hanya saja sayang, walau dengan tampilan fisik prima, Stappleton tidak mampu mengimbangi kualitas akting milik Green yang begitu kuat itu. Themistocles tampil kaku, jika bukan patuh, bahkan ketika ia nyata-nyata terlihat tergoda oleh kecantikan Artemisia itu. Themistocles juga beberapa kali tampil kewalahan ketika berduel dengan Artemisia yang semangatnya jauh lebih menggebu itu.

3003

Soal karakter lama. Xerxes, walau tak banyak beraksi di medan perang, mendapatkan pendalaman karakter yang menarik itu. Bahwa sebelumnya batinnya terkontaminasi dan berubah menjadi sosok kejam seperti sekarang, dahulu ia adalah pribadi yang penakut dan mudah rapuh. Ia lupa dengan pesan sang ayah dan menyulut api peperangan yang lebih besar.

Headey, seperti sebelumnya, mampu menggambarkan sosok ratu pejuang yang lembut namun tetap tegas dan diplomatis. Coba saja dengarkan baik-baik pidatonya kepada para prajurit Sparta ketika mereka sedang dalam perjalanan membantu Themistocles. “It begins as a whisper… a promise… the lightest of breezes dances above the death cries of 300 men. That breeze became a wind. A wind that my brothers have sacrificed. A wind of freedom… a wind of justice… a wind of vengeance.”

Secara keseluruhan, bagi MuviBlaster penggemar setia 300, paling tidak dibuat cukup puas dengan efek visual yang disodorkan Rise of Empire ini, terutama efek CGI untuk setting lokasi perang lautnya. Walau terlihat cenderung monokrom dan kurang nyata karena tidak menggunakan warna darah sebenarnya (baca: alih-alih merah justru berwarna hitam) namun berbagai adegan vulgar anggota tubuh tetap memberikan kesan sadis mengerikan sekaligus artistik sepanjang durasi.


Director: Noam Murro

Cast: Eva Green, Lena Headey, Sullivan Stapleton, Rodrigo Santoro

Duration: 102 mins


Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top