Connect with us
princessmononoke

A Copy of My Mind Movie Review: Well-Captured Moments of Reality but Not So Well Chemistry Build-Up

A Copy of My Mind Movie Review

REVIEWS

A Copy of My Mind Movie Review: Well-Captured Moments of Reality but Not So Well Chemistry Build-Up

This review may contain mild spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Bukan film dengan ide cerita unik maupun plot rumit, namun memberi harapan oase segar di tengah gempuran film lokal yang kebanyakan kurang memperhatikan banyak aspeknya secara detail. Bukan juga semata karena ada seorang Joko Anwar di belakangnya, karena dalam film romantis berbalut politik kolaborasi dengan studio CJ Entertainment asal Korea ini, Joko justru bereksperimen di luar track-nya. Paling tidak, 2 hal inilah yang menjadi asumsi awal sekaligus pemicu optimisme kami sebelum menonton.

Tidak gelap atau mencekam seperti Pintu Terlarang (2009) dan Modus Anomali (2012), tidak juga romantis penuh bunga-bunga seperti Janji Joni (2005). Romantisme dalam A Copy of My Mind justru terjebak antara kesan pelit dan efisien, namun kami nilai cukup efektif dalam memberi ruang luas untuk eksplorasi detail, terutama latar belakang para karakternya.

Soal pelit versus efisien, chemistry antara kedua karakter utamanya sulit terbangun karena dipaksa “bersatu” hanya berdasarkan kesamaan terkait dunia film. Sari yang hobi nonton senang-senang saja berpacaran dengan Alek yang memiliki koleksi DVD film. Tidak banyak curiga, tidak banyak konflik di antara mereka. Sedangkan soal detail, potret kehidupan kedua karakternya yang adalah anak perantauan di Jakarta, tertangkap cukup baik. Sedikit banyak, kontradiksi 2 hal ini menjadi strategi terselubung yang membuat film ini tetap terlihat overall bagus, walau ada cacatnya.

A Copy of My Mind Movie Review

Bahwa wajar saja ketika Sari (Tara Basro) yang hobi menonton DVD film bajakan bertemu dengan Alex (Chicco Jerikho) yang adalah seorang penerjemah subtitle Inggris amatir. Bagaimana mereka bisa bertemu, apakah disengaja atau tidak, siapa yang ambil pusing? Apalagi pada beberapa adegan pembuka, diperlihatkan Sari adalah seorang perantau yang harus mencari tempat tinggal sementara karena tempat kos lamanya akan direnovasi. Bertemu dengan Alek yang juga bernasib serupa namun tanpa masalah tempat tinggal, Sari bak menemukan sebuah oase. Dalam diri Alek-lah, Sari akhirnya bisa merasakan yang namanya menyelam sambil minum air.

Pacar baru. Tempat kos baru. Kini saatnya waktu untuk kegiatan baru which is bermesraan sepulang kerja hingga pagi menyongsong. Kalau MuviBlaster merasa kami menyindir, well … we did, karena di babak baru kehidupan Sari inilah, A Copy of My Mind terlihat cacatnya. Karena walau sudah berusaha meningkatkan chemistry antara Sari dan Alex lewat banyak adegan intim, chemistry itu tak kian muncul. Karena hubungan asmara keduanya terasa diburu nafsu, terlepas tempo film yang sebenarnya lambat.

Drama Kekejaman Politik yang Tanggung

Seperti yang kami kemukakan di atas, romantisme antara Sari Alex terjebak antara kesan pelit dan efisien. Maklumi saja karena kondisi finansial keduanya sulit dan mereka pun baru beberapa hari berpacaran. Singkat kata, sulit untuk berharap adanya ikatan kuat antara keduanya. Yang terasa hanyalah ikatan 2 anak manusia yang terbangun dalam kondisi sulit, dan ketimbang bercerai berai, lebih baik bersatu menjalani, melihat ke mana masa depan membawa mereka. Terdengar realistis?

Well … you got our point. Memang itulah citra yang ingin ditampilkan film ini. Walaupun peredaran DVD film bajakan dilarang, biarpun publik seperti Sari tak boleh membelinya (baca: apalagi mencuri), itulah potret masyarakat kota Jakarta saat ini, khususnya mereka berstatus ekonomi kelas bawah. Itu faktanya, suka atau tidak.

Depresi karena sulit mencari uang, wajar saja ketika ada kesempatan bertemu dengan orang-orang senasib, karakter seperti Sari dan Alek dengan mudah membangun relasi, paling tidak untuk meringankan beban di dalam hati. Namun sayang, ironi yang harusnya bisa dikembangkan menjadi chemistry kuat, menjadi potret kehidupan yang secara teknis bisa dilihat baik, namun kurang dapat memberi rasa.

A Copy of My Mind Movie Review

Oleh karena itu, guna menambah rasa yang kurang, disuntikkanlah konflik politik berkedok pencalonan presiden. Dengan tempo lambat, engagement antara Sari dan Alex yang sebelum mendominasi, perlahan bergeser pada konflik “sebenarnya” film ini. Lagi-lagi berawal dari kesukaan Sari menonton film, konflik yang dimaksud muncul. Namun apakah konfliknya mampu menyelamatkan kekurangan chemistry atau paling tidak menjadi substansi penting yang akhirnya menjadi kekuatan film ini? Sayangnya, tidak … terlalu.

Bukan lagi dijadikan potret atau menjadi plot leader yang kami harapkan, konflik politik ini malah sekedar menjadi latar untuk progres hubungan Sari dan Alek. Sari yang bekerja sebagai trainee salon facial ternama mendapat klien seorang narapidana kelas I bernama Ibu Mirna.

Singkat cerita, Sari mencuri sebuah DVD film orisinil milik Ibu Mirna, hanya untuk mengetahui bahwa DVD tersebut berisi sebuah rekaman suap menyuap rahasia. Dan karena A Copy of My Mind bukan berjalan di genre action, maka alih-alih kejar-kejaran dan baku hantam, Sari justru dihadapkan pada drama kekejaman politik tanggung, drama kekejaman yang menurut kami kurang berani diolah sehingga tidak berhasil memberi sebuah klimaks berkesan.

Bersinar Tapi Tak Spesial

Kami tak sungkan untuk menyatakan bahwa penampilan Tara Basro (Catatan Si Boy, Killers) lebih bersinar ketimbang lawan mainnya. Walau hanya dengan dialog berisi celetukan pendek, Tara menampilkan kekuatan ekspresi wajah dan gerak-geriknya. Wajahnya yang terlihat galau namun menyimpan banyak motivasi menggambarkan karakter Sari yang depresi namun banyak akal.

Namun, lebih bersinar di sini bukan berarti spesial. Pasalnya, walau dengan kondisi ekonomi sulit, Sari tergolong beruntung bisa menjalani hidup normal; memiliki pekerjaan tetap dengan lingkungan pertemanan yang baik. Ia bukanlah sampah masyarakat, ia bukanlah korban politik, ia bukan karakter yang kompleks. Sari adalah perwakilan nyata dari banyak individu di luar sana yang bernasib sama. Ibarat sebuah proses produksi kepingan DVD, Sari adalah si kepingan master yang siap di-copy untuk menceritakan realita ke khayalak luas. Wajar saja kan?

A Copy of My Mind Movie Review

Director: Joko Anwar

Cast: Chicco Jericho, Tara Basro, Ario Bayu, Paul Agusta

Duration: 116 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top