Connect with us
jumanji

AAC2 Movie Review: Not the Idea of Being Kind but the Plot Irrelevancies We’re Intolerant of

AAC2
MD Pictures

REVIEWS

AAC2 Movie Review: Not the Idea of Being Kind but the Plot Irrelevancies We’re Intolerant of

This review contains spoilers

(2/5) 

Hanya ada 3 hal yang digarap salah dalam Ayat Ayat Cinta 2 AKA AAC2 namun berdampak fatal luar biasa. Pertama, premis kisah cinta sejati yang diubah menjadi kisah cinta picisan. Fahri (Fedi Nuril) yang berjanji setia pada Aisha hingga maut memisahkan, berubah galau pasca ditinggal 7 bulan sang istri tanpa kabar. Fahri yang kerap menasehati orang lain agar hidup secara ideal, bukannya berusaha lebih keras mencari Aisha, malah termakan nasehatnya sendiri. Kami hanya berani sebatas berasumsi bahwa Fahri sedang khilaf, ketimbang melabeli sosok ini munafik atau mudah menyerah.

Kedua, karena menyadari kekhilafan yang dilakukan Fahri, klimaks pun akhirnya disulap (baca: secara ajaib) ketimbang diberi twist (baca: secara cerdas), agar kekhilafan itu tak jadi berlarut-larut dan dapat dimaafkan. Kami terkejut, bukan hanya pada apa yang terjadi, namun juga pada kenaifan pemikiran bahwa kekhilafan, jika dilakukan seorang Fahri, dapat mudah dimaafkan semudah membalikkan telapak tangan.

Ketiga, isu-isu seputar paham dalam agama Islam tidak benar-benar dilibatkan dalam plotnya apalagi dieksekusi tuntas. Isu perang antar agama, terorisme oleh umat Islam dan emansipasi wanita dalam hukum Islam sekedar menjadi latar dari panggung kehidupan baru Fahri di Edinburgh. Bagi kami, Fahri yang tak pernah berada di medan perang seperti Aisha, tak merasakan sakitnya kehilangan ayah seperti Keira (Chelsea Islan), dan tak merasa harus memperjuangkan hak-haknya (baca: karena ia adalah seorang pria) seperti Hulya (Tatjana Saphira), mengemban tugas yang terlampau sulit, yang akhirnya membuat sosoknya melakukan hal-hal tidak yang masuk akal dalam konteks AAC.

Jangan salah mengira kami menganggap kebaikan demi kebaikan Fahri dalam film ini dangkal. Pertanyaannya, “Perlukah?” dan masalahnya, kebaikan yang eksesif ini tidak ditempatkan dalam rajutan jalan cerita yang matang. AAC lekat dengan premis kisah cinta sejati dan kental dengan unsur religi. Untuk apa sebuah sekuel dibuat jika ujung-ujungnya hanya untuk meninggalkan pondasi kesuksesan membumi itu demi memberikan penonton sesuatu yang radikal, sesuatu yang bisa sukses hanya jika effort-nya lebih? Untuk apa sederet aksi kemanusiaan Fahri lakukan jika hanya untuk mendapat pembenaran dari penonton yang terlanjur kecewa?

Ibarat seekor burung, AAC2 berusaha mengembangkan sayap dengan beban tubuh yang tak memungkinkan terbang. Ada elemen-elemen yang terlampau rumit untuk digarap sekaligus, mengorbankan apa yang menjadi esensi AAC. AAC2 seakan tak rela jika Fahri hidup dalam plot cinta sejati yang sederhana, berusaha memaksakannya masuk ke dalam plot yang megah tapi dangkal, seperti adegan polemik bertopik standar yang memperlihatkan kemampuan Fahri ternyata tak jauh di atas rata-rata. Fahri hanya kebetulan punya pesona selalu memikat saja.

Entah apa keputusan pihak belakang layar untuk tidak mengemban warisan fenomenal film pertamanya (2008), kami terlanjur menilai AAC2 bak setengah hati digarap, baik itu secara romantis maupun intelektual. Alhasil, kami, penonton yang sudah berharap-harap dibuat gigit jari menyaksikan pergumulan klise yang dialami Fahri. Rasanya tak mungkinlah bagi sosok yang baik dan sabar seperti Fahri tak sanggup menunggu kepulangan Aisha sedikit lebih lama lagi. Apakah separuh durasi itu Fahri sedang mengenakan topeng, membohongi kami telak?

AAC2

Apakah sebenarnya Fahri, dalam hati, menikmati kehadiran para wanita cantik; Hulya, Keira, Sabina (Dewi Sandra), dan Brenda (Nur Fazura) yang silih berganti dalam hidupnya? Apakah memang sudah ada niat dalam hati Fahri untuk move on dan memilih satu dari mereka untuk menjadi pendamping barunya? Sungguh serba salah menjawab karena fakta yang terjadi menimbulkan kontradiksi, yang idealnya, tak boleh terjadi.

Sub plot yang dihadirkan satu per satu tak jauh-jauh dari deretan tetangga Fahri yang masalahnya semua ia bantu. Ia belikan Nenek Catarina (Dewi Irawan) sebuah rumah, ia biayai kursus biola mahal si Keira, ia tampung Sabina yang seorang tuna wisma dalam rumahnya sendiri. Mau tak mau kami pun sependapat dengan Hulusi (Pandji Pragiwaksono) jika tak mau melihat Fahri bangkrut, kecuali jika Fahri memang nantinya memutuskan lepas dari hidup duniawi beserta segala materinya.

Wajah para bintang wanitanya sedap dipandang, tak salah juga jika batin Fahri akhirnya tergoda. Akting mereka juga tak buruk walau beberapa kali kami melihat adegan mereka kaku dan berlebihan, membuat Fahri kikuk. Sayang, chemistry antara mereka dan Fahri kurang terbangun, membuat Fahri ragu-ragu. Ah, rasanya tak mungkinlah Fahri meninggalkan Aisha yang jauh lebih sempurna itu.


Director: Guntur Soeharjanto

Cast: Fedi Nuril, Tatjana Saphira, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Pandji Pragiwaksono, Dewi Irawan, Nur Fazura, Arie Untung, Nino Fernandez

Duration: 102 min


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

RECENTLY WATCHED

COMING SOON

AIRING NOW – KBS2

To Top