Connect with us
princessmononoke

Alice Through the Looking Glass Movie Review: Almost Unknown to the Classic, This Sequel Is No Sequel to the Predecessor

Walt Disney Studios Motion Pictures

REVIEWS

Alice Through the Looking Glass Movie Review: Almost Unknown to the Classic, This Sequel Is No Sequel to the Predecessor

This review contains no spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Diplot sebagai  sekuel, mau tak mau Alice harus kembali ke Underland AKA Wonderland, bertemu lagi teman-teman dunia lainnya, dan sekali lagi menjalani petualangan yang menguji nyali dan moralnya.  Namun petualangan Alice Through the Looking Glass versi film yang tak setia pada novelnya ini terlampau ambisius dan tak lagi menyenangkan. Alice terlihat terbebani karena ia harus membantu menyelesaikan masalah banyak pihak. Otomatis, tak ada banyak waktu bagi Alice untuk berinteraksi dengan alam dan penghuni Underland melainkan menjelajah ombak dimensi waktu layaknya seorang kapten kapal. How far can this go wrong?

Paragraf di atas saja sudah mencerminkan betapa twisted kisah versi filmnya. Alih-alih Alice si gadis polos yang mengira dirinya bermimpi, Alice milik Mia Wasikowska (Stoker, Crimson Peak) adalah seorang yang tangguh fisiknya dan teguh prinsipnya. Pasca Alice in Wonderland (2010), Alice dikisahkan mengarungi lautan mengunjungi berbagai negara, khususnya Cina, hingga akhirnya kembali ke London 3 tahun kemudian.

Namun perbedaan di atas bukanlah indikasi bahwa Wasikowska tidak berakting maksimal. Sebaliknya aktris asal Australia ini adalah sang heroine yang tak tergantikan, hanya saja ini bukan kisah”nya”. Keputusan untuk memodifikasi habis kisah klasiknya sungguh tak bijak apalagi di-reboot; yang semula adalah ronde demi ronde pertarungan seru Alice dengan Red Queen, berubah menjadi misi penyelamatan Mad Hatter dari kegilaan absolutnya.

Alice Through the Looking Glass Movie Review

Well … terlepas kisah yang jauh berbeda, Alice Through the Looking Glass tidaklah seburuk itu mengingat visualisasi rekaan Underland masih terlihat indah. Hanya saja, walau warna yang ditampilkan kini semakin banyak namun tanpa spesifikasi tone yang begitu jelas. Palet visual berisi warna-warna cerah yang sama sepanjang waktu, terutama karena Alice mengenakan pakaian khas negeri Cina yang sempat dicemooh ibunya itu hampir selama 3/4 durasi.

Hanya ketika Alice berada dalam istana tempat tinggal Time (Sacha Baron Cohen) yang bernuansa gelap dari luar namun berkilau emas di dalam, kami tahu bahwa dunia Underland tak melulu bersahabat. Ada sebuah kuasa lain (baca: selain Red Queen) yang harus Alice taklukkan, yang tersembunyi jauh di dalam sebuah jam kakek.

Motif Modifikasi Kisah yang Tak Kami Mengerti

Anggap saja kami bisa memaafkan keputusan modifikasi kisah secara garis besar ini, namun bagaimana dengan detailnya, terutama alasan Alice harus menjelajah waktu? Karena dalam kisah baru ini, sebagian besar screen time Alice dialokasikan untuk mengendarai kendaraan waktu bernama Chronosphere. Apakah Hatter sebegitu gilanya, membuat Alice mau tak mau membantunya menjelajahi masa lalu?

Hatter (Johnny Depp) yang gila, semakin menggila pasca tidak sengaja menemukan sebuah karya masa kecilnya. Sontak, Hatter bersikeras bahwa keluarganya masih hidup tanpa satu pun temannya percaya, termasuk Alice. Satu-satunya cara adalah kembali ke masa lalu, memutarbalikkan keadaan, dan haruslah Alice yang melakukannya. Mengapa Alice dan apakah Alice bisa?

Alice Through the Looking Glass Movie Review

Inilah problem klasik ketika sebuah kisah klasik dimodifikasi tanpa penghormatan atau paling tidak batas-batas jelas. Ketika secara standalone, kisah ini sah-sah saja, namun tidak ketika dibandingkan dengan kisah asli yang mana penuh dengan syair dan permainan kata-kata. Entah apa karena si penulis skrip, Linda Woolverton (Alice in Wonderland) kehabisan ide untuk membayangkan adegan menarik menggunakan syair dan kata-kata di atas, atau justru James Bobin (Muppets Most Wanted) sebagai sutradara sengaja “mendewasakan” sekuel ini dan dengan terpaksa membuang semua elemen klasik yang asosiasinya erat dengan dunia anak-anak itu?

Anggap saja kami setuju dengan keputusan “mendewasakan” Alice dan kisah klasiknya yang dianggap kekanakan itu. Sebagai perbandingan, mari gunakan Maleficent (2014) yang sekilas mengalami modifikasi serupa namun sebenarnya mengalami pengembangan cerita yang bijak sehingga penonton pun jadi simpati. Resep sukses Maleficent terletak pada eksplorasi latar belakangnya yang tragis dan pergumulan batinnya pasca ia mengutuk sang putri, membuat Maleficent berkaca dan belajar dari kisah barunya sendiri. Resep sukses lain adalah fakta tentang asal-usul Maleficent yang tidak pernah jelas (baca: selain yang ditawarkan oleh versi animasi Disney) menjadi celah efektif untuk mengisi rasa penasaran penonton yang sebelumnya diam dipendam.

Masih dalam rana film produksi Disney, perbandingan lain yang kami nilai cocok adalah The Jungle Book (2016) yang nyaris setia pada novelnya dan selalu fokus pada petualangan Mowgli mencari jati dirinya. Tak ambil pusing dengan kemungkinan penonton akan bosan dengan kisah yang itu-itu saja, The Jungle Book dengan eksekusinya yang tak over-the-top justru dipuji karena tahu diri.

Alice pun sebenarnya tak banyak tingkah, hanya saja sayang, ia terjebak dalam sebuah dunia yang ia kira sudah ia kenal baik. Petualangan pertama adalah misi mengalahkan Jabberwocky. Petualangan kedua adalah misi menyelamatkan Hatter. Apa mungkin Alice akan kembali ke-3 kalinya ketika Underland kembali butuh bantuan? Semoga saja nantinya Alice tidak merasa dimanfaatkan.


Director: James Bobin

Cast: Mia Wasikowska, Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, Sacha Baron Cohen

Duration: 113 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top