Connect with us

Arrival Movie Review: The Conceptual Approach to the Sci-Fi Materials Makes the Underlying Essential an Uninvited but Widely Welcomed Guest

Arrival Movie Review
Paramount Pictures

REVIEWS

Arrival Movie Review: The Conceptual Approach to the Sci-Fi Materials Makes the Underlying Essential an Uninvited but Widely Welcomed Guest

This review contains mild spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Semakin Arrival menelusuri motif kedatangan aliennya, semakin tebal kulit misteri yang menyelubungi plotnya itu. Pasalnya, berbeda dengan film bertema alien kebanyakan, kedatangan alien dalam Arrival ber-status quo; seakan-akan menjadikan Bumi sebagai lokasi transit atau numpang hibernasi saja. Dan semakin intens sosok Louise Banks (Amy Adams) yang diplot menjadi pakar bahasa, berinteraksi dengan alien tersebut, semakin lapisan tebal kulit misteri yang harus dikupas, karena ternyata, lewat sebuah fenomena personal, terkuak bahwa Banks memiliki bakat seorang penjelajah waktu.

Jangan anggap pengungkapan di atas mutlak sebagai spoiler karena apapun asumsi yang muncul belum menjadi hal pasti, sebaliknya berpotensi membuka sederet asumsi lain yang membuat status spoiler apapun otomatis luntur. Banks saja harus setengah mati mengumpulkan nyali bolak-balik ke dalam pesawat alien yang berbentuk heptapod raksasa itu demi mencari jawaban pasti. Karena alih-alih seperti alien lain yang hanya menggeram namun kami tahu jelas maunya apa, alien milik Arrival ngotot berkomunikasi sampai manusia mengerti maksud kedatangan mereka.

Permasalahannya, Banks yang seorang pakar saja tak mengerti apalagi mampu menerjemahkan bahasa alien itu ke dalam bahasa manusia seperti yang diminta para pemimpin dunia. Satu-satunya jalan hanyalah mengajarkan alien itu bahasa manusia, membuat progres misi ini berkembang lambat namun interaksi antara kedua alien (baca: yang diberi nama Abbott dan Costello) dan Banks semakin intens sekaligus menarik.

Arrival Movie Review

Bukan Film Alien dengan Gol Akhir Dunia

Frekuensi interaksi Banks dan kedua aliennya otomatis menjadi rutin, membuat kami pun berpikir bahwa Arrival bukanlah film alien dengan gol akhir dunia. Ada sebuah maksud yang berusaha kedua alien itu sampaikan, membuat kedatangan mereka lambat laun disambut baik; antara niat bernegosiasi atau memberi peringatan untuk manusia. Lebih jauh lagi, sejauh usaha Banks membuahkan hasil, sejauh itu pula tak satupun manusia jadi korban si alien.

Sebaliknya, manusia saling membunuh karena dihinggapi perasaan paranoid atas penampakan 12 heptapod yang tersebar di seluruh dunia; mulai dari Cina hingga Montana (baca: lokasi heptapod yang dimasuki Banks). Berkejaran dengan waktu, beban berat ada di pundak Banks, walau sesekali dibagi bersama seorang pakar matematika, Ian Donelly (Jeremy Renner). Berkejaran dengan waktu pula, Banks harus segera menafsirkan setiap bahasa si alien dengan pasti sebelum salah satu pihak jadi salah paham dan perang pun tak terelakkan.

Juga Pencerahan Batin, Bukan Sebatas Logika

Elemen waktu dan materi fiksi ilmiah dalam Arrival dengan mudah membuat kami membandingkannya dengan film sejenis. Walau memang tidak 100% orisinil namun pendekatan konseptual dengan bahasa gambar berpola terhadap maksud kedatangan alien ini adalah sesuatu yang langka. Selain itu, tak melupakan esensi di balik interaksi Banks dan duo Abbott-Costello, Arrival menyuntikkan esensi ini ke dalam kisah pribadi Banks, yang ternyata terkait erat dengan dengan bakat penjelajah waktunya itu.

Memang tidak secemerlang Interstellar (2014) yang habis menguras emosi dan pikiran lewat drama ayah-anak dan perjalanan waktu rumitnya itu. Lapisan misteri waktunya juga ternyata tidak se-twisted Inception (2010) yang butuh usaha menonton berulang kali supaya benar-benar (baca: x%) mengerti. Namun, Arrival masih tetap terasa menegangkan dengan sudut pengambilan ruang yang tak biasa dan tempo slowmo, sebuah strategi yang mengindikasikan bahwa Arrival memang tengah bermain elemen lain yang tak kasat mata dan terus bertahan jadi misteri hingga film berakhir. Karena, esensi Arrival adalah pada sebuah pencerahan batin, bukan logika, sebuah pencerahan seorang bahwa manusia cenderung menyesali apa yang sudah terjadi dan berharap waktu bisa diulang. “Andai jika waktu bisa diulang.Andai jika masa depan bisa dilihat.”Andai masa depan itu tak terjadi.” “Andai kita bisa bersiap sebelum masa depan itu terjadi.” Masalahnya, ketika manusia diberitahu apa yang menanti di depan dengan segala resikonya, beranikah ia untuk menjalaninya tanpa rasa sesal?

Lewat Banks dan pergumulan pribadinya, kami diajak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sekaligus menemukan fakta bahwa tak semua pertanyaan bisa dijawab. Salah satu indikasi yang mudah ditemukan adalah ketika manusia digambarkan begitu panik oleh kedatangan pesawat makhluk asing, tanpa tahu pasti apa tujuannya menyambangi bumi. Kemungkinan besar karena terlalu sering menyaksikan sajian fiksi ilmiah dengan dogma AMM (Alien Memakan Manusia), pikiran manusia menutup awan tebal yang mungkin saja membawa hujan yang mereka butuhkan.


Director: Dennis Villeneuve

Cast: Amy Adams, Jeremy Renner, Forest Whitaker, Michael Stuhlbarg

Duration: 118 mins


Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

thorragnarok

To Top