Connect with us
thorragnarok

Ballerina Movie Review: A Cinderella-esque Ballet Story With an Inspiring Self-fulfilling Mission

Ballerina Movie Review
Gaumont/Entertainment One

REVIEWS

Ballerina Movie Review: A Cinderella-esque Ballet Story With an Inspiring Self-fulfilling Mission

This review contains no spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Judulnya gamblang menjelaskan apa kisah (baca: kisah pengejaran impian atas bakat) dari film animasi kolaborasi produksi Perancis dan Kanada ini. Namun, Ballerina (yang juga dikenal dengan judul Leap!) mampu melampaui apa yang sebelumnya ada di benak kami, membuat kami menyesal sempat menganggap film garapan duo sutradara asal Perancis ini underrated. Karena faktanya, kisah anak perempuan ingin menjadi Clara dalam pertunjukkan Nutcracker yang klasik itu, diberi bumbu intrik ala Cinderella, menjadikan Ballerina sebuah sajian visual yang kaya akan warna-warni pengalaman hidup dan pesan moral.

Visualisasi karakter dan setting lokasi yang didominasi bangunan klasik Paris abad ke-19 (baca: asumsi kami dari tahun konstruksi Menara Eiffel 1887- 1889), terlihat cantik. Berbagai teknik gerakan balet pro; piroutte dan grand jete; juga dianimasikan nyaris sempurna, terlepas koreografi gerakan dansa lain yang terlihat mirip jurus terbang ilmu kung fu. Plotnya juga menarik, terutama pasca kedua karakter utamanya meninggalkan panti asuhan mereka di pinggiran kota kecil Britanny, Perancis. Musiknya? Walau tak senendang Let It Go milik Frozen (2013) namun cukup ampuh membuat kami mencari rekamannya di YouTube untuk didengar kembali.

Felicie (Elle Fanning) adalah gadis bertubuh kecil dan ringan namun berhati dan bermimpi besar. Felicie suka menari dan selalu menari walau ia tak pernah mengenyam pendidikan tari secara formal. Sayangnya, terkait bakat alami ini yang tidak diarahkan ini, Felicie jadi tak punya gambaran penari macam apa yang ia inginkan hingga suatu hari Victor (Dane DeHaan) menunjukkan Felicie sebuah foto gedung opera ternama, Paris Opera Ballet, di Paris.

Singkat cerita, Felicie dan Victor akhirnya kabur dari panti asuhan mereka menuju Paris. Hanya berbekal keyakinan dan kenekatan, keduanya pun mengejar mimpi masing-masing tanpa rencana yang jelas. Dan mirip kisah bernafas optimis lainnya, Felicie dan Victor diantarkan pada takdir masing-masing lewat tali jodoh yang tidak ia duga. Seperti halnya Victor yang akhirnya tak sengaja bertemu dengan asisten si Gustave Eiffel di sebuah bar, Felicie berhasil mendapat kesempatan belajar balet profesional setelah tak sengaja ditolong ibu peri dalam wujud petugas pembersih wanita yang pincang, Odette (Carly Rae Japsen). Bagaimana serunya plot kedua karakter ini mengejar mimpi sekaligus menyadari arti penting kehadiran masing-masing adalah hal yang baiknya MuviBlaster saksikan sendiri.

Ballerina Movie Review

Mengedukasi dan Menginspirasi

Ballerina memiliki banyak materi yang mampu mengedukasi sekaligus menginspirasi penontonnya. Lewat format animasi, Ballerina juga memiliki kesempatan lebih luas untuk merasuk ke dalam ruang batin penonton; mengingatkan mereka bahwa kisah pengejaran mimpi macam ini bukanlah sekedar dongeng sebelum tidur belaka, apalagi ditargetkan untuk anak-anak saja.

Lebih jauh lagi, Ballerina juga menampilkan beberapa intrik orang dewasa namun dengan perlakuan anak-anak. Coba perhatikan bagaimana Felicie dan Victor mengatasi hubungan pertemanan mereka yang kerap naik dan turun begitu tiba di Paris. Perhatikan pula perkembangan hubungan Felicie dengan Odette yang bak ibu dan anak serta Felicie dengan guru baletnya yang tegas namun diam-diam berhati lembut, Merante (Terrence Scammell).

Ballerina mengajarkan bahwa setiap anak punya potensi dan terlepas apapun alasannya, mereka punya hak untuk mengembangkan potensi itu. Namun, Ballerina tak naif memvisualisasikan bahwa kesempatan pengembangan diri  itu mudah dicapai. Sebaliknya, baik Felicie yang bukan dari keluarga berada bahkan tak punya orang tua, maupun Camille de Haut (Maddie Ziegler) yang memiliki kekayaan berlimpah dan seorang ibu yang kelewat suportif, diplot harus melalui proses seleksi yang sama, tanpa memandang asal usul maupun status sosial masing-masing.

Rudy, Si Pencuri Perhatian

Setelah paragraf-paragraf di atas membahas betapa seriusnya Ballerina digarap, paragraf terakhir ini khusus kami tulis untuk membahas bagian terkomedik film ini. Adalah lewat karakter Rudy, seorang murid balet pria terbaik dengan wajah tampan dan gaya modis. Menariknya, Rudy yang tak tahu identitas asli Felicie, jatuh cinta pada gadis itu tanpa pakai basa basi. Dengan strategi gerak cepat, ia mendekati Felicie, mengajaknya berkencan, membuat Felicie sempat dibuat galau dengan gejolak anak muda yang mendadak merasuki hatinya itu.

Pasalnya, gerak gerik cepat Rudy ini divisualisasikan dengan komikal, membuat sosoknya mirip karakter anime pria yang matanya selalu berbinar penuh bintang setiap kali tengah dekat dengan Felicie. Namun jangan anggap Rudy karakter yang melulu tampil dengan keramaian tawa canda karena menjelang klimaks hubungannya dengan Felicie, Victor di seberang sana ternyata sudah terbakar api cemburu melihat kelakuan Rudy.

Dilema hubungan pertemanan yang berubah jadi cinta segitiga plus kesempatan Felicie menjadi seorang bintang balet besar semua menghampiri dirinya tanpa ketuk pintu. Mampukah Felicie yang tak belum punya banyak pengalaman hidup dan masih hijau dalam mengambil keputusan, memilih jalan yang tepat? Inilah momen di mana ketika seseorang diberi kesempatan sekaligus tantangan besar, keyakinan hanyalah satu-satunya jalan untuk menjawab segala macam bentuk kebingungan.


Director: Eric Summer, Eric Warren

Voice Cast: Elle Fanning, Dane DeHaan, Carly Rae Japsen, Maddie Ziegler, Terrence Scammell

Duration: 90 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading

25.10.17

thorragnarok

To Top