Connect with us

Boychoir Movie Review: An Inspiring Youth Conflict and a Listening Pleasure Despite the Formulaic Plot

Boychoir Movie Review

REVIEWS

Boychoir Movie Review: An Inspiring Youth Conflict and a Listening Pleasure Despite the Formulaic Plot

Overall Rating: 3.5 Stars

Film ini mengingatkan kami pada Whiplash (2014) namun mengusung versi anak-anak yang lebih lembut. Bukan seorang remaja penabuh drum beraliran jazz namun seorang anak yang berbakat menyanyikan lagu-lagu klasik. Lebih jauh lagi, film yang berjudul Boychoir ini juga mencerahkan kami bahwa, memang ternyata, bakat itu tak bisa disimpan, melainkan diasah.

Sebelum kami menjelaskan bagian mana film ini yang memberikan pencerahan di atas, perlu kami ingatkan bahwa premis Boychoir sebenarnya umum. Yang tak umum adalah detail proses pengasahan bakat itu sendiri. Apakah memang layak mendapat hasil memuaskan atau hasil setengah-setengah karena kurang gigih berusaha?

Walau alurnya sudah tertebak; mulai dari si bocah di-bully sesamanya yang iri, mentor yang keras namun setia mengajar hingga akhirnya si bocah menjadi seorang golden boy, kami tetap bisa menikmati film ini. Walau sebenarnya aktor pentolan, Dustin Hoffman (Rain Man, Last Chance Harvey), tidak mengerahkan kemampuan aktingnya secara penuh, perannya sebagai mentor senior terlihat penting. Interaksinya dengan si golden boy, Stetson (Garrett Wareing) juga cukup bergejolak, memperkaya alur yang sebenarnya biasa saja.

Secara Keseluruhan, Film yang Bermakna

Kami tak bisa banyak memuji kualitas akting para bintang, termasuk Huffman dan Wareing. Walau keduanya memberi chemistry mentor-murid yang cukup menggemaskan, namun karakter masing-masing kami nilai kurang ditonjolkan. Hoffman sebagai mentor, kurang galak, dan Wareing sebagai murid, seperti yang beberapa kali diungkapkan Anton Carvelle, kurang menunjukkan niat menyanyi.

Namun tak mengapa, karena untungnya, terlepas kelemahan keduanya, makna yang ingin disampaikan Boychoir, tersampaikan juga. Dengan dukungan rangkaian adegan penguat, klimaks yang kami harapkan itu tercapai. Ini menjadi bukti bahwa sebuah film tidak hanya bergantung pada skill para bintangnya saja. Aspek lain perlu digali supaya kekurangan sana sini, paling tidak tertutupi.

Boychoir Movie Review

Sinematografi film ber-genre drama musikal ini juga dipenuhi dengan banyak shot indah, walau sebenarnya, didominasi ruang-ruang sekolah asrama National Boychoir saja. Alhasil, kami pun betah berlama-lama menyaksikan latihan vokal para murid menyanyikan karya Britten, Tallis, bahkan Handel yang megah itu, walau hanya di dalam kapel sekolah.

Bumbu drama mengenai latar belakang keluarga Stetson juga kami nilai banyak membantu pengembangan karakter bocah berwajah cool ini. Lahir tanpa mengenal sang ayah dan hidup dengan ibu yang berperangai kacau, Stetson tumbuh menjadi seorang bocah pemberontak namun berani. Wajar saja ketika ia bergabung dalam National Boychoir yang notabene dihuni murid-murid berada dan berkeluarga bahagia, Stetson merasa asing.

Kekompakan para Bintang Senior

Sempat kami kemukakan bahwa Hoffman tidak 100% ketika tampil solo, namun tidak ketika ia tampil bersama rekan-rekan seniornya. Turut dibintangi Kathy Bates (Titanic, Midnight in Paris, Tammy) dan Eddie Izzard (Ocean’s Twelve, Valkyrie), ketiganya tampil harmonis nyaris dalam semua adegan.

Pasalnya, Hoffman dan Izzard didapuk sebagai mentor senior dengan Bates sebagai kepala sekolah. Ketiganya banyak terlibat bersitegang perihal berbagai isu yang terjadi di sekolah mereka, terutama soal keterlibatan National Boychoir dalam berbagai tur negara hingga keputusan mengeluarkan Stetson pasca berkelahi dengan murid paling populer.

Tidak mengeluarkan kata-kata kasar karena profesi ketiganya sebagai pendidik, trio Hoffman-Bates-Izzard tetap bisa menampilkan konflik yang mumpuni lewat sisi intelektual mereka, membuat kami pun lebih menghargai profesi guru di muka bumi.

Boychoir Movie Review

Pencerahan Itu

Boychoir memang tidak menjanjikan sebuah alur yang berbeda dari film bertema serupa, namun karena karakter utama di sini adalah seorang bocah laki-laki yang mempunyai bakat vokal klasik tenor, bakat tersebut bisa menghilang seiring waktu. Maksudnya?

Suara yang pecah adalah pencerahan yang kami maksud karena jujur saja, tak kami sangka film besutan sutradara pemenang Oscar, Francois Girard (The Red Violin, Silk), ini menggunakan proses alami tubuh manusia untuk memberikan Stetson sebuah akhir yang lebih bahagia, ketimbang menjadi seorang golden boy saja.

Dari sini pula, kami kini memahami sepenggal kalimat Carvelle kepada murid-muridnya sebelum tampil dalam konser akbar mereka, bahwa bakat apapun yang mereka miliki, tak boleh disimpan, dan tak bisa disimpan. Maksudnya, bakat itu bisa menghilang sehingga alangkah baiknya diasah sejak dini untuk mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga yakni pengalaman proses belajar yang tak bisa disesali jika sia-sia mereka lewati.

Boychoir Movie Review

Walau tidak sempurna, Boychoir tak akan pernah salah dijadikan film merayakan momen Natal, apalagi dengan harmonisasi suara indah para bocah yang sebagian besar memanglah murid dari American Boychoir School. 

Dan MuviBlaster tak perlu jauh-jauh terbang ke Amerika karena Boychoir produksi tahun 2014 yang dibawa masuk ke Indonesia oleh Jive Entertainment tengah tayang di jaringan CGV Blitz, Cinemaxx Theater, dan Platinum Cineplex seIndonesia.

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

thorragnarok

To Top