Connect with us
thorragnarok

Bridge of Spies Movie Review: Steven Spielberg’s New Drama Piece Transcends the Factual Tension, Shows a Daring Complexity on Screen

Bridge of Spies Movie Review

Home

Bridge of Spies Movie Review: Steven Spielberg’s New Drama Piece Transcends the Factual Tension, Shows a Daring Complexity on Screen

Overall Rating: 4.0 Stars

Tidak banyak aktor yang mampu menguasai berbagai genre dan melakukan crossover dengan baik, namun berkat kerja keras Tom Hanks adalah satu dari jumlah yang sedikit itu. Bermain sebagai Joe Fox yang menyebalkan namun romantis, Forrest Gump yang memiliki keterbelakangan mental namun semangat hidup yang tinggi, hingga Chuck Noland yang terdampar sendirian di sebuah pulau bertahun-tahun lamanya, Hanks bisa menyelami dan melakoni semua peran ini dengan baik.

Peran pengacara pintar yang idealis dalam film terbaru besutan Steven Spielberg (E.T, Saving Private Ryan, Jurassic Park), Bridge of Spies, pun menambah daftar panjang prestasi Hanks walau umurnya sudah nyaris menginjak kepala 6. Lebih jauh lagi, karakter yang diperankannya bisa memberikan dinamika menghibur, mencairkan suasana jalinan cerita yang sebenarnya, bisa saja dibuat tegang datar sepanjang film.

Sebelum karakter Hanks, James Donovan, diperkenalkan, Bridge of Spies dibuka dengan adegan penguntitan dan penangkapan seorang pria bernama Rudolf Abel (Mark Rylance) yang diduga FBI sebagai mata-mata KGB untuk Uni Soviet. Barulah ketika diputuskan bahwa terlepas Abel adalah seorang mata-mata atau bukan, ia berhak mendapat peradilan dan dibela oleh seorang pengacara, Donovan muncul.

Di sinilah the law of Hanks bertindak. Biasa menangani kasus klaim asuransi, awalnya Donovan ragu menerima kasus ini. Namun demi meningkatkan reputasi perusahaan dan mengikuti intuisinya sebagai seorang petugas hukum, ia pun mengiyakan, walau harus rela dicemooh publik, bahkan dikritik secara polos oleh keluarganya sendiri (baca : istrinya dan putranya yang masih duduk di bangku SD)

Bridge of Spies Movie Review

Formula Menarik untuk Film Drama Sejarah

Lugas saja kami katakan bahwa kemungkinan kami bosan atau ketiduran ketika menonton film drama bertemakan sejarah, amatlah tinggi. Terlalu banyak narasi, dialog, serta adegan sunyi senyap yang sesekali dikejutkan bunyi tembakan tajam, adalah beberapa faktornya. Sebaliknya, terlalu banyak adegan aksi dan peperangan sana sini pun bisa membuat kami kehilangan makna dari peristiwa sejarah yang divisualisasikan.

Namun, Bridge of Spies pun tidak menawarkan terlalu banyak elemen spionase yang penuh dengan strategi hide and seek itu. Jalinan cerita cenderung berjalan linear dan penuh momen-momen nasionalis yang sebenarnya bisa membuat kami tertidur kapan saja. Namun itulah uniknya, di tangan Spielberg, film ini terasa beda.

Tak perlu kami malu mengulangi bahwa Spielberg adalah sutradara yang kerap diasosiasikan dengan genre fantasi. Alien yang terbang naik sepeda di udara hingga wahana berisi para dinosaurus ganas bukanlah rekaan fiksi biasa. Namun, di luar proyek-proyek imajinatifnya yang fenomenal, tak terlupakan juga kalau Spielberg memiliki tangan dingin dalam mengolah film-film drama serius. Tidak hanya serius namun sarat akan pesan kemanusiaan.

Dan yang menarik dengan Bridge of Spies adalah formula ala Spielberg yang tidak memperlakukan sebuah sejarah pilu secara dramatis berlebihan. Tidak dapat dipungkiri bahwa fakta Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet merugikan banyak pihak, namun lewat pendekatan yang artistik dan humoris namun tetap realistis sekaligus satir, Spielberg membawa kami melihat peristiwa ini dari kacamata yang berbeda. Bahwa situasi genting sekalipun bisa diatasi jika dihadapi dengan cerdas dan penuh niat, seperti yang dilakukan Donovan.

James Donovan Ala Tom Hanks

Kami tak mengenal sosok asli James Donovan namun dari interpretasi yang dilakukan Hanks, kami dibuat yakin kalau Donovan adalah sosok yang banyak akal dan selalu berpikir positif. Lebih jauh lagi, lewat Hanks, kami yakin kalau Donovan adalah sosok pengacara yang bukan hanya jago bersilat lidah, namun juga mempunyai visi jauh ke depan.

Kualitas akting Hanks yang memang mumpuni dengan begitu mudahnya membuat Donovan terlihat menarik di depan layar. Walau umur sudah tak muda, namun Hanks mampu memberikan jiwa seorang petarung hukum yang tidak takut mati walau harus melintasi Tembok Berlin sekalipun, membuat karakternya seorang jagoan intelektual bernyali. Dan kesan ini tidaklah salah, karena Bridge of Spies memang minim hingar bingar, dan semua ini karena Spielberg sebagai sutradara sepertinya memang mengemas film ini tanpa memperlihatkan ego filmnya, membiarkan setiap momen mengalir tanpa paksaan, membiarkan Donovan bekerja sesuai dengan insting kemanusiaan seiring dengan insting hukumnya.

Bridge of Spies Movie Review

Selain Hanks, kredit juga perlu kami berikan kepada Rylance (Intimacy, The Other Boleyn Girl) yang juga memerankan karakternya dengan baik. Karakternya yang tidak banyak bicara namun sekalinya bicara mampu menghipnotis, adalah lawan seimbang untuk Donovan. Bahkan adegan ia berkaca untuk melukis wajahnya sendiri terkesan sebagai peringatan bahwa Abel memiliki keteguhan hati dan intelektual seperti pengacaranya itu. Terlepas ia mata-mata atau bukan di akhir cerita, Abel adalah sosok penting yang sejak awal tak boleh MuviBlaster anggap sebelah mata.

Kedua karakter ini di-plot lurus, melakukan apa yang perlu mereka lakukan (baik sebagai seorang mata-mata yang harus tutup mulut maupun pengacara yang bertugas membela) hingga akhir cerita sehingga tidak heran jika kami menyimpulkan jawaban atas kunci sukses pengembangan karakter Abel dan Donovan di sini adalah konsistensi.

Di sinilah lagi letak-letak kejeniusan Spielberg. Ia sukses mengolah film sekompleks ini tanpa perlu menerapkan strategi ribet. Fokus pada tujuan, fokus pada pesan yang ingin disampaikan pada penonton. Tak lupa memasang pemain berbakat dan bekerjasama dengan penulis naskah yang kaya genre seperti dirinya, Coen Brothers, Bridge of Spies adalah bukti bahwa perang pun bisa membawa banyak wawasan baru, terutama jika dilihat dari kacamata seorang Spielberg.

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top