Connect with us
thorragnarok

Carol Movie Review: Neither Tragedizing nor Dangling the End, the Deviation Is Pursued by a Realistic Hope

Carol Movie Review
StudioCanal

REVIEWS

Carol Movie Review: Neither Tragedizing nor Dangling the End, the Deviation Is Pursued by a Realistic Hope

This review contains no spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Dalam ulasan Bare beberapa waktu lalu, kami memuji penampilan Dianna Agron (Glee) dan pengarahan sutradara Natalie Leite yang berhasil membuat film tersebut jauh dari kesan murahan. Pasalnya, tema LBGT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) yang diusung sangat beresiko terjebak dalam paradigma demikian, apalagi dengan resepsi publik yang masih saja mengganggap tabu segala bentuk penyimpangan seksual.

Relasinya dengan Carol, walau sudah memasang aktris sebesar Cate Blanchett (The Aviator, Blue Jasmine), ditemani junior berbakat, Rooney Mara (The Girl with the Dragon Tattoo), plus dengan sutradara bertangan dingin, Todd Haynes (Safe, Far from Heaven), resiko itu mungkin saja terjadi.

Namun, Carol menguatkan opini kami bahwa tema ini bisa berhenti dicibir jika para bintangnya mampu tampil elegan dan si sutradara memberi penonton banyak detail penting ketimbang ekspektasi adegan buka-bukaan. Apalagi dengan jam terbang Blanchett dan Mara yang jauh lebih tinggi ketimbang Agron, serta pengalaman Haynes menggarap tema serupa namun dengan karakter utama sepasang pria (baca: Far from Heaven (2002)), Carol telak mengungguli Bare, namun dalam konteks positif.

Beruntung pula Carol diplot dengan setting kota New York tahun 50-an sehingga ketabuhan yang ditakutkan muncul, secara fisik, tertutupi desain produksi artistik dan sinematografi indah. Lengkap dengan kualitas akting kelas A dan chemistry kuat Blanchett- Mara, kami melihat Carol justru menjadi motivasi sekaligus referensi bermanfaat bagi film-film bertema LGBT selanjutnya.

Jadi Teringat Balada Gay Ennis dan Jack? Wajarlah …

Level akting kedua aktris dengan Haynes di baliknya pun membuat pikiran kami tertuju pada Heath Ledger dan Jake Gylenhaal saat menjadi sepasang kekasih gay dalam Brokeback Mountain (2005). Dan kami jamin perbandingan apple to apple ini juga sempat terlintas di benak MuviBlaster ketika mengetahui premis Carol.

Karena kembali ke apa yang sudah kami ungkapkan di atas, bukan masalah orisinilitas, namun detail, persisnya detail hubungan antara kedua karakter terutama ketika mereka dihadapkan pada situasi klise berikut; nekat teruskan hasrat terlarang itu atau terpaksa akhiri demi menghindari masalah yang lebih besar. Masalahnya, tak sembarang kolaborasi bisa menggambarkan detail ini dengan baik, jika Anda mengerti apa yang kami maksud.

Carol Movie Review

Kisah Carol sendiri diadaptasi dari novel The Price of Salt karya Patricia Highsmith yang terbit tahun 1952. Dimulai dari pertemuan seorang ibu rumah tangga sekaligus sosialita, Carol Aird (Blanchett), dengan seorang gadis penjaga toko mainan, Therese Belivet (Mara). Di pertemuan inilah, walau topik utama pembicaraannya hanya seputar boneka dan mainan kereta, tatap mata Carol pada Therese mengindikasikan hal lain.

Ya … sesuai tema yang diusung, Carol menyiratkan rasa cinta untuk Therese. Meneleponnya untuk mengucapkan terima kasih, mengajaknya makan siang, hingga mengajaknya menghabiskan waktu bersama di akhir pekan adalah sederet bukti rasa suka Carol yang tak sungkan-sungkan ia tunjukkan. Lalu bagaimana dengan Therese?

Well … gadis ini ternyata memiliki seorang pria yang mencintainya. Namun apa ia mencintainya balik, jawaban itu terkuak ketika Carol berujar bahwa ia belum siap dengan kehidupan rumah tangga. Sebuah jawaban yang menjadi kesempatan bagi Carol untuk mencuri hati target barunya. Apakah cintanya bertepuk sebelah tangan? Kalaupun tidak, sanggupkah Carol keluar dari bayang-bayang rumah tangga yang telah menjadikannya ibu dari seorang putri?

Tema yang Sebenarnya Sulit Diolah

Mungkin ada yang berpikir bahwa tema LGBT selalu berakhir dengan dilema yang itu-itu saja. Pilihannya antara berakhir tragis atau menggantung. Namun, tidak dengan Carol. Carol memberi harapan sekaligus pencerahan bahwa kaum LGBT memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dianggap publik menyimpang. Pembenarannya, publik tak perlu tahu dan publik sebenarnya tak peduli. Kalau mereka tahu, sepeduli apa mereka terhadap penyimpangan ini selain mengkritik, bukan memberi solusi?

Lebih jauh lagi, penampilan Blanchett dan Mara terlampau baik (baca: keduanya dinominasikan predikat dalam Academy Award 2016), membuat kami pun berharap kisah cinta lesbian ini terjadi dalam kehidupan nyata. Yang menariknya lagi, kami berharap kisah ini hanya Carol dan Therese yang tahu. Kalau memang demikian, kami berharap keduanya hidup bahagia sekarang.

Calon Penerus Cate Blanchett Masa Depan

Kami tak akan kaget jika Blanchett menang predikat Best Actress lagi tahun ini. Nilai aktris asal Australia ini sudah jauh di atas rata-rata sehingga apapun sepak terjangnya selalu menarik perhatian. Namun, hal lebih menarik justru terjadi pada lawan mainnya, Mara.

Carol Movie Review

16 tahun lebih muda, Mara justru mengundang banyak tanda tanya.  Terutama setelah ia tampil total menjadi gadis dengan kehidupan kelam, Lisbeth Salander, Mara memberi gaung bahwa namanya akan kian besar di tahun-tahun mendatang. Dan benar saja, portfolio Mara pasca The Girl with the Dragon Tattoo (2011) lebih bervariasi dan berkualitas. Ia pun bukan lagi aktris kemarin sore apalagi underrated. Tawaran yang menghampirinya juga bukan lagi aktris pendukung, melainkan utama.

Maka, jika akhirnya ia bisa terpilih menemani, mengimbangi kualitas akting, dan mendapat nominasi di ajang yang sama sepert Blanchett, Mara adalah sesuatu. Calon penerus Blanchett di masa depan, mungkin?


Director: Todd Haynes

Cast: Cate Blanchett, Rooney Mara, Sarah Paulson, Kyle Chandler

Duration: 118 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top