Connect with us
jumanji

Castle in the Sky Movie Review: Exploring Down-to-Earth Elements from High Above

Castle in the Sky
Studio Ghibli

REVIEWS

Castle in the Sky Movie Review: Exploring Down-to-Earth Elements from High Above

This review contains no spoilers

(4/5) 

Premisnya lebih mirip Howl’s Moving Castle, walau inspirasi Castle in the Air berasal dari petualangan Gulliver terdampar di pulau liliput (baca: bukan dari novel penulis Inggris tahun 1986 itu). Kesamaan lainnya cukup banyak, mulai dari karakter utama bocah perempuan cantik dengan peran besar sepanjang durasi, romansa sepasang sejoli tanpa syarat, hingga elemen-elemen industrial nan magis yang membuat kami kembali terkesima dengan imajinasi seorang Hazao Miyazaki.

Bedanya, istana bernama Laputa ini perlu dicari sendiri karena tertutup gugusan awal tebal di langit. Lebih jauh lagi, istana yang konon dihuni para robot ini dikabarkan fiktif. Benarkah?

Hanya bocah laki-laki berbakat penemu bernama Pazu (Mayumi Tanaka) yang percaya bahwa Laputa itu benar ada. Keyakinan Pazu adalah berkat dokumentasi nyata dari sang ayah sewaktu hidup. Namun keyakinan Pazu kian nyata setelah ia menolong Sheeta (Keiko Yokozawa) yang mengapung di langit. Tertarik dengan latar belakang Sheeta, Pazu pun ikut dalam petualangan gadis itu. Siapa Sheeta? Benda bersinar apakah itu yang senantiasa menyelamatkan Sheeta dari maut?

Castle in the Sky

Hingga akhirnya Laputa ditemukan, penonton disajikan petualangan Pazu dan Sheeta bertemu banyak karakter lain. Karena ternyata, menemukan Laputa adalah hal yang sulit dan keduanya butuh bantuan. Untung saja, plot memberi nasib baik untuk mereka; membuat Kapten Dola (Kotoe Hatsui) yang sebelumnya lawan, menjadi kawan. Dola, seorang wanita paruh baya berjiwa petarung, tersentuh melihat kegigihan dan kejujuran kedua bocah ini. Sebagai balas budi, Pazu dan Sheeta membantu Dola sebisanya selama diijinkan naik ke kapal Dola, mencari Laputa.

Akhirnya diketahui bahwa Sheeta adalah putri kerajaan dari Laputa, generasi terakhir yang mewakili kaumnya. Namun sejak penguakkan jati diri ini, masalah bertubi-tubi datang dan perlahan membongkar motif sebagian besar adegan di awal film. Ternyata Sheeta memiliki anggota keluarga lain, yang ingin mencuri batu ajaib yang diwariskan orang tua Sheeta pada dirinya. Kolonel Muska (Minori Terada) yang menyamar sebagai agen rahasia, tak lain tak bukan, adalah kerabat Sheeta yang berniat jahat. Ia ingin menguasai teknologi dalam Laputa untuk dirinya sendiri dan memperluas kuasa manusia di langit.

Pesan yang ingin disampaikan Miyazaki lewat film ini jelas. Bahwa mirip dengan hubungan antara manusia dan alam, hubungan antara manusia dan teknologi juga harus mutual dan berdampingan. Mirip alam yang sumber dayanya dijaga dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak, teknologi juga harus dikembangkan dengan tujuan selain merusak. Besar kemungkinan Miyazaki menggunakan anak-anak sebagai karakter pahlawan mengingat pesan film ini harus ditanamkan dalam diri setiap individu sedini mungkin, membuat para orang dewasa malu jika mereka tak bisa memberi contoh.

Visualisasi Laputa membuat kami teringat pada frase negeri di atas awan. Sebuah batu besar mengambang di udara dengan lansekap serba hijau yang menyejukkan. Banyak area kosong menunjukkan bahwa Laputa telah lama ditinggal penghuninya. Hanya ada beberapa robot terlihat, baik itu yang masih berfungsi atau yang sudah rusak, seakan tak takut membuat penonton kecewa dengan penampakkan sisa-sisa keajaiban Laputa. Rasanya sungguh ajaib mengingat film ini diproduksi pada tahun 1986, jauh sebelum teknologi animasi secanggih saat ini. Ini adalah bukti Miyazaki tak pernah takut mengeksekusi ide-idenya setinggi apapun tanpa menjadikan kisahnya absurd apalagi sombong.


Director: Hazao Miyazaki

Voice Cast: Mayumi Tanaka, Keiko Yokozawa, Kotoe Hatsui, Minori Terada

Duration: 126 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

RECENTLY WATCHED

COMING SOON

AIRING NOW – KBS2

To Top