Connect with us
thorragnarok

Collateral Beauty Movie Review: When Christmas Carol’s Three-Ghost Stories Turns Philosophical but Fails to Be Emotional

Collateral Beauty Movie Review
Warner Bros. Pictures

REVIEWS

Collateral Beauty Movie Review: When Christmas Carol’s Three-Ghost Stories Turns Philosophical but Fails to Be Emotional

This review contains mild spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Collateral Beauty berusaha menjadi sebuah versi filosofis dari kisah trio hantu yang mendatangi seorang konglomerat pelit di Malam Natal. Karena, sosok Howard (Will Smith) bukanlah seorang konglomerat apalagi seorang pelit yang perlu diteror seperti Ebenezer Scrooge. Sebaliknya, Howard adalah seorang yang hidup dalam kreativitas dan tindak-tanduk positif. Namun mirip Scrooge yang keras kepala, demikian pula sikap Howard yang mendadak berubah 360 derajat pasca sang putri kesayangan meninggal. Singkat cerita, periode kelam itu pun datang, membuat fisik dan jiwa Howard layu mirip daun-daun yang berguguran. Hidup segan mati pun tak mau, bagaimana cara ketiga hantu menolong Howard yang state of mind-nya saat ini nampak mati itu?

Menggunakan premis dengan sekuen mirip Christmas Carol namun dengan kemasan berbeda, Collateral Beauty besutan David Frankel (Marley & Me) tergolong sukses menampilkan ketiga hantu di atas dengan latar belakang dan dalam wujud yang tak mudah ditebak. Pasalnya, siapa sangka kalau ketiga hantu ini merupakan interpretasi dari keyakinan seorang Howard ketika ia masih “dirinya” dulu. Bahwa ia yakin bahwa dalam hidup ini ada 3 aspek penting yang harus dijaga sekaligus tak bisa dihindari. Adalah Waktu (Time), Cinta (Love), dan Death (Maut) yang diyakini Howard pula menjadi landasan dari kesuksesan hidup dan karirnya selama ini.

Namun, keyakinan Howard diuji ketika ia memutuskan untuk menjilat filosofi hidupnya itu, ketika Cinta menghancurkan keyakinannya dengan cara membiarkan Waktu dan Maut mengambil nyawa putrinya yang baru berusia 6 tahun. Merasa ketiga filosofi ini tak kenal kompromi, Howard pun berubah kejam pada dirinya sendiri. Fokusnya kacau, pekerjaannya berantakan, dan kehidupan sosialnya perlahan lenyap. Ia bagaikan hidup dalam sebuah zona tak terjamah, menjadikannya seorang manusia yang tak kasat mata. Satu-satunya yang menjadi harapan Howard adalah teman-teman baiknya, walau mereka sendiri sudah putus asa menghadapi Howard.

Saking peduli, teman terbaik Howard, Whit (Edward Norton) menelurkan gagasan aneh yang ia pikir bisa menolong Howard. Berpikir bahwa satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan Howard hanyalah Cinta, Waktu, dan Maut, Whit pun menyewa sekelompok pemain teater untuk berakting menjadi 3 entitas ini. Walau terdengar gila, Whit yakin bahwa obat penyembuh untuk Howard adalah dengan berhadapan dengan kegilaannya sendiri. Dan untuk wujud manusia trio entitas ini, Collateral Beauty menampilkan ensemble yang tak main-main; Helen Mirren (The Queen, RED) dan Keira Knightley (Pride & Prejudice, Anna Karenina). Bagaimana hasilnya?

Collateral Beauty Movie Review

Gagal Menarik Simpati

Kemasannya menarik, plotnya pun cenderung mengalir mulus, namun para pemain yang terlibat seperti mengalami patah arang dan di sinilah kesalahan itu terlihat. Bahwa tanpa performa meyakinkan, perwujudan ketiga filosofi milik Howard tersebut terasa mengawang-ngawang. Tanpa performa meyakinkan, ketiga aktor yang diplot tugas mirip malaikat pencabut nyawa, bisa berubah menjadi penganggu kehidupan orang.

Diisi sederet nama-nama besar; termasuk Kate Winslet (Titanic, The Reader) dan Michael Pena (Fury, Ant-Man), masing-masing seperti saling bergantung pada satu sama lain, enggan untuk mengeluarkan kemampuan maksimal seperti biasanya. Tak sepenuhnya kesalahan pemain, sebagian kesalahan terletak pada Frankel sebagai sutradara. Entah apakah Frankel naif mengandalkan ide cerita semata dan mengeksekusinya dengan santai atau ia memang tak mampu menguasai medan akting kelas A para bintangnya.

Smith yang kebagian peran utama dengan porsi stres tinggi masih terlihat normal dalam beberapa adegan, otomatis membuat aksi apatisnya terasa berlebihan. Norton juga terlihat santai dalam usaha menolong Howard, melepaskan seluruh beban di pundaknya kepada trio manusia hantu yang ia sewa, membuatnya terlihat sebagai seorang oportunis. Winslet dan Pena sendiri hanyalah tim pendukung yang membuat ide Whit ini sukses terealisasi. Ya … pasalnya, gara-gara perubahan sikap Howard, agensi yang mereka bangun bersama itu tengah berada di ambang kehancuran. Kekhawatiran para klien dan pemegang saham pun mendesak Whit, Claire (Winslet) dan Simon (Pena) untuk memaksa Howard rela menjual sahamnya sendiri. Pertanyaannya, apakah akal tidak sehat Howard bisa mengerti kondisi sulit teman-temannya itu? Atau ia hanya berpura-pura tak tahu karena enggan memikirkan hal lain selain kematian putrinya?

Di lain pihak, trio hantu juga tidak tampil maksimal. Walau Mirren tampil manipulatif sekaligus bijak, gerak-geriknya yang terlalu banyak gaya ketika menghadapi Howard, melunturkan potensi elegan itu. Knightley, seperti biasa tampil cantik dan kuat, walau terlihat labil dengan keputusannya bergabung dalam panggung sandiwara ini. Jacob Latimore (The Maze Runner) yang kebagian wujud Waktu justru lebih mirip Maut ketika perdana mengkonfrontasi Howard. Tak heran jika Claire sempat ketar-ketir ketika karakternya, Raffi, beraksi.

Lalu apakah dengan usaha tak maksimal ketiga trio hantu di atas, emosi Howard yang dikisahkan sudah diam membatu itu bisa tergerak? Well, sayangnya tidak. Sungguh sayang memang, kemasan luar yang sudah digarap secara filosofis ini tidak berhasil didongkrak oleh performa emosi para bintang yang berpotensi membuat kulitnya semakin berkilau. Karena sesuai dengan judulnya, Collateral Beauty seyogyanya memberikan keindahan dari segala sudut, membuat penonton menghargai makna Cinta, eksistensi Waktu, dan kenyataan Maut dari sudut pandang Howard yang dipengaruhi orang-orang di sekelilingnya itu. Sayang, beberapa sudut yang terblokir sehingga keindahan itu tak tampil maksimal.


Director: David Frankel

Cast: Will Smith, Keira Knightley, Helen Mirren, Kate Winslet, Michael Pena, Edward Norton, Naomie Harris, Jacob Latimore

Duration: 97 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top