Connect with us
thorragnarok

Despicable Me 3 Movie Review: The Plot Moves Forward yet Is Too Sluggish to Boost the Humor

Despicable Me 3 Movie Review
Universal Pictures

REVIEWS

Despicable Me 3 Movie Review: The Plot Moves Forward yet Is Too Sluggish to Boost the Humor

This review contains no spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Kali ke-3 Gru (Steve Carell) bersama Minions-nya menghibur dunia lewat franchise Despicable Me. Suka, duka, baik, dan jahat sudah mereka lalui bersama, hingga akhirnya Gru kini punya sebuah keluarga normal yang perlu diurus dan dinafkahi, dengan cara yang normal pula.

Ya … pasca bertemu Lucy (Kristen Wiig), Gru akhirnya punya pekerjaan tetap yang membuatnya mirip ayah normal lainnya. Bersama Lucy, Gru menjadi agen rahasia Anti-Villain League (AVL) yang tugas utamanya menangkapi para penjahat. Bersama Lucy, Gru menjadi orang tua yang tidak boleh sembarang berbuat jika tak mau ketiga putrinya celaka. Bersama Lucy pula, Gru mendapat nickname yang mau tak mau ia suka, Grucy.

Cukup sudah basa basinya karena Gru dan Despicable Me 3 nya memiliki masalah yang cukup serius. Well … ya, pertama adalah si Balthazar Bratt (Trey Parker), mantan idola cilik yang kini versi dewasanya menjadi kriminal canggih nan kelas kakap. Tak terima dengan penolakan yang ia terima dari Hollywood saat cilik dulu, Bratt dewasa terus menerus membuat ulah sambil mempersiapkan rencana besar; menghancurkan Hollywood. Kedua, dalam sekejap, Gru dikabarkan memiliki seorang saudara kembar bernama Dru, yang celakanya terobsesi mengikuti jejak lama Gru sebagai penjahat.

Ada konflik menarik dengan potensi plot dinamis di sini. Ada kemungkinan Gru kewalahan mengatasi Bratt karena terganggu tingkah Dru. Ada kemungkinan Gru bertikai dengan Lucy dan anak-anaknya karena Gru malah membela Dru. Namun, terlepas kemungkinan ini terjadi atau tidak, Despicable Me 3 tidak boleh terbuai dengan ironi kehidupan Gru yang baru ini. Despicable Me 3 harus tetap memberikan sensasi humor bertubi-tubi; mengubah ironi menjadi lelucon menyenangkan, tak membuat drama panjang walau konten drama itu cukup padat. Sayang, hasilnya, Despicable Me 3 tidak 100% berhasil mempertahankan tradisi lamanya. Kehadiran Minions dalam jumlah banyak dan tingkah konyol sekalipun tak banyak membantu memperbaiki kondisi yang tak seperti dulu lagi ini.

Konflik yang menarik diberi penyelesaian yang mudah jika tak bisa dikatakan malas. Karakter Gru yang kelihatannya masih labil juga tak diberi proses pembelajaran yang lebih bermakna. Quality time-nya dengan Dru juga dibabat cepat oleh misi pencurian berlian yang dicuri oleh Bratt. Adegan demi adegan antara Gru dan Dru seakan dibangun untuk bermuara pada misi Bratt menghancurkan Hollywood. It’s all about Bratt in the end.

Slot tampil untuk Margo, Edith, dan Agnes juga tidak banyak apalagi memberi arti. Ketiganya seakan sudah bersekutu dengan Gru sehingga tak perlu diberi pengembangan cerita lagi. Hanya ada penyakit imajinasi Agnes yang masih berkutat bahwa unicorn (kuda terbang) itu nyata, bahkan semakin menjadi-jadi setelah ia menemukan kambing bertanduk di tengah hutan. Really, this is sort out-of-idea situation.

Yang jadi penyelamat adalah fokus bahwa Gru akan menjadi ayah terbaik di jilid ke-3 ini. Bahwa jika Gru tak mampu mengatasi persoalannya dengan cara yang normal, apalagi sampai harus kembali ke dunia gelap, Gru akan menjadi karakter yang wasted dan kalah pamor dari saudara kembarnya. Konflik lebih berat, gol lebih serius, namun digarap malas, pantas saja banyak lelucon yang tak mempan membuat hormon endorfin kami bekerja. Jika Gru akhirnya memutuskan pensiun, memang sudah saatnya.


Director: Pierre Coffin, Kyle Balda

Voice Cast: Steve Carell, Kristen Wiig, Trey Parker, Jenny Slate, Miranda Cosgrove, Dana Gaier, Steve Coogan, Nev Scharrel

Duration: 90 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top