Connect with us
thorragnarok

Detective Conan: Sunflowers of Inferno Movie Review: As Always, Conan Outsmarts Us with Thousand Layers of Mystery and an Unpredictable Uncovering

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies

REVIEWS

Detective Conan: Sunflowers of Inferno Movie Review: As Always, Conan Outsmarts Us with Thousand Layers of Mystery and an Unpredictable Uncovering

Overall Rating: 3.5 Stars

Selain Doraemon, satu lagi sahabat karib masa kanak-kanak kami yang berasal dari Jepang, Detective Conan. Ya, Conan. Pertama kali kami berkenalan lewat manga, lalu berlanjut ke anime dan belakangan film, kami merasa sosok detektif berwujud cilik ini menyimpan 9 nyawa dalam dirinya.

Pertama kali mengenal Shinichi Kudo, dirinya hampir tewas terbunuh sebuah racun yang memiliki kode APTX 4869. Bukan nyawa yang melayang, Shinichi malah mengalami efek samping yang cukup unik. Dirinya tetap hidup namun bukan lagi sebagai seorang remaja, melainkan anak-anak. Bermula dari insiden inilah, kami diperkenalkan pada Conan Edogawa, alter ego yang Sinichi ciptakan untuk dirinya sendiri.

Dengan latar belakang menarik di atas ditambah dengan semangat dari manga dan anime-nya yang hingga kini masih terus diproduksi adalah salah satu alasan mengapa buah karya dari komikus bernama Gosho Aoyama ini tetaplah hidup.

Walau sebenarnya, bisa dan wajar saja jika kami merasa bosan saking panjangnya seri yang ada, namun justru di sinilah letak kekuatan Conan. Selalu menampilkan kisah penyelidikan yang seru dan tidak mudah ditebak, seringkali kami justru dibuat ketagihan berpikir untuk mencari benang merah misteri setiap episodenya. Kalau sudah begini, rasa bosan tingkat apapun bisa ditepis.

Bahkan, saking begitu memikatnya, Detective Conan yang juga dikenal dengan Case Closed sering disamakan dengan Scooby Doo dan Sherlock Holmes, sebuah prestasi yang semakin membuat karya Aoyama ini tenar di luar Jepang. Di Indonesia sendiri, Conan masih sering dijumpai dalam bentuk manga dan anime. Barulah ketika Detective Conan Movie ke-18 yang berjudul Case Closed: Dimensional Sniper dibawa masuk oleh Jive Entertainment dan dirilis di Indonesia tahun 2014 lalu, excitement publik meluas ke layar lebar.

Kini, setahun berlalu dan setelah melihat respon baik yang didapat film sebelumnya, Detective Conan ke-19 pun mendapat jatah rilis di sini. Berjudul Sunflowers of Inferno atau Gouka no Himawari, misteri dan bahaya apa yang tersembunyi di balik indahnya bunga matahari ini?

Detective Conan: Sunflowers of Inferno Movie Review

Misteri dalam film kali ini dimulai ketika Kaito Kid menjadi tersangka pencurian sebuah replika lukisan antik karya Van Gogh yang bernama Sunflowers. Sebelumnya, dalam sebuah acara lelang, Jirokichi Suzuki yang memang dikenal sebagai seorang kaya raya sekaligus pecinta barang antik, menjebak Kid dengan cara menawar lukisan tersebut di harga tertinggi.

Namun, selain untuk menjebak sang rival bebuyutan, Suzuki memang berniat untuk mengumpulkan satu-satu peninggalan dari ketujuh lukisan bunga matahari yang ada di seluruh dunia. Gol utama Suzuki adalah memamerkan ketujuhnya dalam sebuah museum seni berkekuatan baja, Lake Rock Museum.

Sayangnya, usaha Suzuki ini selalu terhambat. Mulai dari sabotase mesin pesawat, ancaman sekaligus teka-teki dalam bentuk kartu milik Kid, hingga sabotase listrik yang mengakibatkan museum luluh lantak. Namun, apakah betul Kid adalah sosok dalang di balik semua kekacauan ini? Atau justru ada sosok lain yang diam-diam bersembunyi di belakang, melakukan kejahatannya tanpa terendus hidung siapapun?

Mencari Benang Merah di Antara Hamparan Bunga-bunga

Jujur saja, insting kami mulai bekerja ketika menyadari bahwa kartu yang disebar Kid justru adalah untuk memberi petunjuk siapa dalang sesungguhnya. Seperti yang Conan pikirkan, aksi pencurian macam ini dan objek lukisan yang tidak berhubungan dengan batu berharga, sungguh jauh dari gaya dan motif Kid. Namun, walau bukanlah Kid dalang di film ini, mencari titik terang tidaklah makin mudah. Sebaliknya, semakin sulit.

Sebenarnya, dengan mudah kami menebak bahwa kemungkinan besar salah satu dari 7 Samurai yang ditugaskan Suzuki menjaga lukisannya adalah si dalang. Namun ternyata memilih satu orang inilah yang sulit. Hingga pertengahan film, kami sendiri belum bisa memutuskan siapakah yang memiliki motif terkuat untuk mencuri replika lukisan Van Gogh itu.

Lebih jauh lagi, ternyata belakangan justru diketahui bahwa bukan replika itu yang dikejar, melainkan sebuah lukisan bunga matahari yang lain. Lukisan yang mana dan siapa adalah akhir yang kami tunggu dalam film berdurasi lebih dari 2 jam ini.

Detective Conan: Sunflowers of Inferno Movie Review

Motif yang Agak Dipaksakan

Menonton anime dengan arena pacuan waktu untuk berpikir, cuma Detective Conan yang bisa mewujudkannya. Dugaan kami pun terus melompat-lompat dari satu samurai ke Samurai lainnya. Bahkan saking penasarannya, kami sampai terpaku mengamati mimik wajah setiap karakter animasi ini, kalau-kalau ada salah satu yang membuat gerakan mencurigakan (walau memang kecil kemungkinan ini bisa terjadi  mengingat gaya animasi 2D Jepang yang memang kurang ekspresif).

Namun, lagi-lagi di sinilah kekuatan Conan. Ketimbang menonjolkan kekuatan visual, kekuatan cerita dan kehadiran twist-lah yang dijadikan senjata. Layer demi layer ditumpuk sedemikian rupa kemudian dibalur dengan fakta-fakta ilmiah mengenai lukisan langka serta sejarah dari lukisan Sunflowers, membuat kami pun harus bersabar menanti jawaban misteri ini di akhir durasi.

Hanya saja, sayang kami harus agak kecewa dengan motif si dalang yang terasa agak dipaksakan. Entah apa karena sudah habis ide setelah menebar benang-benang rumit di sepanjang alur cerita, poin menarik yang harusnya menjadi alasan segala kekacauan ini terjadi sedikit terabaikan.

Alih-alih konspirasi tingkat tinggi atau misi balas dendam, alasan si dalang (yang kami acungi jempol karena tidak terdeteksi radar kami) adalah karena rasa cintanya yang mendalam pada lukisan Sunflowers tersebut. Walau memang mungkin saja seseorang nekat melakukan kejahatan demi yang ia cintai,  namun dalam kasus Conan yang cukup rumit ini, alasan tersebut kurang cocok dan cenderung berlebihan.

Detective Conan: Sunflowers of Inferno Movie Review

Walau demikian, Detective Conan: Sunflowers of Inferno tetaplah tontonan wajib bagi para pecinta Conan di manapun mereka berada. Walau secara visual kami masih merasa terganggu dengan proporsi antara objek dan karakter yang ditampilkan (kami agak kesulitan komplain soal gangguan klasik yang satu ini), namun sequence adegan demi adegan yang cepat mampu menjaga tensi cerita dan mood kami sebagai penonton.

Tidak lupa, adegan reuni antara Ran dan Shinichi yang selalu dibalur dalam momen insidental kembali menjadi salah satu daya tarik utama, termasuk di film ini. Seperti apakah momen pertemuan mereka kali ini? Apakah akan dipenuhi bunga-bunga matahari atau justru klimaks menegangkan seperti biasanya? Yuk, cari tahu jawabannya dengan menonton filmnya sendiri di jaringan CGV blitz dan Cinemaxx seIndonesia.

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top