Connect with us
princessmononoke

Earthquake Movie Review: Providing No Room for Character Development and Critical Moment

Earthquake Movie Review
Karoprokat

REVIEWS

Earthquake Movie Review: Providing No Room for Character Development and Critical Moment

This review contains mild spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Featured film dengan kisah berdasarkan bencana alam nyata sepertinya jadi strategi yang kian ampuh bagi berbagai negara yang ingin gaungnya kedengaran hingga ke Hollywood. Earthquake adalah salah satu film tersebut, karena jika tidak, mungkin kami tidak ngeh dengan bencana gempa bumi yang memporakporandakan negara Armenia pada tahun 1988 silam. Lebih jauh lagi, disaster movie, terlepas penggarapannya memuaskan atau tidak, selalu sukses selangkah lebih maju dalam hal menarik simpati sekaligus rasa ingin tahu para penonton.

Dan sambil menggambarkan kondisi bencana pada saat itu, seperti disaster movie lainnya, Earthquake juga menyuntikkan elemen drama dengan strategi multi subplot namun dengan proses pembentukan benang merah seiring film berjalan. Bahwa ada beberapa korban terpilih yang latar belakangnya disorot atau diberi jalan cerita khusus guna mendramatisasi bencana yang sudah tragis itu. Mulai dari seorang ayah yang kehilangan istri dan anaknya, seorang istri mengandung yang kehilangan suaminya, hingga seorang pemuda yang bersikukuh menyelamatkan seorang gadis yang sama sekali tak dikenalnya.

Dalam sebuah bencana alam skala besar, isak tangis dan ratapan kehilangan menyebar luas dan tak terbendung, menyalurkan rasa simpati luar biasa, tak terkecuali bencana gempa bumi yang dijuluki Gempa Bumi Spitak ini. Pemandangan manusia tertimpa beton lebar dan tumpukan batu-bata nyaris terlihat sepanjang durasi. Pemandangan para penyintas yang menangisi teman dan keluarga yang mereka kasihi juga semakin membuat pilu hati kami yang menonton. Namun apakah Earthquake sebatas me-reka ulang dokumentasi visual ini?

Earthquake Movie Review

Krisis Pengembangan Karakter

Sayang, jalan cerita dari setiap karakter korban yang disorot di sini, tidak digali dalam. Seorang ayah yang baru berkesempatan pulang ke keluarganya setelah 8 tahun di penjara, harus menerima kenyataan bahwa istri anaknya menghilang pasca gempa. Namun, alih-alih mencari ke sana kemari seyogyanya seorang ayah yang putus asa, Konstantin Berezhnoy (Konstantin Lavronenko) tampil tenang, percaya bahwa keluarganya baik-baik saja. Dan ketika akhirnya terkuak bahwa fakta yang terjadi tidak demikian, kami menyayangkan usaha pencarian Konstantin yang kurang cepat,  membiarkan segalanya jadi terlambat.

Backstory Konstantin dengan seorang pemuda bernama Robert (Victor Stepanyan) juga tidak dimanfaatkan maksimal sebagai elemen emosional dalam adegan klimaks keduanya. Kedua karakter yang sempat bertalian darah di masa lalu ini kami nilai tidak dikembangkan, membuat backstory yang sengaja dibangun sebagai subplot utama film ini terasa sia-sia. Subplot Robert dengan seorang gadis (Lilit) yang tertimpa beton dengan potensi romansa juga minim chemistry.

Bisa dibilang aspek drama Earthquake selamat berkat aksi heroik seorang suami yang terpaksa meninggalkan istrinya demi menyelamatkan seorang bocah serta sikap keras kepala seorang ayah yang tak mau akur dengan putri dan menantunya. Menariknya, kedua subplot yang ternyata diplot dalam sebuah keluarga besar inti ini, disadari atau tidak, adalah yang diberi intensitas paling tinggi, bahkan menjadi bagian penting dalam adegan penutup yang cukup mengharukan itu.

Krisis Momen Kritis

Tak seperti disaster movie lain yang biasanya menampilkan beberapa periode sebelum bencana terjadi sekaligus memberi pemahaman kepada penonton mengenai bencana yang akan terjadi, Earthquake total menghilangkan basa-basi ini. Entah dianggap tak perlu atau untuk mengurangi durasi, kami nilai keputusan ini tidak bijaksana mengingat film bertema bencana kental dengan wacana kondisi alam di lapangan. Momen detik-detik sebelum bencana juga merupakan momen andalan untuk menguras emosi.

Melihat nyaris seluruh bangunan dengan cepat runtuh, terlepas apakah ini bagian dari basa-basi di atas atau tidak, secara nalar kami pun mempertanyakan apakah kontruksi bangunan di Armenia yang digambarkan nyaris dibangun dari beton dan batu bata itu sedemikian rapuhnya? Ataukah penggambaran runtuhnya bangunan ini hanya bagian dari strategi dramatisasi semata?

Karena penasaran sehingga mencari tahu dari berbagai sumber, untungnya asumsi pertama kami yang jadi kenyataan. Ternyata permainan kotor para kontraktor di lapangan sudah berlangsung lama di Armenia. Adukan semen dan pasir yang tidak sesuai standar hingga pengurangan kekuatan beton menjadi beberapa alasan utama runtuhnya bangunan-bangunan itu dengan begitu cepatnya. Gempanya sendiri berkekuatan 6.8 SR dengan durasi tak lebih dari 20 detik. Paling tidak, dramatisasi ini tak asal digarap.


Director: Sarik Andreasyan

Cast: Konstantin Lavronenko, Victor Stepanyan, Mariya Mironova

Duration: 101 mins


Leave Comments Below
Continue Reading

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top