Connect with us
princessmononoke

Fantastic Beasts and Where to Find Them Movie Review: Proving That Hogwarts Is Not the Only Place to Explore the Best of Wizardry

Fantastic Beasts and Where to Find Them Review
Warner Bros. Pictures

REVIEWS

Fantastic Beasts and Where to Find Them Movie Review: Proving That Hogwarts Is Not the Only Place to Explore the Best of Wizardry

This review may contain mild spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Walau judulnya gamblang, tetap ada subplot yang disuntikkan guna meramaikan konflik utama dalam franchise sihir baru milik J.K Rowling satu ini. Penemuan menariknya adalah bahwa subplot ini ternyata bukan sekedar tambahan melainkan petunjuk untuk membuka layer demi layer sebuah misteri yang menanti di belakang itu. Namun sayang, bagi MuviBlaster yang terlanjur berharap, subplot yang kami maksud tak sedikitpun melibatkan si Harry Potter karena Fantastic Beasts and Where to Find Them berasal dari generasi yang berbeda, generasi jauh sebelum Potter lahir. Dan jika konflik utama yang Anda harapkan adalah masalah seorang penyihir yang belum menguasai bakatnya, siap-siap menghadapi sebaliknya; sekumpulan hewan ajaib yang hidup akur dalam sebuah kebun raksasa yang disamarkan dalam bentuk sebuah koper usang. Lho, lalu apa masalahnya?

Masalahnya, banyak dari hewan ajaib yang secara sengaja maupun tak sengaja keluar dari koper tersebut. Alhasil, sang pemilik, Newt Scamander (Eddie Redmayne), dibuat kerepotan. Mencari dan menangkap satu per satu hewan tersebut sambil berkenalan satu per satu dengan karakter-karakter pendukung yang berperan penting dalam kesuksesan petualangannya di New York. Mulai dari menjalin pertemanan dengan seorang Nomaj (baca: sebutan manusia selain Muggle) hingga berselisih dengan seorang detektif penyihir cantik, Porpentina Goldstein (Katherine Waterston). Lalu apakah sepanjang durasi kami disuguhi drama Newt dengan para New Yorker serta aksinya mengejar-ngejar hewan yang kabur itu?

Soal yang pertama, walau tidak menghabiskan seluruh durasi, kami menilai hubungan antar Newt dan karakter-karakter di sekelilingnya, disorot lamban. Sedangkan soal yang kedua, walau sepanjang durasi menampilkan para hewan ajaib beraksi, aksi mereka diplot sambung-menyambung seru menuju sebuah benang merah yang efektif mengubah persepsi kami tentang para hewan ini.

Beda Segmen

Walau ditulis oleh sosok dan dalam dunia sihir yang sama, kami menilai Fantastic Beasts and Where to Find Them memiliki segmen yang berbeda dari kedelapan film Harry Potter. Bukan lagi intrik seorang remaja yang kaget dengan bakat sihirnya namun lebih kepada intrik seorang dewasa yang bertanggung jawab pada profesinya.

Adalah seorang ahli satwa magis, Newt memang ahlinya menangani setiap hewan dalam kopernya itu, baik secara fisik maupun mental. Lebih jauh lagi, mirip hubungan antar manusia yang unik dan kompleks, Newt juga menjalin hubungan yang unik dengan masing-masing hewan tersebut, membuatnya bak seekor induk universal. Dan menyaksikan Newt menjalankan peran gandanya; seorang ahli sekaligus pengasih, bagi para hewan ini, adalah momen yang sukses membuat kami menjadi penonton dengan pendewasaan diri. Poin-poin inilah yang membuat kami menonton tanpa harus harap-harap cemas klimaksnya tak menampilkan sesuatu yang wow secara teknis.

Faktanya, technically, film ini menampilkan detail yang wow. Seakan tak ingin membuat penonton kecewa, sederet tampilan memukau; mulai dari visualisasi berbagai ide sihir yang absen di Hogwarts hingga desain setting kota New York klasik yang indah, memenuhi dan menjadi latar belakang kisah Newt dan kawan-kawan. Dan walau tak memiliki kastil Hogwarts atau Peron 3/4 yang menjadi signature landmark, film garapan David Yates (Harry Potter and the Deathly Hallows, Fury) ini memiliki begitu banyak varian hewan yang masing-masing ditampilkan dengan detail berefek visual unik.

Fantastic Beasts and Where to Find Them Review

Kikuk Namun Cocok

Jujur saja, kami melihat kualitas akting Redmayne di sini turun kelas. Namun hal ini kemudian kami rasa wajar karena karakternya memang sepertinya diplot seorang British gentleman yang tak banyak omong. Cenderung kikuk dan terbata-bata saat bicara, Newt milik Redmayne terlihat sebagai seorang jenius kutu buku yang tak pandai bergaul. Jika memang demikian karakter yang seyogyanya ditampilkan, kami nilai Redmayne berhasil.

Awalnya kami juga kurang simpati pada Waterston yang memainkan Goldstein. Gerak-geriknya tidak meyakinkan dan cenderung merugikan Newt, sosok Goldstein otomatis jadi sungguh menyebalkan. Lain halnya dengan Alison Sudol yang kebagian peran sebagai adik Goldstein yang berbakat baca pikiran, Sudol tampil atraktif dan luwes, membuat sosoknya begitu menyegarkan tiap kali tersorot di layar.

Sosok Nomaj bernama Jacob Kowalski (Dan Fogler) juga begitu, bahkan selalu, menyenangkan untuk dilihat. Bertubuh tambun namun dengan pribadi yang polos, ia menjelma jadi sosok sidekick yang sempurna untuk Newt. Lebih jauh lagi, saking menyenangkannya karakter Kowalski ini, ia diberi slot interaksi cukup banyak dengan binatang-binatang milik Newt, memberi lebih banyak sentuhan humanis yang sebelumnya tidak banyak ditampilkan di Harry Potter.

Fantastic Beasts and Where to Find Them dan Harry Potter ibarat sebuah resep menu dengan jenis bumbu dasar sama namun dimasak dengan teknik dan formula yang berbeda. Rasanya memang tak mungkin sama namun masihlah lezat, bahkan mungkin meninggalkan kesan yang berbeda di lidah. Dan layaknya sebuah menu lezat, siapapun yang memakan pasti ketagihan. Pertanyaannya, ketagihan hingga lidah bosan atau justru ketagihan hingga rasanya sulit dilupakan pikiran? Khusus ini, hanya sebuah sekuel yang bisa menjawab.


Director: David Yates

Cast: Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Colin Farrell, Alison Sudol, Ron Perlman

Duration: 135 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top