Connect with us
thorragnarok

Fantastic Four Movie Review: A Reboot Which Desperately Requires Another Reboot

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies

REVIEWS

Fantastic Four Movie Review: A Reboot Which Desperately Requires Another Reboot

Overall Rating: 2.5 Stars

Tidak ada yang lebih tidak menyenangkan selain harus mengulas sebuah film dengan gaung box office besar (dan sudah dikenal baik pula) namun dengan hasil buruk. Sungguh tidak fantastis rasanya.

Setelah menyaksikan hasil reboot Fantastic Four yang ditangani oleh sutradara yang menyita perhatian dengan karya indie cemerlangnya, Chronicle (2012), Josh Trank, sekarang kami mengerti mengapa ia akhirnya memutuskan hengkang dari sebuah proyek spin off dari induk sebesar Star Wars.

Well … bukannya Trank tidak mampu menggarap proyek besar ambisius, namun kami lebih melihat hasil sekaligus mendengar kabar bahwa Trank secara mental belum siap sehingga sebagai dampak, kreativitasnya itu malah terkekang oleh pihak-pihak yang control freak.

Tapi bukan berarti kami membela Trank, karena hasil reboot ini kami nilai amat jauh dari kata memuaskan. Sekali lagi, amat jauh. Saking jauhnya, setelah adegan penutup (di mana Reed Richards memberi petunjuk apa nama yang tepat untuk grup superhero pimpinannya itu) ditutup dengan logo Fantastic Four, kemudian diikuti dengan credit scene untuk sang sutradara (baca: Josh Trank), kami hanya bisa membelalakkan mata sambil menundukkan kepala malu. Really, Trank? Where’s that Chronicle spirit, dude?

Selanjutnya, kami tak sanggup melihat credit scene lebih jauh lagi karena rasa simpati terbesar kami justru adalah untuk Miles Teller. Walau ia tetaplah Teller yang kami kagumi dalam Rabbit Hole (2010), Spectacular Now (2013), bahkan ketika ia jadi si menyebalkan Peter dalam franchise Divergent, dan terutama si jazz drummer berbakat dalam Whiplash (2014), Fantastic Four jelas sebuah cambuk yang sebenarnya tidak perlu melecut dirinya. Teller has been sent to a wrong planet.

Fantastic Four Movie Review

Dan rasanya 3 paragraf di atas sudah cukup menggambarkan bagaimana kecewanya kami pada reboot ini sekaligus alasan kami mengulur ulasan film yang satu ini. Semua elemen seakan tidak pada tempatnya. Tidak pas, terlalu cepat, terlalu lambat, sehingga kami tak bisa mengikuti karya visual satu ini dengan nikmat.

Yang paling mengganggu kami adalah dinamika dalam reboot ini yang terlalu lambat sehingga terkesan bermain aman. Di mana alur cepat yang biasanya ada dalam formula superhero dan seringkali dipakai untuk mengejar durasi? Mana semangat berkobar yang seharusnya dinyalakan Trank untuk proyek besar pertamanya ini? Apakah memang reboot ini sengaja untuk menarasikan kisah keempat superhero fantastik ini bak dongeng sebelum tidur?

Reboot yang Salah Fokus

Kami tidak menyalahkan adanya sejarah atau latar belakang yang diceritakan kembali di reboot ini. Namun, jika hal ini yang melulu menjadi fokus utamanya, tentu akan menciptakan masalah. Terlalu bertele-tele menceritakan proses bagaimana Fantastic Four menjadi para sosok yang fantastic, otomatis menghilangkan greget konflik keempatnya dengan si villain. Yes! Finally, now we’re talking about villain.

Karena buktinya, Dr. Doom yang seharusnya bengis  itu tidak memberi kesan demikian. Doom seakan hadir menjadi pengganggu yang tak penting, and the worst, cukup mudah dienyahkan. Adegan percakapan antara Richards dan Doom di bagian klimaks pun terdengar konyol karena memberi indikasi bahwa siapa yang menang di antara mereka pastilah yang lebih pintar (baca: bukan yang lebih kuat). Kalau memang begitu, sejak Richards menemukan desain mesin teleport yang ideal di pekan ilmiah kampusnya, Richards sebenarnya sudah jadi pemenang. Right?

Fantastic Four Movie Review

Walau kami menyayangkan bakat-bakat yang tidak dimaksimalkan, namun kami pun tak berani membayangkan reboot ini tanpa dukungan mereka, terutama Teller. Teller sudah memberikan penampilan terbaiknya, signature style-nya yang menghibur, serta membangun hubungan antara karakternya dengan karakter lainnya. Telinga kami pun tak akan kaget kalau tersiar berita betapa kesalnya Teller dengan Trank, apalagi setelah melihat hasil box office yang flop, setelah segala upaya yang sudah dilakukan Teller untuk “memimpin” grup superhero beresiko tinggi ini.

Setiap karakter sebenarnya diberi porsi berimbang, termasuk The Thing yang mungkin masih malu-malu menampakkan wajah batunya di layar. Namun, kesalahan kedua yang terjadi adalah setiap karakter ini kurang diberi akses untuk mengakses karakter lainnya secara emosional. Hanya ada momen Reed yang peduli pada nasib Ben dan Sue yang peduli pada nasib Johnny. Momen lainnya hanya terjadi begitu saja dan ditinggal begitu saja pula tanpa ada arti.

Tidak ada yang peduli pada nasib Victor pasca kejadian di Planet Zero. Tidak ada yang penasaran untuk mencarinya. Tidak ada yang mau tahu materi apa yang sebenarnya ada di planet tersebut. Yang kami tahu hanyalah Victor secara tidak sengaja dibawa pulang ke bumi dan akhirnya mengacau. Zero explanation.

Desperately Requires Another Reboot

Jika Anda mungkin bertanya-tanya ke mana hilangnya paragraf sinopsis yang biasanya kami sisipkan dalam sebuah ulasan? Jawabannya sudah jelas. Keseluruhan film ini sudah mirip sinopsis itu. Tidak ada spoiler yang bisa kami bocorkan. Tidak ada hal menarik yang bisa kami sembunyikan agar Anda penasaran.

Kalaupun ada, adalah beberapa detail yang berbeda dari film Fantastic Four sebelumnya namun sebenarnya mengacu pada komik Fantastic Four yang bertajuk The Ultimate. Sesuai dengan kisah The Ultimate, Reed, Sue, Johnny, Ben, dan Victor masihlah muda. Mereka masih dalam proses mengemban ilmu dan belum menekuni sebuah profesi sungguhan. Mereka terlibat dalam sebuah proyek besar dan tersandung masalah teknis.

Sehingga tidak heran kalau di beberapa adegan penting; saat Richards kabur karena takut ditangkap dan “digunakan” oleh pemerintah dan ketika Sue diminta ayahnya menemukan keberadaan Richards, Dr. Franklin Storm berujar bahwa mereka masih anak-anak dan wajar saja mereka merasa ketakutan (seperti Reed dan Ben) atau merasa senang berlebihan (seperti Johnny).

Sialnya, alih-alih kami maklum dengan reaksi anak-anak ini, ujaran Dr. Storm justru membuat reaksi mereka terasa dibuat-buat. Mengapa? Karena tolerasi Dr. Storm sungguh tidak relevan mengingat keseluruhan insiden yang terjadi di reboot ini disebabkan oleh tingkah labil trio anak muda karena mabuk minuman keras. They’re still kids so we can just tolerate everything they did? Everything?

Kesimpulannya. Terlepas dari cukup banyaknya bintang muda berbakat yang ditabur di sini, sayangnya hasil panen yang dituai tidak sesuai. Lagi-lagi, hasil reboot ini semakin menguatkan opini kami bahwa ensemble cast sebaik apapun, ditambah dengan sutradara mumpuni, tidak menjamin suksesnya sebuah film. Kerjasama tim dan feedback yang positif haruslah hadir di tengah-tengah proses agar hasil yang dicapai bisa paling tidak mendekati maksimal.

Namun, kalau sudah begini, alih-alih potensi sekuel, proyek reboot ini justru lebih membutuhkan sebuah proyek reboot baru lainnya. Sayang, kami lupa mengecek apakah Reed merancang tombol reset di mesinnya. Kalau Anda ada yang sempat memperhatikan, tolong infokan kami segera.

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top