Connect with us
babydriver

Fatal Frame : The Movie : Too Much Drama Sinks the Horror Lies Beneath

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies

REVIEWS

Fatal Frame : The Movie : Too Much Drama Sinks the Horror Lies Beneath

Overall Rating : 3.5 Stars

Walau sudah laku keras dan didaulat sebagai salah satu yang terseram sepanjang masa, video game ber-genre horror ini tetap mencoba peruntungannya lewat format film. Alih-alih setia dengan salah satu plot di video game-nya, film ini justru menghadirkan kisah baru, membuat penonton yang awam memainkan, harus menahan dulu spekulasinya selama film masih berjalan.

Kisah di film ini terinspirasi dari novel Fatal Frame berjudul A Curse Affecting Only Girls karya Eiji Otsuka. Maklum saja jika MuviBlaster pemain video game-nya kurang familiar. Novel ini memang baru-baru dirilis secara terbatas di Jepang pada bulan Agustus 2014 lalu.

Terlepas dari kisah apapun yang dihadirkan di film ini, video game-nya sendiri sukses besar karena mampu memberikan fear experience yang tinggi kepada pemainnya. Naluri menyelamatkan diri ketika berhadapan face-to-face dengan para hantu serta berbagai ritual okultisme, seakan sudah merasuk dan membekas, sesuatu yang sulit dilupakan walau permainan telah usai.

Tidak lupa, sesuai judulnya, permainan ini memang lekat dengan dunia fotografi. Sebuah kamera khas yang digunakan sebagai senjata, Camera Obscura, lengkap dengan berbagai teknik pemotretan sebagai jurus untuk mematikan para makhluk astral tersebut; termasuk Fatal Frame dan Shutter Chance.

Tidak heran, jika berbagai hal yang kami sebutkan di atas menjadi alasan mengapa Fatal Frame : The Movie banyak dinanti. Namun, walau demikian, setelah mengetahui sekilas plot novel karya Eiji Otsuko tersebut, kami sempat khawatir. Film ini jelaslah sebuah langkah berani sekaligus resiko tinggi yang harus diemban oleh sang sutradara, Mari Asato.

fatalframe1

Asato, sineas dengan jam terbang tinggi di genre ini, bertugas mempiloti kisah para murid di asrama sebuah sekolah wanita, yang dihantui kejadian gaib. Konon, ada seorang gadis cantik nan populer di sekolah itu bernama Aya Tsukimori (Nakajo Ayami) yang tewas secara tragis, dan entah mengapa, hingga kini, siapapun yang melihat foto Aya akan meninggal.

Awalnya, para murid menghilang secara misterius setelah mereka mendengar foto Aya yang dihantui pemiliknya. Melalui fotonya tersebut, Aya ternyata tengah memanggil para murid lain agar dapat membantu melepas kutukan seram yang melekat pada dirinya.

Melihat keganjilan dari kejadian ini, salah seorang murid yang menyukai fotografi bernama Michi Kazato (Morikawa Aoi) pun berinisiatif untuk menyelidiki misteri tersebut. Namun, ketika Michi sedang “asyik” menyelidiki, secara tiba-tiba Aya muncul di hadapannya. Sontak, penyelidikan Michi pun akhirnya berubah menjadi sebuah pengalaman yang sangat mengerikan.

Unsur Drama yang Terlalu Kental

Jujur saja, kami yakin sebagian besar penggemar video game-nya merasa kurang puas. Minimnya rasa mencekam di film ini (jika dibandingkan dengan apa yang biasa mereka mainkan) kami asumsikan sebagai tanda bahwa Asato mengalami kesulitan membangun ketegangan dari kisah novel Otsuka, yang tampaknya menampilkan too much dramaToo much drama inilah yang gagal membuat bulu kuduk kami merinding karena fokus kami jadi terpusat pada tragedi Aya, si gadis yang mengalami kutukan tragis. Alih-alih takut, kami malah merasa prihatin.

Catatan lainnya. Walau sempat dibuat penasaran dengan oleh beberapa adegan detail yang berpotensi menakutkan, namun ketegangan itu hanya sekedar merayap dan kerap lolos mencengkram rasa takut kami. Niat Asato untuk menciptakan pace lambat perlahan untuk mengejutkan menakuti, malah membuat kami “kabur”, karena bentrok dengan unsur drama, baik jalinan cerita maupun pengembangan karakter, yang sudah terlalu banyak menyita perhatian kami.

Nuansa Klasik, Si Penyelamat

Terlepas dari krisis genre yang kami rasakan, whether it’s more into horror or drama, paling tidak kami cukup menikmati, bahkan terbuai oleh nuansa klasik yang ditampilkan. Berbagai atribut klasik dihadirkan satu per satu, membuat poin fantasi film ini kian tinggi. Ya … paling tidak, aspek inilah yang dapat kami puji dari seorang Asato. Pengarahannya yang cukup detail untuk menerjemahkan drama seorang Aya dari novel Otsuka adalah kelebihan yang kami nilai mampu menutupi rasa horor yang minim tersebut.

Mulai dari desain seragam sekolah layaknya seorang “suster” muda, gaya arsitektur asrama yang serba klasik, hingga penampakan lukisan legendaris Ophelia karya John Everett Millais (1852) dan puisi Ophelia karya Shakespeare yang dinyanyikan di adegan upacara kelulusan.

Peran Ophellia

Kehadiran lukisan dan lagu di atas bukanlah tanpa alasan. Dalam novel Fatal Frame karangan Otsuka, puisi Ophelia’s Song memang memegang peranan yang sangat penting. Terinspirasi dari kisah Ophelia yang “menggila” pasca Hamlet membunuh ayahnya, karakter serta kisah Ophelia ini pun digunakan Otsuka sebagai simbol kematian para murid wanita dalam novelnya, termasuk Aya.

Selain simbolisasi, adegan seorang murid wanita mengambang di atas air layaknya Ophelia, turut diceritakan Otsuka dan diperlihatkan Asato, membuat film ini (kembali) terlihat makin dramatis. Tidak lupa, melengkapi berbagai elemen klasik ini adalah sebuah twist di bagian klimaks terkait misteri kutukan tersebut, yang (lagi-lagi) terinspirasi dari puisi Ophelia’s Song. Apakah twist yang kami maksud ini?

ophelia

Fatalframe2

Bintang-Bintang Muda Cantik Bertaburan

Salah satu alasan mengapa film ini tetap akan laris manis adalah penampilan para bintang muda cantik seperti Nakajo Ayami dan Morikawa Aoi. Walau terbilang masih baru mendalami industri ini, namun keduanya mampu menampilkan kualitas akting dan chemistry cukup baik.

Adegan demi adegan membuat kami percaya jika mereka adalah saudara dalam kehidupan nyata. Lebih jauh lagi, adegan keduanya berciuman bak pasangan lesbian, juga membuat kami yakin jika hubungan keduanya begitu akrab. Tidak ketinggalan, wajah Ayami dan Aoi juga sekilas mengingatkan kami pada wajah-wajah para anggota group idol AKB 48 dan JKT 48, sebuah poin tambahan yang membuat para penonton pria dipastikan akan mengantri.

tumblr_nahnjhhutj1r6ahxio1_500

Walau mungkin para penikmat video game-nya akan merasakan Fatal Frame : The Movie melakukan kesalahan fatal karena tidak menghadirkan nuansa horor sesuai ekspektasi mereka, di sisi lain, mungkin para penikmat awam akan menilai film ini menawarkan sesuatu yang berbeda.

Secara garis besar, Fatal Frame : The Movie bukanlah film adaptasi yang sempurna. Ada hal-hal baru yang perlu dicermati sebelum memberi judgement. Saran kami adalah me-reset mindset Anda dan cobalah melihat bahwa dalam sebuah kisah tragis, bukan hanya terdapat rasa duka dan simpati yang mendalam, namun juga sebuah rasa horor yang dapat “bangun” dan meneror kapan saja.

Yang mana yang paling membekas di benak Anda, buktikan sendiri dengan menonton filmnya yang sedang tayang di jaringan blitzmegaplex dan Platinum Cineplex seIndonesia.

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

PLAYING NOW

thorragnarok

To Top