Connect with us
princessmononoke

Headshot Movie Review: Weak Dialogue, Cliche Plot, but With Rare Balance of Action and Drama

Headshot Movie Review
Infinite Frameworks Studios

REVIEWS

Headshot Movie Review: Weak Dialogue, Cliche Plot, but With Rare Balance of Action and Drama

This review contains mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Walau ada beberapa elemen klise bertebaran sana-sini, kami berhasil menemukan 3 poin yang membuat Headshot tetap terlihat menarik; 1) plot patriarki kanibal yang digawangi aktor asal Singapura, Sunny Pang (My Magic, Petaling Street Warriors), 2) keseimbangan elemen drama dan laga, dan tentunya 3) adegan laga vulgar alias bersimbah darah yang aspek teknis dan visualnya digarap cukup maksimal. Ya … walau Headshot besutan Mo Brothers (Rumah Dara, Killers) ini sarat dengan adegan kekerasan, tetap ada konten drama cukup menyentuh yang berkembang seiring film berjalan dan menjadi penyeimbang, jika bukan sebuah pondasi kuat, bagi seluruh peluru konflik yang ditembakkan.

Walau dengan plot utama fokus pada sosok Ishmael (Iko Uwais) yang hilang ingatan dan nasibnya selalu hidup dalam pengejaran, Ishmael tak mudah disamakan dengan Jason Bourne atau Aaron Cross. Dunia Ishmael tidaklah canggih dan ia juga tipe petarung dengan intelijensi tinggi. Dirinya selamat karena fisik yang kuat dan ilmu bela diri pencak silat mumpuni. Ya … Ishmael tipe petarung tangan kosong jarak dekat, yang menggunakan senjata jika ketika terpaksa dan ada kesempatan saja.

Lebih jauh lagi, tak seperti karakter pejantan lain, Ishmael tak memiliki sidekick. Ia selalu tampil solo, baik itu dalam konteks one-on-one atau dikeroyok sekalipun. Hebatnya, keselamatan demi keselamatan Ishmael ini diarahkan nyaris tanpa kejanggalan, karena berbeda dengan John McClane-nya Die Hard yang tetap saja hidup walau tubuhnya sudah babak belur, Ishmael memiliki ilmu tenaga dalam yang membuat keselamatannya nampak wajar. Tinggal pertanyaannya, bagi Anda yang sesak menonton film aksi vulgar seperti ini, “Kapan penyiksaan visual yang megah ini akan berakhir?

Headshot Movie Review

Tak Rugi Menonton

Yang dapat kami pastikan, durasi 2 jam yang Anda habiskan untuk menonton Headshot tak akan sia-sia. Mata Anda akan dibuat ngeri, mulut Anda akan dibuat menganga, dan jantung Anda akan dibuat berdebar-debar dengan banyak adegan pembantaian dengan teknik tak lazim, jika tak bisa disebut kreatif. Pasalnya, pasca keberadaan Ishmael di RS berhasil terendus, musuh-musuh Ishmael satu per satu berdatangan. Seakan masing-masing memiliki dendam pribadi, sebanyak masing-masing ini pula Ishmael harus melayani. Dan hanya dengan jalan menghadapi teror dendam inilah, memori Ishmael akan siapa dirinya perlahan muncul.

Untuk mengimbangi adegan laga di atas, disuntikkanlah drama keluarga dan romansa yang membuat sosok Ishmael tak melulu klise. Tak ingat nama maupun masa lalunya, Ishmael mencoba memulai lembar kehidupan baru dengan seorang dokter cantik bernama Ailin (Chelsea Islan). Walau di awal interaksi keduanya terasa amat kikuk, seperti sedang membaca teks dari naskah, lambat laun keduanya memberikan body language (baca: bukan chemistry) yang cukup meyakinkan. Karena, belum sempat chemistry itu terbentuk, keduanya harus terpisah. Tapi jangan kira bahwa perpisahan ini adalah hubungan jarak jauh alias LDR yang akhirnya membuat Headshot mendadak berubah baper. Sebaliknya, perpisahan ini dimanfaatkan untuk mengembangkan konflik baru, yang walau sebenarnya (lagi-lagi) klise namun berhasil diarahkan tampil menggigit.

Film Tak Banyak Bicara

Sempat kami indikasikan di atas betapa pentingnya sosok Ishmael dan Ailin memberikan body language yang meyakinkan. Pasalnya, Headshot termasuk film minim dialog yang tentunya berimbas pada pengembangan setiap karakternya. Masalahnya, dialog yang diucapkan tergolong standar dan dengan intonasi ragu-ragu, terutama Uwais yang walau tampil memukau namun masih terbelenggu dalam zona peran one-dimensional.

Islan, walau tampil as always, cantik dan cerdas, bukan penyeimbang yang pas untuk Uwais. Chemistry-nya dengan Uwais tidak terbangun dan dialognya dengan Uwais juga terdengar kurang mantap. Untung saja kekuatan sosok Ailin ini ditopang oleh sebuah plot, bahwa Ailin milik Islan diplot menjadi sosok penyelamat bagi Ishmael di manapun ia berada, menciptakan hakekat tak terpisahkan bagi kedua karakter pasangan sejoli ini.

Kurang begitu sukses menggarap drama romansa, tak demikian dengan drama keluarga. Walau hanya diberi sebuah slot singkat dengan Julie Estelle (Rika), adegan antara Ishmael dan mantan saudarinya itu digarap cukup emosional. 2 karakter yang akhirnya beda kubu ini diberi waktu cukup untuk membela keyakinan masing-masing soal baik dan jahat. Menariknya lagi, chemistry Uwais – Estelle sebagai lovers dalam slot di atas terasa lebih kuat ketimbang Uwais-Islan. Pertanyaannya, apakah sungguh Rika hanya sebatas saudari bagi Ishmael?

Last but not least, adegan pertarungan maut antara Ishmael dan Lee (Pang) adalah yang paling banyak menguras energi dan emosi. Lebih vulgar dan lebih banyak tumpahan darah, pertarungan keduanya turut disisipi kontak batin yang membuat adegan ini terasa agak miris. Krisis kepercayaan, pencarian jati diri, dan dilema menyakiti orang yang pernah dikasihi, bagaimana Ishmael bisa mengatasi isu-isu ini di kala tak ada bisa memberinya jawaban melainkan hantaman maut, lontaran benda tajam, dan tembakan senapan api? Walau ujung-ujungnya jawaban yang diberikan tidaklah sempurna, sekali lagi, Headshot membuktikan bahwa genre laga adalah celah bagi film Indonesia untuk semakin unjuk gigi di kancah perfilman dunia.


Director: Mo Brothers

Cast: Iko Uwais, Sunny Pang, Chelsea Islan, Julie Estelle

Duration: 117 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top