Connect with us
princessmononoke

In Order of Disappearance Movie Review: The Killing Chop Is Serious and the Cold Comedy Hardly Freezes to Death

In Order of Disappearance Movie Review

REVIEWS

In Order of Disappearance Movie Review: The Killing Chop Is Serious and the Cold Comedy Hardly Freezes to Death

This review may contain mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Menjadi tua bukanlah hal yang buruk, terutama bagi seorang aktor. Tetap bisa menjadi jagoan bahkan diberi peran sekaligus motif tambahan; orang tua yang mendendam karena anaknya diculik seperti Liam Neeson dalam film produksi Perancis, Taken Trilogy (2008-2015) atau anaknya dibunuh seperti Stellan Skargard dalam film produksi Norwegia, In Order of Disappearance(2014).

Karena bukan hanya ibarat padi, pribadi mereka semakin merunduk, kualitas akting yang diperlihatkan juga semakin matang secara alami. Tak takut terlihat lamban karena dengan strategi matang dan langkah-langkah pasti, setiap lawan pasti bisa dibekuk. Namun, berbeda dengan Neeson yang diplot sebagai seorang mantan agen CIA yang masih memiliki kelincahan masa mudanya, Skarsgard justru diplot sebagai seorang ayah berumur yang sehari-hari bekerja sebagai operator mesin pembersih salju dan baru saja mendapat penghargaan warga kota terbaik.

Dan jangan kira kalau yang menjadi putra Skarsgard adalah si Alexander yang bertubuh kekar itu. Putra Nils Dickman (Skarsgard) justru masih remaja dan tak bisa melawan ketika ia dibuat tewas overdosis oleh kelompok narkoba pimpinan Greven (Pål Sverre Valheim Hagen). Singkat cerita, putra Nils yang tak bersalah menjadi korban yang tak ada pertanggungjawabannya. Kepolisian setempat meyakini bahwa putra Nils adalah pengguna, membuat nama baik keluarganya tercemar dan perangai istri Nils berubah temperamental.

Nils pun sempat memutuskan bunuh diri kalau saja ia percaya kalau putranya benar-benar pengguna. Namun, ayah mana yang rela membiarkan tragedi setidak adil ini berlalu begitu saja? Dan demikianlah plot balas dendam dalam film besutan sutradara sekaligus sahabat karib Skarsgard, Hans Petter Moland, ini dimulai.

Aksi Membalas Dendam Nekat nan Unik

Kami akui aksi membalas dendam Nils sendirian ini termasuk nekat. Bermodal teknis senapan laras panjang dan nama keluarga yang berani; Dickman, ia mulai mengumpulkan nyali, dan sesuai judul filmnya, men-track satu persatu personil Greven, dan melenyapkan nyawa sekaligus keberadaan mereka.

In Order of Disappearance Movie Review

Namun, menariknya, aksi membalas dendam yang di atas kertas terasa menegangkan ini justru diterjemahkan dalam visual satir, melebur genre yang semula adalah thriller drama menjadi thriller comedy. MuviBlaster penggemar film-film Quention Tarantino (Pulp Fiction, Kill Bill, Inglorious Basterds), kemungkinan besar akan dengan mudah menyukai, kalau tidak membandingkan film ini.

Usai membunuh seorang personil Greven, Nils melakukan ritual pemakaman yang unik. Menggulung setiap mayat dalam kawat ayam panjang dan menceburkannya dari atas tebing air terjun. Tujuannya adalah ketika setiap gulungan terbawa arus air sungai yang deras, ikan-ikan dapat menggerogoti setiap mayat dengan aman. Tak hanya itu, MuviBlaster pun dapat melihat notifikasi R.I.P setiap personil yang dilengkapi nama lengkap, nama samaran, dan periode hidup masing-masing di dunia.

Pertanyaannya, setelah akhirnya Nils sukses membunuh 3 personil, kapan ia akan menarget si bos besar? Walau sudah ada niat kuat, apakah Nils akan naif menggunakan teknik membunuh yang sama pada Greven? Untungnya, Nils tidak bodoh. Ia tahu bahwa seorang jenderal dengan benteng pertahanan berlapis akan sulit dibunuh. Oleh karena itu, ia meminta bantuan pada sang kakak, yang merupakan mantan personil Greven. Namun, apakah semudah itu Greven dilumpuhkan?

In Order of Disappearance Movie Review

Diputar di Europe on Screen 2016

Tak heran kalau Skarsgard cocok memerankan Nils. Peran seorang ayah yang batinnya teraniaya membuat wajahnya tak banyak berekspresi. Cenderung datar; sekali-kali geram dan galau, Skarsgard tampil bak pembunuh berdarah dingin, walau sebenarnya Nils tak pernah membunuh seumur hidupnya.

Dan walau akhirnya Nils sudah pernah membunuh sekarang, nature-nya tak berubah. Buktinya, ketika ia akhirnya memutuskan untuk menculik putra Greven yang masih cilik dari sekolah, hati nuraninya masih terketuk. Penculikan inilah hanyalah sebuah peluru terakhir yang terpaksa Nils tembak untuk memancing Greven keluar. Namun, pertanyaan yang sekali lagi muncul, apakah semudah itu Greven dilumpuhkan? Atau bos berambut panjang itu justru makin menggila karena diteror oleh Nils yang ancamannya terasa namun sosoknya bagaikan hantu?

Well … memang ada faktor lain yang menyebabkan Greven akhirnya lumpuh di akhir cerita, selain Nils seorang. Sengaja tak ingin memberi spoiler di sini, silahkan MuviBlaster saksikan sendiri filmnya secara gratis di Europe on Screen 2016 yang sudah dimulai 29 April lalu. Bagi Anda yang sudah tak sabar, silahkan cek jadwal tayang dan venue In Order of Disappearance di sini. Selamat menonton!


Director: Hans Petter Moland

Cast: Stellan Skaarsgard, Pål Sverre Valheim Hagen, Bruno Ganz

Duration: 118 mins


[related_post themes=”flat”]

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top