Connect with us
princessmononoke

Kartini Movie Review: Engaging Without Being Heavily Smart and Inspiring Without Being Heavily Dramatic

Kartini Movie Review
Legacy Pictures

REVIEWS

Kartini Movie Review: Engaging Without Being Heavily Smart and Inspiring Without Being Heavily Dramatic

This review contains no spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Yang pasti, film besutan Hanung Bramantyo (Ayat-ayat Cinta, Hijab) ini berhasil membuat sosok Ibu Kita Kartini terlihat semakin menarik, walau dari sudut pandang yang disederhanakan. Pasalnya, alih-alih mengeksplor kompleks intelektualitas dalam otak Kartini, Bramantyo menyuntikkan elemen kodrat sebagai penyeimbang, jika tak bisa dikatakan peringan beban. Bahwa Kartini bernasib tak jauh beda dengan wanita lainnya pada jamannya; terkungkung dalam tradisi pingitan dan teraniaya oleh kebebasan poligami para suami mereka.

Kartini adalah definisi sebuah subjek dengan pikiran yang cerdas, kemauan yang kuat, dan tindak-tanduk yang bebas. Sayang saja, Kartini mendapat wujud seorang wanita dengan era hidup jauh sebelum modernisasi. Era Kartini tinggal sangatlah menjunjung tinggi tradisi bahwa wanita harus dipingit segera setelah periode menstruasi pertama mereka, tradisi yang membuat pikiran sekaligus batin Kartini sangat tersiksa. Namun jangan salah, film ini menggambarkan bahwa sejak kecil, Kartini memang sudah menunjukkan bakat dan sikap berbeda. Kartini bak lahir di era modern, namun faktanya tidak. Ia memilih memberi perlawanan ketimbang menyerah. Namun sampai kapan Kartini sanggup bertahan dengan pemikiran modern sebagai satu-satunya senjata?

Yang menarik mengenai film ini adalah sorotan mengenai Kartini bukan sekedar hubungan pemikirannya dengan literatur Belanda dan hobi menulisnya itu, namun juga hubungan Kartini dengan keluarganya, terutama dengan ayah dan kedua ibunya, serta dengan kedua adiknya, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita). Bahwa terlepas otaknya yang cerdas dan bakat alaminya, Kartini tetaplah seorang anak remaja yang butuh masa-masa bahagia sekaligus bimbingan mengenai jati diri. Bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar yang tak boleh sembarangan bertindak, walaupun tindakan Kartini dipercaya dapat membawa Jepara menuju kemajuan luar biasa pada jamannya.

Kartini Movie Review

Semakin menarik melihat tiga saudari di atas diperankan oleh para bintang yang umurnya sudah tak lagi remaja. Kami cukup menikmati akting Dian Sastrowardoyo (Kartini) yang mampu mengeluarkan aura kepolosan sekaligus kedewasaan tanpa terasa kikuk. Dialognya dalam bahasa Jawa dan Belanda secara bergantian juga terdengar meyakinkan, membuat kami tak heran jika Kartini menjadi idola para petinggi Belanda pada jamannya. Kartini milik Sastrowardoyo tahu bagaimana cara bernegosiasi sekaligus menarik perhatian, tanpa berlebihan.

Ayushita dan Septriasa juga mampu memberi penampilan yang baik, walau masih dibayang-bayangi penampilan sang kakak. Ada kalanya keduanya tampak canggung dan pasif, layaknya seorang adik. Ada kalanya mereka terbantu dengan penampilan sang kakak, membuat kekurangan yang muncul tidak sampai berlarut. Paling tidak, keduanya terlihat berusaha mengimbangi kakaknya sehingga chemistry ala Tiga Serangkai serta Daun Semanggi itu pun tercipta.

Kembali soal sorotan hubungan Kartini dengan subjek dan objek di sekitarnya. Hubungan Kartini dengan sang ayah, RM Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) dan ibu, Ngasirah (Christine Hakim) adalah favorit kami. Bahwa ternyata Kartini mendapat dukungan besar dari kedua orang tua, terlepas status keduanya yang begitu tercerai berainya. Bahwa terlepas Kartini terkesan egois dan liar, ia selalu menaruh hormat. Bahwa terlepas kedua orang tuanya tak pernah secara gamblang mengutarakan, Kartini sedang berjuang mewujudkan cita-cita mereka. Hasilnya?

Kartini menjadi bukti baru bahwa industri perfilman Indonesia berpotensi menjadi penggarap genre biopik yang baik di masa mendatang. Penggarapan Kartini tergolong cukup detail; mulai dari setting lokasi dan waktu hingga berbagai kebiasaan adat Jawa serta Belanda pada jaman tersebut. Slot timeline hidup seorang Kartini juga cukup banyak, memberi dinamika menarik untuk film berdurasi 119 menit ini. Nyaris kami tak menemukan satupun adegan tak bermakna, nyaris pula kami tak merasakan kebosanan terlepas kemasannya yang 100% drama. Kami pun sekarang jadi semakin menghormati sosok pahlawan wanita yang berjuang tanpa pakai kekerasan satu ini.


Director: Hanung Bramantyo

Cast: Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Christine Hakim, Nova Eliza, Reza Rahadian, Denny Sumargo

Duration: 119 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top