Connect with us
thorragnarok

Lupin III Movie Review: When It Comes to Big Screen, There Is No Such Easy Way to Steal

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies
Toho

REVIEWS

Lupin III Movie Review: When It Comes to Big Screen, There Is No Such Easy Way to Steal

This review contains no spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Sama halnya dengan mengadaptasi novel, bahkan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi, visualiasi nyata dari sebuah karakter dan kisah bergambar yang sudah dikenal luas, tidaklah semudah itu dibuat. Selain harus memilih cast yang tepat, jalinan ceritanya sebisa mungkin haruslah setia, dan memiliki ritme cerita yang berjalan beriringan dengan memori penonton yang sudah kenal dengan format pendahulunya.

Namun, apakah jika unsur-unsur di atas sudah terpenuhi dengan baik, maka jaminan sebuah film live-action yang baik sudah bisa didapat? Tampaknya jaminan ini tidak berlaku untuk Lupin the Third (Lupin III) yang dibesut oleh Ryuhei Kitamura (Midnight Meat Train, No One Lives). Tidak berlaku, karena format live-action yang baru-baru ini dirilis di Indonesia, justru dirusak oleh elemen-elemen pendukung, yang kami nilai seharusnya bisa dieksekusi lebih matang dan bijaksana.

Format live-action Lupin the Third dibuka dengan aksi penerobosan para pencuri ulung, termasuk Fujiko Mena dan Pierre, ke dalam sebuah museum barang berharga di Singapura. Guna mencuri sebuah medali bernilai tinggi, mereka pun mengeluarkan segala kemampuan, hingga akhirnya pencuri paling ulung di antara semua, Lupin, tiba (sengaja terlambat) dan merebut medali tersebut dengan cara dan gayanya sendiri.

Namun, usai merebut, Lupin, mau tidak mau harus menyerahkan medali tersebut kepada rivalnya yang bernama Michael. Perlu diketahui bahwa baik Lupin, Michael, Fujiko, dan Pierre berada di bawah naungan sebuah perkumpulan elit rahasia terdiri dari para pencuri ulung yang bernama The Works. Seyogyanya bekerjasama, ternyata diam-diam, Michael malah menyimpan sebuah rahasia besar yang berdampak besar pada keberlangsungan The Works.

Sebuah insiden di mansion The Works-lah yang akhirnya mengungkap sosok Michael sebenarnya; kawan atau lawan. Singkat cerita, plot selanjutnya pun berputar pada usaha Lupin untuk mengejar Michael yang mendadak hilang pasca memporakporandakan The Works. Dibantu oleh penembak jitu, Daisuke Jigen, ahli teknologi, Pierre, serta frenemy sekaligus love interest yang sulit dipercaya, Fujiko, kami pun dibawa mengikuti sepak terjang Lupin yang mewarisi bakat mencuri legendaris itu.

Sinar Seorang Shun Oguri yang Sulit Dicuri

Siapa Michael dan rahasia apa yang ada di balik sosoknya itu menyita sebagian besar inti cerita dari film ini. Wajar saja kalau kami sempat berharap cemas, apakah karisma aktor pemeran Michael, Jerry Yan (Meteor Garden) mampu mencuri perhatian kami terhadap si Lupin, Shun Oguri (Hana Yori Dango). Nyatanya, sinar Oguri memang tidak mampu dicuri dengan mudah. Walau Oguri tidak banyak kebagian jatah memamerkan skill mencuri seorang Lupin, namun pesona cucu dari Arsene Lupin yang tampan namun slengehan dan sedikit mesum tersebut, kami acungi jempol.

lupin9

Cast lain yang kami nilai masuk dalam jajaran terbaik adalah adalah Meisa Kuroki, yang secara pas menampilkan karakter Fujiko Mine yang cantik, pintar, tangguh, menggoda namun tetap terlihat manipulatif.

Tidak ketinggalan karakter Inspektor Zenigata yang diperankan oleh aktor senior Tananobu Asano (47 Ronin) juga mewarnai serunya aksi Lupin cs ini. Mirip dengan versi anime dan manga-nya, interaksi Lupin dan Zenigata digambarkan bak kucing dan anjing, saling berkejaran, tanpa ada satupun yang berhasil menangkap maupun ditangkap.

lupin10

lupin5

Intensitas Konflik yang Tak Mencapai Klimaks

Sayangnya, kualitas akting para pemain utama yang kami nilai bagus, tidak mampu menutupi kekurangan demi kekurangan yang bertebaran di film ini. Ekspetasi kami bahwa film ini akan semakin intens pasca adegan penerobosan di museum, agaknya terjun bebas. Alih-alih mempertahankan intensitas konflik, film ini justru menghadirkan elemen-elemen perusak yang kami nilai sebenarnya tidak perlu ada.

Walau di pertengahan cerita, kami sempat dibuat penasaran oleh kompleksnya sosok seorang Michael, sayang, belakangan, kerumitan ini justru memberi hint kepada kami bahwa sejak awal plot film in memang mengalami kedodoran. Akibatnya, segala bentuk konflik dan twist yang dihadirkan terkesan agak dipaksakan.

Eksekusi Elemen-Elemen yang Kurang Matang

Elemen pertama yang kami nilai sebagai kekurangan adalah transisi dari adegan satu ke adegan lain yang terlalu cepat sehingga membuat kami bak menonton film yang disisipi iklan. Tidak heran jika koneksi antar adegan pun terlihat kurang mulus dan kerap kali membuyarkan fokus kami terhadap konflik yang sebenarnya terjadi.

Kedua. Tidak hanya dipenuhi quick cuts, sinematografi yang kasar pun terlihat di beberapa action scene, terutama adegan kejar mengejar mobil. Alih-alih merasa tegang, kami malah merasa adegan ini diisi dengan elemen yang agak out of context.

Walau secara alami kami mampu melupakan sejenak kekurangan di bagian sinematografi ini lewat kekonyolan karakter Goemon Ishikawa yang diperankan oleh Go Ayano (Rurouni Kenshin), namun secara sadar, kami nilai ini bukanlah strategi yang cerdas, mengingat semakin keras tawa yang kami lontarkan untuk Goemon, semakin jelas terlihat cacat yang hendak ditutupi pada adegan ini.

Ketiga. Penggunaan teknik zoom-in pada beberapa karakter kami nilai juga sedikit berlebihan. Entah apakah memang karakter ini memang perlu disorot begitu intensnya atau (lagi-lagi) ada kekurangan yang harus ditutupi sehingga teknik pengambilan gambar ini harus diaplikasikan pada momen yang kami nilai kurang tepat.

Keempat. Penggunaan bahasa Inggris yang kurang fasih juga turut ambil bagian dalam daftar utama kekurangan Lupin The Third ini, bahkan kami nilai yang paling fatal di antara semua kekurangan yang kami temukan. Dialog maupun lontaran guyonan yang seharusnya terdengar menarik dan menghibur, justru terdengar aneh dan membosankan, akibat para bintangnya yang secara kasat mata, terlihat kesulitan melafalkan kata demi katanya.

Overall, walau kami sempat mendengar film ini disebut sebagai versi Jepangnya Ocean’s Eleven, namun Lupin the Third kami nilai gagal mengadaptasi aspek smart dan elegant franchise film Hollywood sukses tersebut. Film ini bak terjebak dalam krisis identitas genre, tidak pas sebagai komedi, kurang maksimal sebagai action, dan terasa agak dipaksakan jika kami menyematkannya sebagai action-comedy.

Paling tidak lewat Lupin the Third, kami makin menyadari bahwa walau kisah dalam sebuah film tidak melulu orisinil atau baru, ternyata proses mengadaptasi itu bisa jadi memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Dibutuhkan lebih dari sekedar nama besar (yang sudah diraih versi anime dan manga-nya) demi membuat Lupin “mencuri” perhatian publik di layar lebar. Can Lupin steal a spotlight on the big screen? We know the answer now.

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top