Connect with us
princessmononoke

Morgan Movie Review: Despite Leaving the Artificial Intelligence Behind, There’s a Twist We Don’t See Coming

Morgan Movie Review
20th Century Fox

REVIEWS

Morgan Movie Review: Despite Leaving the Artificial Intelligence Behind, There’s a Twist We Don’t See Coming

This review may contain mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Selalu menarik melihat bagaimana seorang Ridley Scott (baca: walau kali ini lewat sang putra, Luke Scott, sebagai sutradara) membentuk karakter wanita tangguh di layar lebar. Selain Ellen Ripley (tentunya) dan G.I Jane, masih segar di ingatan kami sosok Dr. Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) yang sukses menyintas dalam kengerian dunia fiksi ilmiah Prometheus di tahun 2009. Kini, yang terbaru adalah Morgan, sebuah A.I dalam wujud gadis muda yang emosinya mendadak labil. Apakah seperti manusia, Morgan bisa berubah jadi psikopat?

Walau kami diperkenalkan pada Morgan kecil yang terlihat bahagia; diciptakan bak dilahirkan dari perut ibu dan dirawat bak seorang anak manusia, Morgan tumbuh dengan banyak kekurangan yang tak bisa diperbaiki programnya. Bahwa Morgan belum memahami apa itu benar, salah, boleh dan tak boleh. Dan karena ketidakmampuannya inilah, Morgan secara tidak sengaja melanggar sebuah kode etik yang membuat eksistensinya terpaksa tak diinginkan. Masalahnya, Morgan tumbuh menjadi A.I yang bukan hanya notabene sangat cerdas namun juga berkepribadian sangat kompleks. Ia mengetahui tapi tak memahami, ia memahami namun tak bisa mengendalikan. Sayang, Morgan adalah sebuah program yang dirancang harus sempurna. Sedikit saja kesalahan, Morgan dianggap proyek gagal. Akankah Morgan sakit hati?

Tidak salah jika MuviBlaster teringat pada A.I (2001), Automata (2014), atau yang masih saja hangat diperbincangkan, Ex-Machina (2015). Tidak salah juga jika Anda teringat pada banyak karakter non-manusia nan cerdas seperti robot, program, bahkan Android berwujud manusia. Ya … singkat kata, premis Morgan tidaklah orisinil namun selalu mengundang perhatian. Karena nyaris setiap praktek kecerdasan buatan memiliki efek samping tak terduga yang selalu saja efektif memicu konflik. Lalu apa efek samping dari seorang Morgan yang diplot baru berusia 5 tahun ini? Mengapa Morgan memberi indikasi bahwa ia berbahaya?

Walau secara usia masih sangat hijau, wujud Morgan sudah mirip seorang remaja. Bertubuh tinggi, berambut panjang, dan beraut wajah jelas. Namun jangan kira pikiran Morgan senaif balita, karena ketika merasa dirinya terancam, ia bisa berubah beringas bak binatang liar. Singkat cerita, Morgan menyakiti salah seorang staf program, membuat perusahaan manajemen resiko mengirimkan anggota terbaiknya untuk menginvestigasi kasus ini. Kira-kira begitulah pendekatannya karena seorang Lee Weathers (Kate Mara) tahu bahwa ada kemungkinan ia harus menghabisi Morgan apapun caranya. Yang jadi masalah adalah ketika para dokter dan staf program yang mengenal-mengasuh Morgan sejak lahir justru ingin menyelamatkan gadis itu. Pertanyaannya, apakah Morgan sungguh bersalah atau justru berhak diberi kesempatan kedua, seperti halnya manusia?

Morgan Movie Review

The Good and the Bad

Mara tampil stand out sebagai seorang agen yang bersikap dingin dan berlidah tajam. Tak hanya itu, karakternya juga tangguh dan tak pantang menyerah, walau konotasinya masih ambigu, bahkan hingga film memasuki detik-detik terakhir. Dengan potongan rambut gaya pixie cut, kemampuan tarung lumayan, serta tubuh mungil tahan banting, Mara nampak seperti seorang jagoan sekaligus mesin pembunuh. Terlepas yang mana identitas karakter sebenarnya, kami menilai Weathers adalah peran terbaik yang pernah dilakoni kakak dari Rooney Mara (The Social Network, The Girl with Dragon Tattoo, Pan) ini.

Pendatang baru, Anya Taylor-Joy (The Witch) juga tampil meyakinkan sebagai Morgan, walau tak semencuri perhatian seperti Mara. Bergerak-gerik polos namun misterius, berwajah cantik namun pucat pasi, Morgan miliknya kami ibaratkan sebuah bom yang bisa meledak kapan saja. Tinggal ciptakan sebuah pemicu, Morgan siap beraksi.

Cukup banyak adegan gore yang membuat kami bergidik di sini namun sayang mendominasi separuh durasi, membuat kadar thriller dalam Morgan lebih tinggi dari akarnya, sci-fi. Idenya menarik namun dieksekusi tanggung apalagi setelah akhirnya kami menyadari bahwa tanggung jawab besar itu dibebankan pada Mara dengan cara memplot karakternya menjadi seseorang di antara penegak kebenaran dan pembunuh berdarah dingin di bagian klimaks. Mencium potensi adanya sebuah twist seru? Bisa jadi dugaan Anda benar.

Sayangnya lagi, tidak ada kontradiksi fiksi ilmiah yang membuat eksistensi Morgan dapat diperjuangkan. Konflik dalam Morgan nampak seperti sebuah kepentingan bisnis saja, sebuah angka mati yang notabene kaku. Morgan pun tak diberi cukup waktu untuk mengeksplorasi kemampuannya, membuat usaha penciptaan dirinya terasa sia-sia. Untung saja, dugaan twist Anda di atas benar ada.


Director: Luke Scott

Cast: Kate Mara, Anya Taylor-Joy, Rose Leslie, Toby Jones, Paul Giamatti

Duration: 92 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top