Connect with us
princessmononoke

Museum Movie Review: The Series of Sequential Murder Is So Interesting That We Forgive the Cliche Ending

Museum Movie Review
Warner Bros. Japan

REVIEWS

Museum Movie Review: The Series of Sequential Murder Is So Interesting That We Forgive the Cliche Ending

This review contains mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Derasnya hujan belakangan ini pun menambah rasa cekam kami menonton film terbaru garapan Keishi Ohtomo (Rurouni Kenshin Trilogy) ini. Bukan hanya motif si pembunuh berantai yang menjadi misteri hingga paruh durasi, namun juga aksi brutalnya menghabisi nyawa para korban yang sudah lama ia target itu. Semakin menegangkan ketika kami tak bisa memecahkan misteri ini sendiri lewat nalar pribadi, melainkan harus mengikuti gerak-gerik detektif Hisashi Sawamura (Shun Oguri) menuju tempat persembunyian si pembunuh.

Secara garis besar, motif membunuh si Frogman (Yutaka Matsushige) tidaklah jauh-jauh dari keinginan balas dendam. Ada rasa sakit hati dan kemarahan yang tak bisa ia bendung dalam hati. Namun, detail dalam setiap aksinya perlu diberi apresiasi karena bukan perkara mudah membuat konsep untuk setiap aksi pembunuhan yang ia lakukan. Setiap korban ia bunuh dengan cara yang unik dan sesuai dengan kepribadian atau kebiasaan hidup masing-masing, membuat tim detektif yang dipimpin Kozo Sekihata (Yutaka Matsushige), dibuat mati akal sekaligus lenyap selera makannya tiap kali habis melihat kondisi korban di TKP.

Terbukti memang, konsep adalah hal yang tak pernah jauh dari keseharian seorang Frogman. Ia membunuh dengan sebuah tujuan dan sebuah nilai. Bahwa tujuan yang ia capai, betapapun brutal cara dan hasilnya, harus melalui sebuah metode dengan nilai artistik tinggi. Yang jadi pertanyaan, apakah bertopeng wajah kodok sambil berkerudung di tengah adalah salah satu metode tersebut? Menarik, karena hanya lewat Sawamura-lah, pertanyaan ini bisa dijawab.

Museum tidak sekedar menjual visualisasi vulgar luka para korban yang tak lebih dari hasil karya make-up artist. Lebih dari itu, Museum menjual konsep pembunuhan berantai yang membuat setiap hasil karya si pembunuh terasa sulit dipercaya. Ide yang sederhana namun eksekusi yang menarik selalu saja mampu mengundang rasa penasaran. Manusia normal mana yang tega melakukan hal sekeji ini? Manusia gila mana yang menjadikan mayat sebagai karya seni? Semakin sulit dipercaya ketika Frogman selalu memberi memo singkat bernada puitis untuk setiap aksinya, bak sebuah nama untuk sebuah lukisan yang baru diselesaikannya.

Museum Movie Review

Sekali lagi, Ohtomo mengadaptasi kisah manga ke dalam format film. Diadaptasi dari manga karya Ryôsuke Tomoe berjudul Museum: The Serial Killer Is Laughing in the Rain memberi nuansa thriller ala Saw (2004-2010) walau twist yang dihadirkan kalah rumit dan cerdas. Untung saja Ohtomo adalah seorang pengarah yang baik dan cermat memperhatikan timing. Ia tahu kapan harus memicu adrenalin penonton namun tanpa membuat mereka ketakutan terlalu dini. Ia juga tahu kapan harus menghadirkan adegan berisi sinyal bahwa filmnya ini bukanlah tentang pembunuhan yang membabi buta, melainkan amat terencana.

Didukung penampilan Oguri sebagai detektif yang kritis dan cerdas, keyakinan kami terhadap motif Frogman bertambah, bahwa Frogman adalah karakter villain yang memang dipikirkan cukup matang. Walau ditutup dengan topeng kodok, Frogman mampu memberi kesan bahwa wajah siapapun di balik topeng itu tak jadi masalah. Ibarat Scarface dalam Scream, Frogman memberi indikasi bahwa tanpa kehadiran fisik sekalipun, teror pembunuhan yang ia sebar saja sudah menjadi momok menakutkan.

Keseruan bertambah ketika diketahui bahwa istri dan anak Sawamura menjadi target terakhir si Frogman. Naas bagi Frogman, ia malah tertarik untuk bermain-main dengan Sawamura, mengulur waktu dan memberi detektif itu sebuah kesempatan insaf. Namun, keputusan bermain yang berada di luar jalur rantai Frogman ini justru memberi Museum sebuah klimaks komplit, membuat film ini, secara keseluruhan, tak hanya bertumpahan darah namun berlinang air mata.

Satu hal yang kami sayangkan tidak terantisipasi adalah ujung dari seluruh ketegangan yang bermuara pada sebuah drama keluarga dan masa lalu yang ternyata, klise. Pasalnya, kami sudah dibuat berekspektasi begitu tinggi mengenai latar belakang kedua karakter utama ini, yang menyebabkan keduanya berseteru demikian sengit. Well, terlepas apakah mereka musuh bebuyutan atau tidak, yang pasti, jangan MuviBlaster harapkan adanya pertalian darah yang tak terungkap di antara keduanya.


Director: Keishi Ohtomo

Cast: Shun Oguri, Machiko Ono, Satoshi Tsumabuki, Yutaka Matsushige, Shuhei Nomura

Duration: 132 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top