Connect with us
babydriver

Ponyo Movie Review: A Mesmerizing Fairy Tale for All Ages

Ponyo Movie Review
Studio Ghibli

REVIEWS

Ponyo Movie Review: A Mesmerizing Fairy Tale for All Ages

This review contains no spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Walau kisahnya berfokus pada sepasang karakter yang masih kanak-kanak namun konsep dari kisah ini adalah persahabatan sejati antar spesies yang tak mengenal usia. Selain itu, Ponyo jebolan Studio Ghibli ini juga dengan mudah memukau mata orang dewasa lewat elemen fantasinya yang digambarkan menarik; sosok Ponyo (Yuria Nara) si ikan mas kecil yang berwujud tak mirip ikan, sihir bawah laut yang menciptakan terjangan ikan laut raksasa bak tsunami hebat, hingga daratan yang mendadak tenggelam dalam kehidupan laut zaman prasejarah.

Jika MuviBlaster tidak merasa klik dengan plotnya, silahkan Anda menikmati indahnya warna-warni ilustrasi yang ditampilkan Ponyo sepanjang durasi. Lansekapnya yang didominasi laut membuat bukit tinggi tempat tinggal Sosuke (Hiroki Doi) bersama ibunya, Tomoko Yamaguchi (Risa), juga memberi sensasi magis, sureal. Terutama ketika Ponyo yang akhirnya berwujud manusia ingin mengunjungi Sosuke di rumahnya, berlarilah ia di atas ikan-ikan raksasa yang berlomba-lomba membuat gulungan ombak tertinggi agar Ponyo mencapai bukit tersebut.

Ponyo Movie Review

Mengusung genre fantasi dengan tagline “Make the impossible possible.”, Ponyo tak perlu narasi panjang lebar untuk memulai petualangannya di dunia manusia. Hanya berbekal insting bahwa di daratan sana ada sesuatu yang lebih menyenangkan, Ponyo berusaha keras untuk kabur dari kurungan sang ayah. Well, singkat cerita, Ponyo bukanlah ikan mas biasa. Ayah Ponyo adalah manusia dengan profesi ilmuwan yang hidup di bawah laut sedangkan ibu Ponyo adalah Ibu dari Segala Makhluk di Lautan yang berwujud raksasa bernama Granmamare (Yuki Amami).

Tak perlu pusing memikirkan bagaimana Ponyo lahir ke muka bumi sebagai seekor ikan dengan wujud demikian aneh, melainkan bagaimana Ponyo bisa terlahir 2 kali dan kali ini sebagai manusia. Bahwa keinginan Ponyo ini adalah jujur dan tanpa syarat, membuatnya penting untuk diperjuangkan, terutama ketika kesempatan itu ada. Dan ketika sosok Ponyo adalah sosok yang masih cilik dan notabene melihat segala sesuatu dari kacamata positif, penonton segala usia dengan mudah bersimpati, menjadi tim sukses keberhasilan Ponyo tanpa perlu diiming-imingi premis bahwa Ponyo akan berubah menjadi pahlawan super atau putri yang cantik dan hidup bahagia selamanya.

Padahal, keinginan Ponyo tak pernah muluk-muluk. Ia hanya ingin bersama Sosuke walau sebatas menjadi ikan peliharaan di dalam ember berisi air, titik. Siapa sangka tali jodoh membukakan Ponyo jalan yang secara alami ia ikuti saja jalurnya. Dan ketika jalan itu terbuka semakin lebar, arusnya semakin kuat, membuat Ponyo pun tak ingin kembali pulang. Salahkah Ponyo? Tentu tidak, ia masih anak-anak.

Sederhana dan tanpa ego, Ponyo digarap dengan cara berpikir anak-anak seusianya. Walau bukan dilahirkan sebagai manusia, Ponyo adalah gambaran anak manusia yang kritis dan aktif. Tak sekedar bermimpi, Ponyo fokus pada satu-satunya mimpi yang ia punya hingga akhirnya alam pun memberikan ia jalan. Jika akhirnya ia bertemu Sosuke di atas sana, itulah yang dinamakan jodoh. Walau secara logika tidaklah mungkin, Ponyo garapan Hazao Miyazaki (Kiky’s Delivery Service, My Neighbor Totoro) memberi pesan bahwa dengan sedikit imajinasi, segala hal menjadi mungkin. Memang, tak akan pernah mungkin Ponyo si ikan mas berubah jadi manusia dalam kehidupan nyata, namun menyaksikan Ponyo akhirnya berubah demikian, mindset sekeras apapun dapat tergugah, memberi inspirasi dan celah harapan untuk kemustahilan yang masih mungkin diwujudkan.


Director: Hazao Miyazaki

Voice Cast: Yuria Nara, Tomoko Yamaguchi, Hiroki Doi, Yuki Amami

Duration: 100 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

PLAYING NOW

thorragnarok

To Top