Connect with us
princessmononoke

Pride and Prejudice and Zombies Movie Review: The Zombie Idea Intensifies as Well as Violates the Characters and Original Aspects

Pride and Prejudice and Zombies Movie Review
Screen Gems

REVIEWS

Pride and Prejudice and Zombies Movie Review: The Zombie Idea Intensifies as Well as Violates the Characters and Original Aspects

This review may contain mild spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Di atas kertas, transformasi Elizabeth Bennet AKA Lizzy yang semula hanyalah gadis intelek dari keluarga non-aristokrat, menjadi pembasmi zombie, boleh jadi menarik. Namun, sebaliknya yang terjadi di layar lebar. Mulai dari ensemble cast yang tidak cocok hingga pengabaian elemen penting dalam kisah orisinilnya adalah beberapa alasan kasat mata yang notabene mudah dilihat MuviBlaster penggemar berat karya tulis Jane Austen satu ini.

Walau cantik dan tangguh, Lizzy milik Lily James (Cinderella) tidak memiliki tingkat intelektual yang diharapkan. Imbasnya, Lizzy milik James tak terlihat jauh berbeda ibu dan ketiga adiknya, walau tidak sampai taraf norak. Yang terparah, minimnya intelektual ini membuat chemistry antara Lizzy dan Fitzwilliam Darcy (Sam Riley) tidak semengggigit chemistry para seniornya, terutama Matthew Macfadyen dan Kiera Knightley.

Bukannya tidak melihat usaha yang dilakukan oleh sutradara Burr Steers (17 Again) untuk menyuntikkan ketegangan lewat penampakan mayat hidup serta segenap tim artistik yang kami nilai baik dalam mengatur setting dan kostum, namun kedua kekurangan di atas justru adalah elemen penting dalam menonjolkan apa Pride and apa Prejudice yang menjadi motif konflik antara Darcy dan Lizzy. Elemen penting yang sayangnya bukan menjadi prioritas, melainkan hanya di-copy dan paste saja mentah-mentah supaya terkesan setia dengan novelnya (baca: baik Pride and Prejudice milik Austen maupun kolaborasinya dengan  Seth Grahame-Smith).

Elizabeth Bennet Turun Kelas

Kami tak munafik ikut excited ketika mendengar kabar film ini tengah diproduksi. Dengan tambahan atribut zombie, kami sempat membayangkan betapa tangguhnya karakter Lizzy yang sering kali dijadikan role model wanita modern ini. Walau bukan berasal dari keluarga terpandang, namun Lizzy adalah sosok yang cantik, pintar, kritis, dan berselera tinggi. Kesemua ini adalah gabungan dari warisan bakat sang ayah ditambah hobinya membaca dan mengeksplorasi lingkungan sekitar. Namun, kini ekspektasi awal kami terasa berlebihan.

Bukannya mengagumi, kami malah melihat Lizzy milik James mengalami degradasi. Dan anehnya, keluarga Lizzy yang selalu digambarkan tidak kompeten itu justru mengalami peningkatan, yang mana otomatis menenggelamkan potensi Lizzy menjadi sang primadona.

Sepanjang durasi, Lizzy lebih banyak pamer bersilat senjata ketimbang bersilat lidah, dengan kemampuan yang kami nilai tidak jauh beda dengan kakak dan adiknya. Singkat kata, dengan kemampuan tarung rata-rata dan kemampuan bersilat lidah yang dibiarkan mengendap, kesuksesan James sebagai penerus tongkat estafet karakter ikonik harus tersandung. Ya … ternyata James masih lebih sukses menjadi si upik abu yang dikenal karena kecantikan dan kebaikannya itu.

Suara Parau yang Gagal Memikat

Sebenarnya, mata kucing dan ekspresi cool Sam Riley sesuai dengan deskripsi visual Darcy yang kaya dan angkuh. Apalagi Riley memiliki postur tubuh maskulin plus suara parau yang berpotensi meluluhkan hati banyak penonton wanita. Namun, lagi-lagi, bukan hal demikian yang kami lihat terjadi.

Walau suara Riley aslinya parau namun dalam film ini justru terasa dibuat-buat. Ekspresi cool Riley pun tidak diolah dan malah menjadi datar berkepanjangan. Tak ada ekspresi menggemaskan yang membuat kami jatuh hati, tak ada sikap gentleman yang pun membuat kami kagum. Darcy milik Riley seperti mengalami krisis identitas karena si aktor terlihat sulit meniru karakter Mr. Darcy yang ideal, namun juga tidak bisa mengeluarkan karakter aslinya sendiri.

Pride and Prejudice and Zombies Movie Review

Karakter Pendukung Sebatas Penghibur

Sebenarnya, Pride and Prejudice tak melulu fokus pada romansa Darcy dan Lizzy. Lebih jauh lagi, intensitas romansa keduanya justru dipicu lingkungan sekitarnya, termasuk romansa antara Jane Bennet dan Charles Bingley, serta kasus kawin lari Lydia Bennet dan George Wickham. Tak hanya ini, kelakuan sang ibu yang norak dan money-oriented juga menjadi pemanas percikan cinta yang kami akui tak bisa dipandang sebelah mata.

Namun, entah ke mana peran penting karakter pendukung ini menghilang. Dengan ayah yang tidak memiliki karisma bijaksana, ibu yang tidak bisa akting, romansa Jane (Bella Heathcote) dan Bingley (Douglas Booth) yang digarap tanggung, dan kasus kawin lari yang tidak digarap serius, semakin jelas terlihat metode copy-paste yang kami semula asumsikan saja.

Sungguh miris melihat Pride and Prejudice and Zombies gagal memenuhi ekspektasi, apalagi ketika kami adalah penggemar segala hal berbau Austen dan semangat juang wanita yang menjadi ciri khas karakternya itu. Sempat memuji film dengan konten serupa seperti Austenland (2013) dan Far From the Madding Crowd (2015), sayang saja, film yang turut dibintangi Lena Headey (300, 300: Rise of Empire, Game of Thrones) ini gagal merebut hati kami.

Pride and Prejudice and Zombies Movie Review

Director: Burr Steers

Cast: Lily James, Sam Riley, Douglas Booth, Bella Heathcote, Jack Huston, Lena Headey

Duration: 108 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top