Connect with us
princessmononoke

Room Movie Review: Even With a Door Closed, Room Opens Its Captives Vast Opportunity to Taste the Best in Life

Room Movie Review
A24

REVIEWS

Room Movie Review: Even With a Door Closed, Room Opens Its Captives Vast Opportunity to Taste the Best in Life

This review may contain mild spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Ada satu hal menarik tentang Room begitu film ini dimulai. Ada sosok anak berambut panjang namun dipanggil Jack oleh ibunya. Sekilas terlihat seperti anak perempuan, Jack ternyata adalah seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Semakin menarik setelah mengetahui bahwa terlepas kondisi yang terisolasi, keduanya justru berkesempatan menjalin hubungan ibu-anak yang sangat rekat. Ada fenomena apa di sini?

Wajar jika kemudian muncul berbagai pertanyaan mengenai lingkungan tempat tinggal Jack setelah melihat rambutnya yang demikian panjang. Mengapa rambutnya tak dipotong? Apa ibunya tak membawanya ke salon? Apapun jawabannya, pasti MuviBlaster mengira bisa saja semua kejanggalan ini ditiadakan, namun sayang bukan itu strategi plot dalam film garapan Lenny Abrahamson (Garage, Frank) ini.

Rambut Jack yang panjang justru sengaja diadakan sebagai indikasi bahwa Jack dan ibunya (baca: Ma) tak pernah keluar ruangan sejak Jack lahir. Indikasi lain, Jack mirip anak norak yang mengira hal-hal di luar Room hanyalah khayalan, termasuk daun-daun berjatuhan di skylight dan siaran berita di TV. Bukan salah Jack, namun Ma yang membentuk mindset putranya demikian. Namun juga bukan sepenuhnya salah Ma, karena Ma sendiri adalah korban penculikan dan pemerkosaan seorang pria brengsek yang dipanggil Old Nick (Sean Bridgers).

Room Movie Review

Reminding Us of Boyhood

Menonton Room kami jadi teringat Boyhood besutan Richard Linklater (Before Trilogy). Walau jalan cerita dan komposisi karakternya tidak persis sama, namun konsep ceritanya bertalian. Ada seorang bocah laki-laki yang mengalami masa puber namun dalam konteks berbeda.

Jika Boyhood menyorot transformasi Mason Evans cilik menjadi dewasa dari segi usia, Room justru menyodorkan transformasi Jack cilik menjadi “dewasa” pasca interaksinya dengan dunia luar. Dan transformasi yang kami bicarakan di sini bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Saking lamanya berada dalam Room, Jack jadi sulit beradaptasi dengan dunia luar yang terdiri dari berbagai subjek dan objek sungguhan. Imbasnya, Jack yang mengalami kesulitan beradaptasi dan berinteraksi kian lama membuat Ma stres.

Namun ternyata di momen intens inilah, seorang Brie Larson (21 Jump Street, Trainwreck) memiliki kesempatan bersinar. Didera dilema sang putra, Larson mengeluarkan sisi rapuh karakter Ma-nya setelah bertahan kuat selama 7 tahun dalam Room. Dan pada saat Ma mencoba jauh dari Jack, Larson justru sukses memberikan aura kedekatan seorang ibu dan anak, walau sebatas dekat di hati saja.

Dan walau masih bocah, Jacob Tremblay (The Smurfs 2) sebagai Jack mampu menyeimbangi bahkan dalam beberapa adegan melampaui kualitas akting Larson, membuat karakter Ma seringkali kehabisan akal menghadapi Jack. Lebih jauh lagi, Trembley mampu mengolah rasa ingin tahu Jack menjadi sebuah batu sandungan bagi karakternya sendiri. See … even a kid can be this persistent.

A Well Nurtured Mutual Relationship 

Judulnya Room dan sebagian besar setting-nya berada di dalam ruangan berukuran 10m x 10m, namun siapa sangka ada sebuah pengalaman dengan luas tak ternilai terjadi di dalamnya, pengalaman yang bisa membuat hubungan siapapun menjadi berkelanjutan karena saking sempitnya.

Begitulah kira-kira gambaran Jack dan Ma selama berada di dalam Room. Tanpa interaksi dengan dunia luar, otomatis keduanya bergantung hidup satu sama lain; Ma mengurus fisik Jack yang sedang tumbuh dan Jack menyirami batin Ma yang tersiksa. Jika akhirnya keduanya butuh ruang lebih luas untuk hubungan mutualisme ini, bukan semata-mata sebuah besaran, namun juga sebuah kesempatan untuk merangkai ikatan yang lebih erat dengan lingkungan lebih sehat.

Room Movie Review

Even More Thrilling Once They’re Inside the Room

Kisah Room sendiri diangkat dari novel berjudul sama karya Emma Donoghue. Bukan 100% kisah nyata, namun kisah Jack dan Ma kami terinspirasi oleh realita serupa, walau mungkin publik tak memperhatikan. Fakta bahwa ada ibu dan anaknya yang terbuang atau tidak diterima keluarga besar karena berbagai hal adalah beberapa di antaranya.

Dan terlepas dari kemungkinan plot tertebak seperti realita di atas, kami menilai alur non-linear Room dirajut rapi, menghindarkan kami dari kebingungan dan membuat rasa penasaran kami tetap terjaga hingga akhir cerita. Parameternya adalah ketika Jack dan Ma berhasil keluar dari Room, kami justru mencium bau masalah baru. Dan benar saja, bukannya kian erat, hubungan keduanya malah renggang. Bagaimana ceritanya mereka bisa kembali dekat, bukan lagi karena pintu yang terbuka atau ruang yang lebih luas, adalah waktu dan kasih sayang yang bisa menjawab.


Director: Lenny Abrahamson

Cast: Brie Larson, Jacob Tremblay, Joan Allen, Sean Bridgers

Duration: 118 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top