Connect with us
thorragnarok

Spider-Man: Homecoming Movie Review: No More Gloom as Peter Parker Returns to High School and Focuses on a Brighter Future

Spider-Man: Homecoming Movie Review
Sony Pictures Releasing

REVIEWS

Spider-Man: Homecoming Movie Review: No More Gloom as Peter Parker Returns to High School and Focuses on a Brighter Future

This review contains no spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Jika Peter Parker tak digigit seekor laba-laba, kemungkinan besar ia digigit seekor bunglon, karena terlepas apapun alasan di balik peremajaan layar lebar yang sudah dilakukan 3 kali pada sosoknya ini, Parker selalu saja sukses menemukan warna baru. Tak lagi sesendu milik Tobey Maguire, tak juga sekeren milik Andrew Garfield, Parker milik Tom Holland adalah sesuai usianya; aktif sekaligus nekat. Singkat kata, sulit untuk membandingkan ketiganya karena masing-masing diciptakan dengan jati diri yang berbeda dan dalam konteks pengembangan yang berbeda pula.

Selalu menarik ketika versi terbaru menampilkan sesuatu yang berbeda. Mirip ketika Garfield muncul meneruskan tongkat estafet Maguire, yang terjadi pada Holland saat ini pun demikian. Tak seperti seniornya, Parker milik Holland diberikan proses pembentukan jati diri yang lebih dini, otomatis lebih panjang, tak mendadak jadi satu-satunya pahlawan super pasca digigit laba-laba radioaktif. Tak hanya jatuh bangun secara fisik saja, namun juga penolakan demi penolakan yang perlahan namun pasti membuat mental Parker diombang-ambing. Lebih jauh lagi, kini Parker sadar bahwa selain dirinya, ada cukup banyak pahlawan super lain yang dapat, bahkan lebih dihandalkan, Avengers.

Walau ditakdirkan sebagai Spider-Man, Parker tetaplah anak remaja 15 tahun yang masih polos menghadapi dunia. Oleh karena itu, kehadiran Tony Stark (Robert Downey Jr.) sebagai sosok mentor sangat pas. Stark adalah satu-satunya anggota Avengers yang bersikap apatis serta memiliki ego paling tinggi, dan demikianlah cara Stark menjalin hubungan dengan Parker, karena tak ingin membuat anak kemarin sore itu besar kepala. “It’s not a hug. I just open the door for you. We’re not there yet.” Lalu bagaimana dengan Parker? Satu hal yang tak berubah walau sudah lintas 3 generasi, Parker selalu saja berperangai membumi dan baik hati walau ia akhirnya tahu bahwa dunia tak semurah hati yang ia kira.

Spider-Man: Homecoming Movie Review

Sangat menarik memahami sudut pandang pahlawan super secara umum dari sosok Parker baru ini. Ia masih naif, menganggap misi pertamanya dalam Avengers: Civil War (2016) adalah batu loncatan ekpsres untuk menjadi bagian dalam tim. Lebih naifnya lagi, Parker mengira bahwa menjadi pahlawan super hanya sekedar menunggu kejahatan demi kejahatan terjadi di muka bumi, spesifiknya menunggu panggilan dari Stark atau Happy (Jon Favreau) setiap waktu. Parker seakan lupa bahwa ia masih memiliki masa depan lain, masa depan yang bisa diraih lewat kehidupan normalnya sebagai anak manusia.

Singkat cerita, keinginan besar Parker tersebut menemukan jalannya. Bosan dengan sederet kejahatan kecil yang kurang menantang potensinya, secara tidak sengaja Peter menemukan sindikat pencuri senjata super pimpinan Adrian Toomes AKA Vulture (Michael Keaton). Namun siapa sangka, sindikasi kejahatan yang Parker anggap serius ini hanya dianggap sebelah mata oleh Stark, membuat Stark kian kesal namun membuat Parker kian gigih membuktikan bahwa ia juga bisa menjadi pahlawan super yang sesungguhnya.

Kami acungi jempol untuk plot Spiderman: Homecoming yang tetap menjaga esensi dari peremajaan sosok Parker. Karakternya begitu bersemangat dan berselera humor ala seorang geek yang masih dapat diterima oleh penonton dewasa. Situasi sulit yang satu per satu ia alami juga diatur rapi untuk membangun karakternya lebih solid sebelum tantangan terbesar itu hadir. Seiring durasi, kami belajar memahami pergumulan Parker yang bingung membedakan antara yang namanya normal dan super, berani dan nekat, hingga kerja permanen dan magang.

Pergumulan Parker kian berbobot ketika drama cinta monyetnya dengan Liz (Laura Harrier) diam-diam menyimpan sebuah twist. Ibarat mimpi buruk di siang bolong, twist ini sempat mengubah peta permainan film yang semula bernada penuh kesenangan menjadi tegang seketika. Lagi-lagi, Peter harus jatuh dalam realita pahit kehidupan dengan kesempatan bangkit dengan usahanya sendiri.

Parker milik Holland didukung jajaran karakter pendukung penuh warna dan solid. Tak lagi berteman dengan Harry Osborn seorang, Parker kini memiliki beberapa teman baik yang sama-sama sering di-bully di sekolah. Favorit kami? Tentu saja si Ned (Jacob Batalon) yang geeky namun setia, banyak akal, dan terlalu pandai menyimpan rahasia. Dan tak lagi memiliki bibi yang sudah renta, Parker kini memiliki Bibi May (Marisa Tomei) yang ikut diremajakan bersama dirinya. Seorang keturunan Italia dengan wajah yang masih cantik dan tubuh masih seksi, Bibi May turut membantu keponakannya ini menjadi lebih bergairah dalam menghadapi dunia.

Sebuah sekuel pasti sangat ditunggu walau kami tak bisa menebak plot macam apa yang dihadirkan nanti. Spider-Man memiliki begitu banyak kisah untuk dieksplor dengan potensi modifikasi besar-besaran walau dengan ujung yang kurang lebih berbenang merah sama; ia tetaplah si pahlawan super yang ditakdirkan hidup susah. Mungkin inilah alasan utama mengapa sosok Spider-Man dikembalikan ke usia remajanya dengan maksud membuatnya menjauh dari takdir hidup susah itu. Bahkan, sepertinya Spider-Man: Homecoming sedang memutar ulang waktu untuk menciptakan takdir baru untuk dirinya, takdir Avengers itu. Semoga!


Director: Jon Watts

Cast: Tom Holland, Robert Downey Jr., Michael Keaton, Jon Favreau, Jacob Batalon, Laura Harrier, Zendaya, Marisa Tomei

Duration: 150 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top