Connect with us
princessmononoke

Sundul Gan: The Story of Kaskus Movie Review: The Startup Success Story Is so Incomparable When Its Movie Appears so Weak

Sundul Gan Movie Review

REVIEWS

Sundul Gan: The Story of Kaskus Movie Review: The Startup Success Story Is so Incomparable When Its Movie Appears so Weak

This review contains no spoilers

(2/5) 2.0 Stars

Kami menulis ulasan ini dari kacamata pembaca buku biografi Ken & Kaskus: Cerita Sukses di Usia Muda, jika dari kacamata Kaskuser dianggap terlalu fanatik. Intinya, kami sulit memuji Sundul Gan: The Story of Kaskus karena film ini memberi kesan dibuat hanya sebagai pelengkap. Memang tak nikmat kalau rasa asam tak dibarengi manis, tak seru juga jika naik gunung tiada turunnya, namun jujur, sepak terjang sepasang remaja berkasak kusuk hingga akhirnya sukses seperti sekarang, jauh lebih seru diikuti lewat deretan teks panjang namun hidup itu, saja.

Kami seperti sedang mengekor kisah sepak terjang Ken Dean Lawadinata dan Andrew Darwis dari belakang, lebih tepatnya, ditinggal di belakang. Padahal, Kaskus adalah sebuah tren, sebuah fenomena digital kemudian sosial yang melibatkan Kaskuser dalam perjalanan naik turunnya, sehingga sebelum menonton, otomatis ekspektasi demikian sudah kami pasang tinggi-tinggi. Sayang, kami sebagai penonton, apalagi Kaskuser, tidak merasakan koneksi itu.

Kami lihat fokus film ini hanyalah hubungan persahabatan dan bisnis keduanya. Walau terkait dunia website, tak ada bahasa teknis yang membuat bingung penonton awam apalagi kewajiban menjabarkan proses teknis yang bergerak dalam Kaskus. Namun inilah justru yang kami sayangkan. Dengan fokus demikian jelas, jika bukan sempit, dan tuntutan teknis yang tak demikian tinggi, film ini gagal menggarap aspek non-teknisnya dan kewalahan menggiring hubungan keduanya gol seperti kisah sukses startup-nya di layar lebar.

Sundul Gan Movie Review

Pertama. Soal akting. Terlepas dalam adegan-adegan penting, Dion Wiyoko (Love & Faith, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar) sukses mewakili semangat tinggi dan keras kepala Ken di masa-masa berat itu, kami nilai ekspresi wajah dan gerak geriknya overreact. Albert Hakim, si pemeran Andrew, juga terlihat seperti sedang asyik melakukan monolog, jika tak ingin disebut gagal menciptakan chemistry dengan lawan mainnya. Awkward.

Kedua. Soal setting dan efek spesialnya (jika ada). Lokasi yang secara tampilan dinyatakan sebagai Seattle, terlihat palsu; lebih mirip video dokumentasi abstrak yang diputar bergantian. Tak ada satupun adegan berlatar belakang salah satu kota di Amerika ini terlihat sempurna; antara zoomed in yang notabene terlalu dekat dan zoomed out yang terlalu jauh, teknik pengambilan gambar yang lemah, yang dengan jelas memperlihatkan bahwa lokasi syuting film ini adalah selain Seattle (baca: kami pun tak yakin di mana).

Lebih jauh lagi, ada adegan dalam ruangan dengan pemandangan luar jendela yang terlihat seperti tempelan dan adegan di sebuah roof top dengan pemandangan jumlah bintang di langit malam yang kelewat banyak dan skyline kota yang mirip Jakarta. Lainnya? Really, we have to mention more flaws??

Alur Cerita Berantakan

Kami yang sudah baca habis bukunya dengan mudah melihat betapa berantakannya alur cerita di film ini. Mau mulai dari mana, starting point seperti apa, momen penting apa yang mau dihadirkan? Singkat kata, eksekusi alur cerita film besutan Naya Anindita ini merusak banyak momen yang kami harapkan muncul.

Teknik perkenalan masing-masing karakter kami nilai juga tidak konsisten, cenderung membingungkan, membuat hubungan Ken dan Andrew yang sebenarnya dinamis, terasa datar saja. Dan yang kami sayangkan, saking ingin memuat kisah 10 tahun dalam durasi 90 menit, namun dengan eksekusi yang payah, terjadi banyak adegan gado-gado minim substansi.

Too bad, film yang sebenarnya berpotensi menjadi tolak ukur kualitas film biopik startup lain di Indonesia ini, terlihat seperti dikejar tayang, terlepas apapun faktanya. Selain itu, banyak aspek teknis yang tidak digarap baik, memberikan banyak cacat kasat mata yang sebenarnya tak perlu terjadi. The good, (lagi-lagi) walau sebatas pelengkap, MuviBlaster yang merupakan Kaskuser sejati, pasti tak akan merasa lengkap jika belum menonton. Di bioskop kesayangan Anda tentunya.


Director: Naya Anindita

Cast: Dion Wiyoko, Albert Halim, Pamela Bowie, Maudy Koesnadi

Duration: 79 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top