Connect with us
thorragnarok

Take Me Home Movie Review: A Haunted House We’ll Never Return Twice

Take Me Home Movie Review

REVIEWS

Take Me Home Movie Review: A Haunted House We’ll Never Return Twice

This review may contain mild spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Premis rumah berhantu dalam sebuah film horor memang sudah pasaran namun akui saja kalau twist dan akhir ceritanya selalu membuat penasaran. Apalagi jika merupakan produksi Thailand atau Jepang, bolehlah kita mengharapkan rasa takut di atas rata-rata yang berefek jangka panjang.

Namun faktanya, tak bisa kita pukul rata begitu saja fenomena ini. Karena (lagi-lagi) faktanya, tak semua film horor produksi kedua negara ini bisa mengemban predikat tersebut, apalagi ketika tak ada lagi ide-ide cerita segar apalagi twist cerdas yang membuat logika penontonnya jungkir balik. Lalu apakah sekilas fakta ini bermaksud untuk menyindir Take Me Home yang dibintangi aktor tampan idola para kaum Hawa di Thailand, Mario Maurer (Jan Dara, Pee Mak)?

Pertama, Take Me Home berplot tentang sebuah rumah berhantu yang kembali dikunjungi salah satu penghuni lamanya. Kedua, memang betul ada twist di ujung cerita yang membuat kami penasaran begitu film ini dimulai. Ketiga, wajah tampan Maurer menjadi sinar terang di tengah banyaknya adegan bernuansa gelap, terutama ketika memasuki sudut-sudut ruang dalam rumah yang disebut rumah impian itu. Lalu, apa yang kurang?

Pertama, kami tak menyangka kalau setting rumah berhantu ini dijadikan bulan-bulanan sebuah adegan yang semula horor, berubah lucu karena diulang-ulang. Kedua, makhluk gaib menunjukkan wujud mereka malu-malu kucing sehingga kami pun berkesempatan mengantisipasi rasa takut apalagi rasa kaget ketika mereka akhirnya menampakkan diri secara terang-terangan. Ketiga, twist di akhir cerita itu kami nilai justru mengurangi tingkat keseraman plotnya secara keseluruhan. Kok bisa?

Tan (Maurer) dewasa kehilangan ingatannya. Hanya namanya saja yang ia ingat begitu tersadar di rumah sakit. Berdasarkan info, Tan mengalami kecelakaan dan cedera di bagian kepala. Latar belakang kecelakaan tersebut tak ada yang tahu. Singkat cerita, Tan pulang ke rumah dan mendapati adik kembarnya, Tubtim (Wannarot Sonthichai), sudah menikah dan terlihat bahagia.

Walau awalnya, Tubtim menyambut kepulangan Tan dengan ramah, namun dengan cepat keramahan itu berubah jadi kemarahan, membuat suasana rumah sungguh tak enak. Lebih jauh lagi, Tan mendapati hal-hal aneh nan mistis terjadi di rumah tersebut. Dari sinilah, perjalanan pulang Tan sebenarnya dimulai.

Kepulangan yang Menipu

Tan memang sudah pulang namun ia tak tahu bahwa rumah itu diam-diam mengutuki kepulangannya. Rumah yang ia ingat sebagai rumah impian berubah menjadi mimpi buruk yang membuat Tan menyesal pulang. Namun Tan bukanlah pria sepenakut itu. Ia tahu ada sebuah misteri mengerikan yang harus dipecahkan dan kekuatan jahat yang harus dilepaskan. Pertanyaannya, dari mana sumbernya dan siapa yang bertanggung jawab sebagai pemicunya? Mungkinkah Tan sendiri?

Sebagai seorang jagoan di film horor, Maurer termasuk tampan. Sempat kami sayangkan tak ada wanita cantik yang diplot menjadi kekasih Maurer, atau minimal yang karakternya selamatkan di sini. Ekspresi takutnya tampan, membuat elemen horor Take Me Home sedikit banyak berkurang. Justru kami lebih takut melihat ekspresi Tubtim yang cantik. Cantik namun galak, wajar saja jika Tubtim merupakan bagian dari misteri maut yang menghantui Tan. Penasaran?

Twist yang Tanggung

Twist di ujung cerita itu tidaklah buruk melainkan penuh dosa karena digarap tanggung. Tanggung karena kami sebenarnya berekspektasi lebih untuk jawaban semua teka-teki yang sudah dirangkai sejak film dimulai. Memang bukan rangkaian teka-teki yang sempurna, namun sebuah twist yang baik sudah cukup memberikan sentilan efektif yang berdampak. Sayangnya, tidak.

Efek audio yang kebanyakan berisi lengkingan, dentuman, dan seretan benda-benda tajam juga sayangnya standar. Efek rasa takut nyaris tak ada bagi penonton yang sulit ditakuti dan efek rasa kaget sementara bagi penonton yang terlalu baper alias terbawa perasaan saat menonton. Habis sudah faktor-faktor pendukung pembawa efek samping jangka panjang yang kami harapkan itu.

Take Me Home Movie Review

Ketika akhirnya mengetahui siapa yang baik dan buruk, Tan pun mendapati pencerahan tentang adik kembarnya. Ia mulai mengingat masa kecilnya dan bagaimana ceritanya ia bisa mengalami kecelakaan. Lebih dari itu, Tan juga ingat betapa ia menyayangi adik kembarnya yang ternyata cacat fisik. Cacat yang menyebabkan sang adik dikucilkan dan tidak sengaja dijadikan tumbal sebuah perjanjian.

Baru menjelang film usai, Tan ingat apa dan bagaimana kutukan ini terjadi. Namun, bagaimana caranya Tan mengakhiri mimpi buruknya dalam kondisi yang sudah terlanjur kritis? Terlepas sang adik masih hidup atau tidak, apakah Tan masih sanggup menyelamatkan diri sendiri? Yang terpenting, apakah Tan mampu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Take Me Home dari status flop yang tak diinginkan? Well … cek saja rating kami di atas.


Director: Kongkiat Khomsiri

Cast: Mario Maurer, Wannarot Sonthichai, Nopachai Jayanama

Duration: 94 mins


[related_post themes=”flat”]

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top