Connect with us
thorragnarok

The Angry Birds Movie Review: The Birds Still Can’t Fly but Now Talk Jokes, Even Not Always Funny

The Angry Birds Movie Review
Columbia Pictures

REVIEWS

The Angry Birds Movie Review: The Birds Still Can’t Fly but Now Talk Jokes, Even Not Always Funny

This review may contain mild spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Bagi MuviBlaster yang mengenal Angry Birds sekedar app game saja, mungkin akan semakin mencintai karakter-karakter burung yang tak bisa terbang ini. Bagi yang rajin menonton film-film pendeknya di Toons TV, mungkin akan terpuaskan oleh film versi panjangnya, The Angry Birds Movie. Namun, terlepas media mana yang Anda awami, siap-siap untuk menjelajah latar belakang burung-burung ini, terutama mengapa mereka tak bisa terbang dan menjadi pemarah, serta melihat mereka akhirnya bisa … bicara.

Sempat terlintas di benak kami apa jadinya ketika menyaksikan karakter burung dan babi ini akhirnya bicara. Seperti apa suaranya? Kalimat marah-marah seperti apa yang akan mereka lontarkan? Apakah nantinya bisa menggantikan kejenakaan haha hihi yang sebelumnya dijadikan satu-satunya bahasa komunikasi?

Mirip app game-nya, target film ini adalah semua kalangan, tua-muda, dan anak-anak tentunya. Visualisasi tiap karakter yang detail, pewarnaan yang indah, hingga berbagai gerakan kocak dan guyonan yang secara umum mudah dinikmati, menjadi senjata andalan, kalau-kalau para pengisi suaranya membuat masalah.

Untungnya, walau Red diplot karakter burung paling pemarah, Jason Sudeikis (Horrible Bosses, We’re the Millers) menyuarakan kemarahan Red dengan nada sinis bercampur pasrah, membuat sisi humor Red ikut kentara. Sinis karena ia tak tahan melihat burung-burung lain yang begitu laid-back menjalani hidup dan pasrah karena tidak ada seekor burung pun yang pro dengan kemarahannya. Ditemani Chuck (Josh Gad) yang super bawel dan Bomb (Danny McBride) yang super polos, kami senang akhirnya mendengar mereka, bukan hanya bicara, namun juga saling meledek dan menyemangati satu sama lain.

Adapun kekurangannya adalah kurang mengalirnya elemen komedi dalam beberapa sequence adegan dan beberapa elemen komedi yang dihiperbola sehingga berujung hampa. Selain itu, paruh pertama durasi yang berisi pengenalan karakter, terutama Red, Chuck, Bomb, Terence, dan Matilda, kami nilai bertele-tele dan guyonannya bernada agak serius.

Barulah ketika para babi muncul dan menginvasi para burung, tempo alur berubah lebih cepat dengan adegan-adegan komedi yang mengena. Dan jika Anda penasaran ingin melihat kedua makhluk ini bertempur sungguhan, Anda akan puas melihat burung-burung terlempar katapel berulang kali demi menghancurkan kerajaan babi.

The Angry Birds Movie Review

Why So Angry?

Alasannya sudah pasti Anda tahu, para babi hijau yang maniak makan omelet. Ternyata, awalnya, para burung (baca: kecuali Red) hidup harmonis dan tak pernah marah. Well … memang ada beberapa burung lain yang punya problem dengan emosinya sendiri, namun kebanyakan selalu berpikir positif, bahkan cenderung naif. Hingga suatu hari, Pulau Angry Birds kedatangan tamu, segerombolan babi hijau yang dipimpin babi berjenggot, Leonard.

Saking positif dan naif, Leonard cs dijamu dengan sangat ramah. Padahal, raja dari segala babi ini mempunyai misi jahat. Berbekal berbagai jenis rakitan mesin hingga dinamit (TNT) seperti yang ditampilkan di app game Bad Piggies, Leonard cs mencuri seluruh telur burung yang belum menetas. Berhasilkah mereka? Well … harus tentunya, karena kalau tidak, tidak mungkin ada pengejaran para burung yang kini marah, ke Piggy Island yang jauh di seberang laut sana.

Birds VS Pigs

Kami salut pada developer Rovio Mobile yang begitu gigih hingga akhirnya terciptalah app game Angry Birds ini. Ide burung VS babi yang begitu brilian jenakanya, desain yang sekilas terlihat simple menggemaskan namun sebenarnya begitu berkarakter, hingga level demi level menarik yang berhasil membuat pemainnya kecanduan.

Fakta yang lebih menarik adalah bahwa selain burung yang menjadi jualan utama, babi pun menjadi ikut menjadi primadona. Buktinya, dikembangkanlah spin-off Bad Piggies yang plotnya fokus pada usaha para babi mencuri telur. Dan jujur saja, Bad Piggies jauh lebih sulit dimainkan ketimbang Angry Birds. Tidak percaya?

Kami sendiri lebih cepat kesal jika memainkan Bad Piggies. Medan yang lebih sulit dengan opsi peralatan yang lebih kompleks (baca: pusing memilih antara payung, baling-baling, pegas, dan lainnya) membuat kami bolak-balik mengatur strategi supaya babi-babi tersebut dapat mencapai lokasi telur dengan mulus.

The Angry Birds Movie Review

Pesan Moral

Banyak alasan mengapa The Angry Birds Movie harus dibuat. Selain basis penggemar yang sangat besar, Angry Birds sebenarnya memuat pesan moral yang berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari, terutama dalam komunitasnya. Bahwa akan selalu ada orang-orang berkarakter anomali namun dengan tujuan baik. Seperti Red, temperamennya mungkin sulit dipahami namun niatnya tak jahat.

Karakter babi yang identik dengan kesan kotor justru diberi warna hijau cerah, seakan-akan mereka datang ke Pulau Angry Birds dengan niat baik. Ibarat pepatah, selain Red, seluruh burung menilai sesamanya dan makhluk lain hanya dari kulit luarnya saja. Lebih parahnya lagi, Mighty Eagle (Peter Dinklage) yang menjadi panutan malah bersembunyi dan bergaya hidup bak pecicilan. So … apa Red masih tak boleh marah sekarang?


Director: Clay Kaytis, Fergal Reilly

Cast: Jason Sudeikis, Josh Gad, Peter Dinklage, Maya Rudolph, Bill Hader

Duration: 97 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top