Connect with us

The Choice Movie Review: When Immature Characters and Cliche Plot Bring a Screwed Up Spark

The Choice Movie Review
Lionsgate

REVIEWS

The Choice Movie Review: When Immature Characters and Cliche Plot Bring a Screwed Up Spark

This review may contain mild spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Ibarat seorang murid, Nicholas Sparks termasuk cemerlang, namun sayang dengan grafik nilai naik turun. Buktinya, walau kisah The Notebook dan A Walk to Remember sukses menyayat hati dan membuat wajah pembaca berlinang air mata, karya Sparks selebihnya hanyalah pengulangan kisah anyarnya namun dengan kualitas below the bar.

Apalagi jika sudah bicara filmnya, rasanya tak akan habis kami membandingkan film adaptasi satu dengan yang lainnya, mengingat ada The Notebook yang begitu sukses namun diekori banyak judul lain yang justru mengalami nasib sebaliknya. Intinya, Sparks boleh menciptakan sebuah karya tulis maestro namun bukan berarti ia melulu sang maestro. Karena faktanya, banyak karya Sparks yang terjebak dalam perangkap klise sepasang kekasih yang sedang kasmaran dengan akhir yang mudah ditebak. Pilihannya tinggal apakah publik menyukai ending yang bahagia atau menyedihkan.

Mendadak Labil Karena Travis

Keklisean dalam The Choice dimulai ketika si karakter wanita yang bernama Gabby (Teresa Palmer) tak yakin siapa sebenarnya pria yang ia cintai. Ia labil tapi waras, ia mencintai Travis (Benjamin Walker) namun juga tak mau kehilangan Ryan (Tom Welling). Sebuah situasi klise yang biasanya menimpa satu-satunya wanita cantik di kisah manapun.

Keklisean ini pun berlanjut ketika situasi Travis tak jauh beda dengan Gabby. Walau Travis diplot memiliki sikap lebih tegas, ia tetap saja tergila-gila pada Gabby, dan hanya pada seorang Gabby, padahal ia sendiri tengah menjalin open relationship dengan Monica (Alexandra Daddario) yang seksi dan berbola mata biru menghipnotis itu.

The Choice Movie Review

Dari deskripsi situasi kedua karakter pasangan di atas, jelas sudah bahwa The Choice menyodorkan pemahaman bahwa dalam sebuah romansa, adalah si pria selingkuhan yang memiliki tugas untuk menyakinkan wanita selingkuhannya agar tidak berpaling pada dirinya. Namun, dalam kasus The Choice pula, pemahaman ini gagal diimplementasikan; membuat Gabby terlihat seperti seorang playgirl dan Travis seperti seorang pria posesif. Buktinya, Ryan dan Monica jadi korban bully romansa keduanya.

Masih berusaha mencari sisi positif, kami pun mencoba membandingkan kisah The Choice dengan The Best of Me, yang sekilas mirip namun memiliki starting point berbeda. Andai saja Amanda setia menunggu Dawson keluar penjara, tak mungkin ia menikah dengan pria lain, apalagi sampai memiliki 2 orang putra. Namun, The Choice justru mem-plot Gabby tak setia sedari awal, membuat karakter ini otomatis sulit mendapat simpati. Coba saja lihat adegan pertengkarannya dengan Travis akibat sikap Gabby yang mendadak mendua pasca Ryan pulang dinas kerja. Hello Gabby. Make a choice, please.

The Choice Movie Review

Wajah-wajah Bintang Sedap Dipandang Mata

Untung saja walau dengan konflik romansa kurang terbangun dan pengembangan karakter kurang kuat, termasuk Ryan dan Monica sebagai pihak-phak yang seharusnya mengintimidasi, The Choice didukung ensemble cast dengan wajah sedap dipandang. Terutama Palmer yang belakangan wajah cantiknya wara wiri sebagai love interest (baca: Warm Bodies (2013), Point Break (2015)) dan Walker yang memancarkan karisma lewat senyumnya yang memikat, keduanya memang aset cukup untuk terjun ke genre ini.

Didukung pula oleh Alexandra Daddario (San Andreas) dan Maggie Grace (Taken Trilogy)  yang tak kalah rupawan dan terkadang terlihat mirip, paling tidak The Choice memiliki kesempatan lolos seleksi layak tonton dalam momen Valentine tahun ini.


Director: Ross Katz

Cast: Teresa Palmer, Benjamin Walker, Tom Welling, Alexandra Daddario, Maggie Grace

Duration: 111 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

thorragnarok

To Top