Connect with us
TombRaider

The Commuter Movie Review: Liam Neeson Is Our Aging Action Hero Once Again

The Commuter
Lionsgate

REVIEWS

The Commuter Movie Review: Liam Neeson Is Our Aging Action Hero Once Again

This review contains mild spoilers

R – Restricted

(3.5/5) 

Balada jagoan seorang Liam Neeson (Taken Trilogy, Non-Stop, Run All Night) di usianya yang makin senja semakin populer saja. Pasalnya, Neeson sebelum trilogi Taken lebih dikenal aktor drama atau seorang Master Jedi yang tak pernah terlibat dalam franchise film laga. Terlepas apakah Hollywood masih hobi mengusung tren aging action hero dan nama Neeson yang selalu muncul pertama kali di permukaan, kerutan di wajah serta gerak-gerik tersendat di film ber-setting di atas kereta api komuter yang melaju cepat ini, tak jadi penghalang.

Usia 65 dan penampilan fisik yang otomatis sinkron justru membuat plot The Commuter terlihat cukup realistis. Pasalnya, Neeson dengan gaya berjalan yang kini agak ringkih itu diplot sebagai kepala keluarga dengan kondisi finansial mengkhawatirkan dan berita buruk berikut; ia baru saja dipecat dan kehilangan ponsel. Belum juga sempat pulang ke rumah menceritakan nasib apes pada anak istri, Michael mendapat kesempatan rejeki nomplok yang ujung-ujungnya ternyata membawa petaka.

Pasca didatangi seorang wanita misterius (Vera Farmiga), Michael (Neeson) diteror pihak rahasia agar segera menemukan seorang saksi pembunuhan yang merupakan salah satu penumpang kereta. Bak mencari jarum dalam tumpukan jerami, demikian sulitnya usaha pencarian yang ditempuh Michael. Membaca segala kemungkinan dan mengandalkan ilmu matematika statistik saja tak cukup. Michael yang sudah lelah mental dan otaknya itu juga harus turun tangan adu fisik dengan para penumpang mencurigakan yang tak senang dicurigai dirinya.

The Commuter

The Commuter ibarat Non-Stop (2014) versi kereta api dan The Murder on the Orient Express (2017) versi kereta komuter. Michael adalah si detektif yang harus segera memecahkan teka-teki sebelum akhirnya kereta tiba di trayek akhir. Yang lebih menyulitkan adalah ketiadaan sesi tanya jawab secara frontal dengan para penumpang untuk memperkecil angka probabilitas. Probabilitas berubah hanya ketika jumlah penumpang berkurang seiring trayek demi trayek disinggahi. Siapa saja mereka yang tersisa setiap kali pintu-pintu kereta menutup selalu menjadi peluang baru bagi Michael untuk lolos dari teror ini.

Bicara plot, The Commuter seakan menawarkan mimpi buruk sekaligus lotre di siang bolong. Tanpa penjelasan latar belakang di awal film, secara tiba-tiba Michael menjadi korban sekaligus menjadi avatar dalam permainan ini. Singkat kata, The Commuter adalah sebuah gameplay yang harus segera dimulai dengan rasio kemungkinan menang dan kalah sama besar. Tak ada bala bantuan, hanya ada sebuah informasi target yang tak spesifik. Faktor penentu kemenangan nanti adalah latar belakang misterius yang kemudian diolah menjadi twist efektif, membuat penonton terkejut usai terbawa suasana tegang nan penasaran di sebagian besar durasi.

Sempat miris menyaksikan fisik Michael yang sudah menua itu dibuat babak belur dan mengeluarkan darah, ia masih saja memikirkan keselamatan si saksi mata dan para penumpang tersisa ketika kebenarannya terungkap. Ada pihak egois yang hendak cuci tangan dan menggunakan Michael sebagai kambing hitam. Michael yang kini tahu tentu tak mau dimanfaatkan begitu saja. Yang kami dapat pastikan, bagian klimaks film arahan Jaume Collet-Serra (House of Wax, Non-Stop, Run All Night, The Shallows) tergolong intens dan mengandung twist yang kemungkinannya sempat terpikirkan namun kami abaikan sebelumnya.


Director: Jaume Collet-Serra

Cast: Liam Neeson, Vera Farmiga, Patrick Wilson, Sam Neill, Elizabeth McGovern, Jonathan Banks

Duration: 105 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

RECENTLY WATCHED

COMING SOON

To Top