Connect with us
thorragnarok

The Legend of Tarzan Movie Review: Nostalgic and Poetic, Tarzan Will Never Regret This Comeback

The Legend of Tarzan Movie Review

REVIEWS

The Legend of Tarzan Movie Review: Nostalgic and Poetic, Tarzan Will Never Regret This Comeback

This review may contain mild spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Langsung saja kami ungkapkan bahwa sesuai judul dan tujuan dibuatnya, The Legend of Tarzan, memuat banyak elemen nostalgia. Dan elemen ini digarap secara puitis, lewat adegan-adegan flashback yang bukan hanya tepat sasaran namun juga memiliki makna mendalam.

Khususnya versi live-action, lupakanlah Tarzan (oops… George) versi Brendan Fraser (George of the Jungle) yang hobi ngebanyol. Lupakan juga versi Tarzan lain yang selama ini selalu digambarkan sebagai pria hutan dengan perangai barbar. Karena Tarzan versi Alexander Skarsgard (True Blood, Straw Dogs) tampil rapi, sopan, dan kalem. Tak hanya itu, Tarzan versi baru ini juga intelektual dan matang dalam berpikir, sebuah kualitas yang memang secara alami mengalir dalam darah birunya.

Kembali ke masa lalu yang kelam, tak semua bisa dengan mudah melakukannya, termasuk Tarzan. Ya … perlu MuviBlaster ketahui bahwa terlepas setting waktunya, dikisahkan Tarzan sudah 8 tahun meninggalkan hutan dan sukses beradaptasi dengan peradaban manusia di kota London. Penasaran apa saja yang ia kerjakan?

Well … ia kembali ke status aslinya, seorang aristokrat bernama John Clayton III. Menikahi Jane Porter dan nyaris memiliki anak adalah beberapa hal lainnya, selain mengurusi bisnis warisan kedua orang tuanya yang tewas mengenaskan di hutan. Akan tetapi walau sudah berperangai sebagai seorang manusia tulen, ada kalanya John melakukan gerak-gerik Tarzannya, terutama ketika ia sedang menarik perhatian sang istri.

Berpindahnya Tarzan ke kota dan menjadi John, wajar jika ia kerap terlihat diam dan galau. Tak bisa melonglong apalagi berbuat sesuka hati, Tarzan pun jadi lebih banyak bernostalgia ke sosok dirinya yang dulu. Dan alasan nostalgik ini sempat membuat kami cemas kalau-kalau tempo film besutan David Yates (Harry Potter 4-7) bergerak lambat dan kemudian membosankan. Untungnya tidak.

Potongan-potongan masa lalu Tarzan ini dengan cerdas disisipkan di antara adegan-adegan pembangun klimaks, membuat kami pun dengan seksama mengerti perjalanan hidup Tarzan, termasuk pertemuannya yang tak disengaja dengan Jane. Lebih jauh lagi, hubungan Tarzan dengan keluarga gorilanya kami nilai juga penting untuk dimengerti. Yang awalnya hanya sebuah rasa kasihan, berubah menjadi kasih sayang. Yang awalnya hanya sebuah kepentingan untuk memperkuat klan, berubah menjadi ikatan keluarga yang mendarah daging.

Hutan Tarzan Terancam

Meninggalkan hutan yang otomatis meninggalkan keluarga yang telah membesarkan dan merawatnya, Tarzan pun mendapat sambutan tak hangat ketika ia kembali. Anggota keluarga gorila yang mengira Tarzan seorang pembelot tak senang dan menantang Tarzan untuk berduel. Namun, jangan MuviBlaster kira hal ini adalah masalah utama dalam The Legend of Tarzan. Adalah masalah perebutan wilayah Kongo secara sepihak oleh Kerajaan Belgia yang dipimpin oleh Leon Rom (Christoph Waltz).  Akibatnya, bukan hanya membuat hutan masa kecil Tarzan terancam, namun juga berpotensi memusnahkan hutan tersebut dan segala isinya.

Ancaman ini dimulai ketika Rom membuat kesepakatan dengan raja suku Mbonga (Djimon Hounsou) untuk membawa Tarzan kembali ke hutan. Tujuannya adalah agar sang raja dapat membalaskan dendam putranya yang dibunuh Tarzan dahulu kala. Sedangkan Rom memiliki kepentingan berupa berlian milik suku Mbonga untuk melunasi hutang Kerajaan Belgia dan mendanai program pembangunan benteng serta infrastruktur lain di Kongo.

The Legend of Tarzan Movie Review

Akting Playful Margot Robbie

Di mana ada Tarzan, pasti ada Jane. Walau line ini sempat diungkapkan Rom dan sayangnya, terdengar begitu klise, faktanya memang demikian. Tak perlu Jane menjerit, Tarzan pasti mencari dan mengejar kekasih hatinya itu. Dan seperti yang Jane milik Margot Robbie ucapkan dalam sebuah adegannya dengan Rom, ia bukanlah seorang damsel, apalagi in distress. Sejak awal, Jane sudah ngotot ingin ikut suaminya ke hutan, menemui kerabat-kerabat lama suku Kongo-nya. Namun, di tengah perjalanan, Jane malah diculik dan dijadikan umpan untuk Tarzan oleh Rom.

Dan lagi-lagi, karena Jane bukan seperti bangsawan wanita lain yang anti-kotor dan gemar bersolek, ia mencari akal membebaskan diri dari tahanan Rom, walau akhirnya gagal. Tak mengapa gagal, karena selama ditahan, Robbie milik Jane kerap membuat Rom gregetan kesal. Tak takut ketika diancam, bahkan memberi jawaban-jawaban yang menantang nekat, sedikit banyak Rom pasti kepincut pada Jane.

The Legend of Tarzan Movie Review

Nuansa Gelap ala Harry Potter

Yates yang sebelumnya menggarap 3 jilid film franchise Harry Potter, menyuntikkan tone yang sama pada The Legend of Tarzan. Tanpa mantra dan kilau keajaiban sihir, tone gelap itulah yang tersisa. Namun, tone ini tidaklah ditinggal sendirian. Yates juga menyuntikkan elemen komedi lewat karakter George Washington (Samuel L. Jackson) dan elemen puitis lewat narasi Jane dan adegan flashback pertemuannya dengan Tarzan. Singkat kata, The Legend of Tarzan tak melulu monoton, namun memiliki nuansa lain, yang belum pernah ditampilkan film-film adaptasi Tarzan sebelumnya.

Buktinya, walau ber-setting utama hutan hujan tropis yang rimba dan gelap, selalu ada kesempatan bagi George untuk membuat Tarzan tak melulu tegang. Lebih jauh lagi, lewat George pula, kami tahu bahwa Tarzan memiliki kadar lumayan tinggi soal gengsi, sebagai akibat lingkungan introvert-nya semasa di hutan.

Dan di hutan ini pula, kami tahu bahwa Tarzan tak pernah berhenti menjaga stamina fisiknya. Buktinya, pasca 8 tahun, ia masih saja sanggup berayun-ayun di akar antara pepohonan, terjun bebas dari atas tebing, serta menerjang Akut (Matt Cross), kakak gorilanya, dalam sebuah duel. Dengan demikian, kami melihat Tarzan pun seperti terlahir baru, kali ini sebagai manusia beradab yang menyelesaikan masalah bukan hanya mengandalkan fisik dan nyali, namun juga akal dan sense of humor.


Director: David Yates

Cast: Alexander Skaarsgard, Margot Robbie, Samuel L. Jackson, Christoph Waltz, Djimon Hounshou

Duration: 110 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top