Connect with us
princessmononoke

The Lego Batman Movie Review: Never Has Batman Got a Chance to Be Expressive and Pull Punchlines Every Proper Way Possible

The Lego Batman Movie Review
Warner Bros. Pictures

REVIEWS

The Lego Batman Movie Review: Never Has Batman Got a Chance to Be Expressive and Pull Punchlines Every Proper Way Possible

This review contains mild spoilers

(4/5) 4.0 Stars

Tanpa bermaksud memberi spoiler, jika MuviBlaster penasaran melihat hubungan tak lazim antara Batman dan Joker, film ini adalah jawabannya. Tak lazim dalam artian positif, The Lego Batman Movie menyorot hubungan rival bebuyutan keduanya dalam zona frenemy; bukan teman, bukan juga musuh, terutama ketika kota Gotham tercinta mereka diplot berada dalam ancaman akhir jaman.

Walau paragraf pembuka di atas terkesan serius, spin-off dari The Lego Movie (2014) yang masih dibesut Chris McKay ini berformat animasi dan dipenuhi adegan balok ber-slapstick ria dan berdialog punchline sungguh mengena. Baik itu yang bersifat menyindir, menyombong, maupun memuji, semua pihak nyaris mendapat jatah. Dan menariknya, nyaris semua adegan dan dialog yang sifatnya demikian didominasi oleh sang jagoan sejati, Batman (Will Arnett).

Jangan heran karena Batman versi Lego ini memang bukanlah Batman versi Christian Bale apalagi Ben Affleck yang sosoknya segelap malam dan sedingin es itu. Batman versi Lego justru sangat lihai mengekspresikan emosinya, terutama mengeluarkan uneg-unegnya. Coba perhatikan efek sentimental bakat ekspresif Batman ini terhadap Joker. Kami pun sampai berubah simpati pada penjahat gila nan nekat yang ternyata hobi mengoleskan lipstik lebar-lebar di bibirnya itu.

Soal rumor bahwa The Lego Batman Movie merupakan film Batman terbaik pasca The Dark Knight (2008), kami dengan mudah setuju. Walau mendapat ruang besar sekaligus fleksibel untuk plotnya, film ini mampu memanfaatkannya dengan bijak dan cerdas. Parameter pertama, walau secara kuantitas, jumlah karakter penjahat yang harus dilawan Batman terlampau banyak, ironisnya, Batman tak sedikitpun mendapat bantuan dari Justice League (baca: walau sebenarnya bisa saja), guna menghindari perseteruan 2 kubu yang tak perlu. Parameter ke-2, tak mengapa karena semenjak film dibuka, Batman sudah berikrar bahwa ia memang tak bisa kerja kelompok. Ia suka menolong namun tak suka ditolong, memiliki empati namun selalu bersikap egois, membuat sosoknya di satu sisi terlihat terus-terang namun di sisi lain, sulit dibaca.

Reuni Musuh Batman dari Masa ke Masa

Parameter ke-3 adalah dipertemukannya Batman dengan para musuhnya. Maksudnya, baru di film inilah Anda bisa menyaksikan reuni musuh Batman dari masa ke masa, mulai dari Clayface, Poison Ivy, Penguin, Mr. Freeze, Catwoman, Bane hingga si gila Harley Quinn dan Joker, semua ada. Bahkan beberapa musuh yang berasal dari film lain turut dihadirkan untuk menambah elemen tawa di tengah-tengah adegan pertarungan antar sesama balok yang intens itu.

Parameter ke-4 adalah suntikan dilema pribadi seorang Batman yang selalu saja tergiang-ngiang sosok kedua orang tuanya itu. Hanya ditemani Alfred, si Butler (Ralph Fiennes) dan sederet peralatan canggih di dalam gua kalelawarnya yang megah, jelas terlihat bahwa Batman merasa kesepian. Menarik karena terlepas sosok Batman versi Lego yang selalu berkoar ramai sana-sini, ia bisa mendadak kalem begitu pulang ke rumah. Teriakan “I’m home.“-nya yang selalu disambut hampa serta aktivitas dalam rumah yang membuat Batman kian autis, menambah kesan kocak yang sebenarnya ironis ini.

Dick Grayson AKA Robin yang Mencuri Perhatian

The Lego Batman Movie tak akan lengkap tanpa kehadiran Robin (Michael Cera), yang dalam film ini dikisahkan masihlah bocah. Seorang anak yatim piatu seperti Batman, Robin pun merasa dirinya terkoneksi dengan sosok pahlawan super idolanya itu. Singkat cerita, pasca sebuah pertemuan di mana Robin bersikap maksa dan Batman tengah dimabuk cinta oleh Barbara Gordon (Rosario Dawson), Robin resmi menjadi anak adopsi Batman.

Awalnya enggan namun Batman akhirnya menjadikan Robin seorang sidekick, semata-mata karena Robin lincah dan rela menjadi kambing hitam. Namun apakah iya Batman setega itu, apalagi setelah Robin menunjukkan bakat langka dan dedikasi tinggi terhadap misi yang diberikan Batman?

The Lego Batman Movie Review

Dengan demikian, kami pun mendapatkan parameter ke-5, parameter di mana bahwa film ini bukanlah semata-mata memuaskan para penggemar setia Batman di seluruh dunia, namun juga memberikan pesan moral yang mudah dicerna oleh target penonton umumnya, terutama orang tua dan anak-anak.

Memberi kesan bahwa plotnya mudah digarap dan konfliknya dapat disuntikkan sesuka hati, faktanya tidaklah demikian. The Lego Batman Movie memuat banyak elemen yang bisa saling menabrak jika tak direncanakan matang dan dibangun kuat. Ibarat membangun sebuah objek menggunakan balok demi balok Lego, sebuah pondasi harus dibuat dan detail apapun yang berada di atasnya harus didesain harmonis, baik dari segi bentuk maupun warna, karena sebuah permainan turut menuntut sebuah keseriusan penggarapan. Betul, Batman?


Director: Chris McKay

Cast: Will Arnett, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Michael Cera, Jenny Slate, Zach Galifianakis

Duration: 104 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top