Connect with us
babydriver

The Longest Ride Movie Review: Riding Hard Without Enough Love to Turn and Maneuver

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies
20th Century Fox

REVIEWS

The Longest Ride Movie Review: Riding Hard Without Enough Love to Turn and Maneuver

This review contains mild spoilers

(3/5) 3.0 Stars

Ibarat sebuah kendaraan, The Longest Ride yang digarap George Tillman Jr (Faster, Men of Honor) sedang berjalan di sebuah lintasan yang aman namun membosankan. Walaupun ada belokan, tidak ada pengalaman dinamika yang berarti. Singkat kata, film yang dibintangi Brit Robertson (Tomorrowland) dan Scott Eastwood (Invictus, Fury) seakan dipacu untuk maju namun tanpa tujuan yang jelas.

Walau performa Robertson terbilang penuh energi untuk film genre ini, sayang energi kekasih dari Dylan O’Brien (The Maze Runner) ini tidak bisa diimbangi oleh lawan mainnya. Dikisahkan karakter Robertson dan Eastwood; Sophia Danko dan Luke Collins, berasal dari dunia yang berbeda dengan minat yang berbeda pula. Walau perbedaan keduanya ini bukanlah seekstrem langit dan bumi, keduanya tampak sangat serius menanggapi situasi yang perlahan namun pasti melanda.

Sejenak kami berpikir why can’t they just take it easy, slow it down, and let things roll naturally? Sophia tengah giat mengejar karirnya sebagai seorang kurator galeri di New York sedangkan Luke adalah seorang bull rider profesional yang sangat berambisi meraih predikat terbaik. Keduanya terlihat saling menyukai namun terpaksa menahan perasaan masing-masing karena gol yang berbeda ini.

Pertanyaannya klasik, apakah hubungan ini layak diperjuangkan? Apakah cinta keduanya yang belum teruji bisa menembus batas perbedaan yang menjadi penghalang di benak mereka tersebut?

Are They Truly in Love?

Saat kami mengulas The Best of Me (2014), film romantis yang diadaptasi dari novel karya Nicholas Sparks, kami sempat mengemukakan bahwa tidaklah mudah untuk menuangkan kisah yang ditulis oleh sang pujangga cinta modern ke dalam sebuah bentuk visual.

Hanya beberapa saja yang berhasil membuat kami terpikat; A Walk to Remember (2001) dan Notebook (2004). Sisanya? Hambar, terlalu dipaksa, dan berjejal dialog cheesy yang lebih cocok dibaca ketimbang diucapkan secara live dan tidak terkecuali film satu ini.

Padahal bagi kami yang belum pernah membaca novelnya, premis kisah cinta adalah mahasiswi seni dan seorang penunggang banteng yang notabene macho terdengar menarik. Bunga-bunga romansa antara 2 karakter yang berbeda latar belakang, perspektif serta gaya hidup ini harusnya bisa memberikan intrik yang meletup-letup.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kami melihat chemistry antaranya keduanya sebenarnya tidaklah sekuat itu. Sophia dan Luke seakan memberi tanda bahwa mereka tidaklah sejatuh cinta itu. Kalau tidak jadi, ya tidak apa-apa. Kalau Sophia memang bukan jodoh Luke, ya sudah, karena Luke pun sebenarnya lebih memilih karir bull rider-nya. So, sebenarnya mereka benar-benar cinta atau hanya sekedar cinlok saja?

Energi Brit Robertson yang Terbuang Percuma

Di antara Robertson dan Eastwood, jelas terlihat bahwa Robertson-lah yang paling niat dan mengeluarkan paling banyak energi kehidupan dalam film ini. Mulai dari tawanya yang mudah meledak hingga ekspresi wajahnya yang kocak namun juga cantik, Eastwood terlihat sungguh kewalahan.

Sungguh tidak beruntung Robertson mendapat lawan main yang menanggapi performanya dengan datar sehingga ia pun harus bekerja ekstra keras untuk tetap menjaga vibe adegan demi adegan yang ada. Imbasnya, Robertson pun jadi ikut kewalahan, dalam artian kehabisan dialog-dialog cerdas untuk mengimbangi kalimat-kalimat gaya old school seorang bull rider yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ranch.

Sisipan Kisah Cinta Ruth dan Ira

Untung saja, kisah The Longest Ride memiliki sisipan kisah cinta antara Ruth dan Ira yang membuat kami terjaga. Tidak berkolerasi langsung dengan Sophia maupun Luke, Ira dan Ruth justru sukses menjadi perekat yang belakangan menyatukan pasangan muda-mudi yang tengah di landa kegalauan tersebut.

The Longest Ride Movie Review

Awalnya, Ira (versi tua yang diperankan oleh aktor senior Alan Alda) diselamatkan Sophia dan Luke ketika mereka dalam perjalanan sepulang kencan. Siapa sangka, Ira memiliki begitu banyak resep cinta yang ia tuangkan dalam surat-suratnya untuk mendiang istri tercinta, Ruth (Oona Chaplin). Lewat surat-surat yang Ira minta Sophia bacakan untuknya, kami pun terbawa dalam nostalgia Ira bersama Ruth ketika masih muda dulu.

Berbagai konflik yang pernah dialami sekaligus ditunaikan oleh Ira dan Ruth dengan baik pun membuat Sophia belajar memahami arti cinta yang sesungguhnya. Namun ketika Sophia akhirnya memilih Luke ketimbang karir seninya itu, apakah Luke mau berkorban hal serupa juga? Atau justru Sophia yang sudah berkorban terlalu banyak sehingga akhirnya harus menelan pil kekecewaan? Giving out too much without much to get in return will never work in any love scheme. It’s just how we describe this romantic flick.


Director: George Tillman Jr.

Cast: Scott Eastwood, Britt Robertson, Jack Huston, Oona Chaplin

Duration: 139 min


Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

PLAYING NOW

thorragnarok

To Top