Connect with us
thorragnarok

The Martian Movie Review: A Smart, Witty, Inspiring as well as Energizing Survival Story of a Human Being

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies

Home

The Martian Movie Review: A Smart, Witty, Inspiring as well as Energizing Survival Story of a Human Being

Overall Rating: 4.0 Stars

Sebelum kami mengulas film ini lebih jauh, perlu kami kemukakan bahwa setelah menonton The Martian, kami jadi tertarik membaca novel karya Andy Weir berjudul sama itu. Kami penasaran ingin mengetahui tentang strategi cerdas seorang Mark Watney bertahan hidup di Mars lebih detail lagi.

Wajar saja kalau kami tertarik. Misteri mengenai planet Mars yang identik dengan warna merah tersebut belumlah 100% terpecahkan. Walau sudah berbagai misi eksplorasi dilakukan manusia, Mars masih saja menyimpan berjuta-juta rahasia. Apa iya kita harus terdampar juga seperti Watney di sana untuk memahami kerasnya alam Mars yang masih menutup diri itu?

Untung ada Weir yang menempatkan Watney di Mars, lengkap dengan lansekap indah nan ekstrem, di alam imajinasinya. Ya … bukan sebuah kebetulan Weir menulis karya fiksi ilmiah secemerlang ini. Weir yang mewarisi darah ilmuwan sang ayah, berlatar belakang teknologi komputer. Ia juga mempelajari berbagai ilmu terkait luar angkasa, termasuk astronomi. Sehingga tidak heran kalau kisah Watney bertahan di Mars terkesan seperti kisah nyata karena saking nyatanya digambarkan oleh Weir. Padahal, Watney adalah karakter fiktif, termasuk kisah The Martian yang membuat dirinya berjuang sendiri di tengah sengsara selama hampir 2 tahun lamanya.

The Martian Movie Review

Kisahnyanya sendiri berfokus pada Watney yang diperankan secara brilian oleh Matt Damon (The Departed, Bourne Trilogy, Interstellar). Watney sungguh sial karena terhempas badai angin ketika tengah mengevakuasi diri bersama para kolega grupnya, Ares 3. Ditinggal sendiri dan dikira sudah mati, Watney yang masih hidup walau mengalami cedera, sendirian membangun kehidupan baru di Mars.

Berbekal pengetahuan botani, mekanika, serta listrik, ia pun mulai menghitung berbagai macam persediaan hingga sebulan, 2 bulan, 3 bulan, bahkan 4 tahun ke depan, hingga akhirnya grup eksplorasi Ares selanjutnya tiba di Mars. Namun, menghitung tidaklah semudah mengerjakannya, karena Mars bukanlah seperti bumi yang subur.

Untuk menanam kentang saja, Watney terpaksa menggunakan kotorannya sendiri untuk dijadikan pupuk. Air pun demikian. Setelah melalui beberapa percobaan yang gagal, akhirnya Watney berhasil membuat air dari hasil pembakaran hidrogen.

Awalnya, semua tampak berjalan lancar, terutama setelah Watney berhasil berkomunikasi dengan NASA, walau dengan cara yang aneh, melalui mesin usang bernama Pathfinder. Namun, selanjutnya, tidaklah demikian. Mars tidaklah ramah dan momen-momen menyenangkan Watney di Mars mulai mendekati ujungnya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin NASA meluncurkan misi menjemputnya pulang.

Unlike Emotional Gravity and Sophisticated Interstellar, The Martian Is a Complete Package

Kami akui bahwa The Martian tidaklah menghadirkan gejolak emosi sekuat Gravity (2013) yang memiliki tema serupa. Hukum fisika yang bekerja dalam The Martian juga tidaklah serumit Murph Law dalam Interstellar (2014). Watney pun tidak sampai jadi gila karena terus menerus berkomunikasi dengan sebuah bola voli seperti dalam Cast Away (2000). Namun, The Martian justru menyodorkan paket lengkap sebuah film fiksi ilmiah, yang tidak hanya menarik dan menegangkan, namun juga menghibur dan menginspirasi.

Walau awalnya Watney sempat frustasi dengan kesendirian dan situasi yang amat tidak menguntungkan dirinya itu, belakangan ia bisa juga menikmati momen-momennya di Mars. Mulai dari momen menuai kentang, momen berkomunikasi dengan NASA, hingga momen-momen menjelang pulang menaiki MAV tanpa atap. Perlahan namun pasti, Mars menjadi milik Watney seorang.

The Martian Movie Review

Apalagi dengan adanya kehadiran beberapa bintang komedi memerankan para petinggi NASA seperti Kristen Wigg (Zoolander 2, Bridesmaids) dan Jeff Daniels (Dumb and Dumber) serta beberapa bintang lain yang juga tampil tidak kalah menghibur, ketegangan dalam The Martian mengalir mulus dengan adanya selingan tawa canda.

Damon sendiri kami nilai amat menjiwai karakter Watney. Tidak mudah rapuh dan selalu bersemangat, mampu menghibur dan memotivasi diri sendiri, membuat Watney terlihat mirip karakter sungguhan. Pintar dan banyak akal, Damon memanglah pas memerankan karakter-karakter semacam ini.

Padahal, tahukah MuviBlaster kalau Damon sempat ragu ketika ditawari peran astronot Watney? Nyaris mirip dengan karakternya, Dr. Mann, di Interstellar, serta dekatnya jadwal rilis kedua film ini (baca : hanya nyaris 1 tahun berselang), membuat Damon takut memilih peran yang itu-itu saja.

Namun, nyatanya Watney dan Mann adalah 2 karakter yang berbeda walau berprofesi sama. Dan kami jamin kalau Watney justru akan menambah panjang daftar peran ikonis yang pernah diperankan Damon.

A Mystical Cinematography of Mars

Kami tidak banyak menonton film dokumenter mengenai Mars. Kebanyakan hanyalah melalui film seperti Red Planet (2000) dan Mission to Mars (2000) sehingga menonton The Martian jelaslah sebuah kemewahan. Bukan hanya lansekap yang gersang namun indah dan sinar matahari yang terik namun menerangi jelas, The Martian juga menampilkan sudut-sudut indah Mars yang belum pernah kami lihat sebelumnya.

The Martian Movie Review

Serba berwarna merah kecoklatan mirip tanah liat, visualisasi planet Mars milik The Martian mungkin saja mengejutkan para astronom dan astronot di NASA sana. Mungkin juga pengalaman Watney yang fiktif ini menggugah para penjelajah luar angkasa untuk “berwisata” ala Watney dan mencoba menanam kentang di atas kotoran sendiri seperti dirinya.

Namun, bagi Anda yang ingin merasakan sensasi serupa namun bukan di Mars, pergilah ke lembah Wadi Rum di Yordania. Mengapa? Karena The Martian menggunakan lokasi nyata ini sebagai referensi kondisi dan warna lansekap Mars di filmnya.

Another Ridley Scott’s Sci-fi Breakthrough

Rasanya tidak lengkap kalau tidak membahas sang sutradara, Ridley Scott, sebelum kami menutup ulasan ini. Scott yang sebelumnya kurang sukses dengan The Councelor (2013) apalagi Exodus: Gods and Kings (2014), akhirnya kembali menggebrak lewat The Martian.

Bisa jadi The Martian sukses karena Scott memang piawai mengolah formula sci-fi. Lihat saja seri Aliens dan Prometheus (2012) yang memberi kesan mengerikan sungguh membekas itu. Namun yang menarik tentang The Martian, bukan hanya Scott kembali ke akarnya dan menerapkan berbagai teknik dan gaya penyutradaraannya yang khas, termasuk pencahayaan maksimal dan senandung musik-musik klasik (baca : kumpulan musik kesukaan Komandan Lewis (Jessica Chastain) seperti I Will Survive – Gloria Reynor hingga Waterloo – ABBA), Scott justru menyuntikkan unsur humor yang seimbang dengan ketegangannya.

Alhasil, kami bisa lebih menyelami karakter Watney, yang bisa gila kalau tidak mampu relax, yang bisa mati kalau tidak berpikir out of the box. Pada akhirnya, walau ironis Watney pernah terdampar di Mars, kami yakini ada perasaan bangga sekaligus bersyukur karena menjadi satu-satunya manusia yang diberi kesempatan demikian. Mungkin saja kalau ada kesempatan kedua, ia mau mengulangnya lagi. Really, Watney?

The Martian Movie Review

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top