Connect with us
thorragnarok

The Monuments Men Movie Review: An Essential Guide to Adolf Hitler’s Treasure Hunt in History

The Monument Men
Columbia Pictures

REVIEWS

The Monuments Men Movie Review: An Essential Guide to Adolf Hitler’s Treasure Hunt in History

This review contains no spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Tahukah MuviBlaster bahwa sebelum menjadi pemimpin Nazi yang kejam, Adolf Hitler adalah mahasiswa jurusan seni dari sebuah universitas di Jerman? Ya, meski gagal meraih gelar sarjana dari kampus tersebut, ternyata hal itu sama sekali tidak melunturkan kecintaan Hitler terhadap karya-karya berbau seni. Karenanya, setelah ia berada di tampuk kekuasaan tertinggi di Nazi, sang diktator memerintahkan tentaranya untuk mencuri karya seni berumur ribuan tahun, baik 2D maupun 3D, dari berbagai negara.

Hal ini Hitler lakukan, selain untuk memenuhi egonya ingin memiliki semua karya seni terbaik dunia, juga untuk mewujudkan rencana gilanya yakni membangun museum bernama Fuhrer, yang diimpikan berisi karya seni terbaik dari tangan seniman sekelas Rembrandt, Picasso, dan Michelangelo. Alhasil, dari beberapa tahun “merampok” berbagai tempat, terkumpullah ribuan karya seni dari Prancis, Inggris, Belgia, bahkan AS.

Namun ide edan Hitler ini gagal total, ketika pada 1945, PD II berakhir dan membuahkan hasil kekalahan telak bagi Jerman. Mengetahui masa kekuasaannya akan segera habis, Hitler yang memiliki sifat tak mau kalah, tak rela karya-karya jarahannya diambil kembali oleh tentara-tentara yang menaklukkannya. Maka ia membuat surat perintah terakhir kepada anak buahnya, bahwa semua barang seni yang selama ini telah mereka curi, harus segera dimusnahkan.

Bukanlah Film Perang

Secara garis besar, itulah plot yang menjadi benang merah jalinan kisah di film The Monuments Men yang dibintangi, disutradarai, sekaligus naskahnya ditulis sendiri oleh George Clooney. Meski film berbujet USD 70 juta ini memajang banyak bintang besar yang sering bermain dalam film action seperti Clooney (Three Kings, The Thin Red Line, Up in the Air) dan Matt Damon (Bourne Trilogy, Elysium), namun dengan berat hati harus kami sampaikan bahwa The Monuments Men sama sekali bukanlah film perang.

Meski ada adegan tembak-menembak dengan suara desing peluru sesekali muncul, namun sekali lagi kami pastikan, adegan tersebut bukanlah jualan utama dalam film ini. The Monuments Men murni film drama yang berusaha mengedukasi penonton tentang sejarah yang benar-benar terjadi di 1945, masa ketika Nazi jatuh, dan banyak karya seni dibumihanguskan oleh tentara Jerman.

Dan jika Anda mengira film ini akan tampil membosankan, Anda salah. Karena dengan cermat, Clooney sebagai sutradara, kami nilai mampu merangkai alur cerita yang dinamis sehingga naik, turun, hingga klimaks di film ini terasa smooth dan tidak menjemukan. Apalagi dengan wajah-wajah tenar yang piawai berdrama sepanjang durasi, The Monuments Men menghadirkan metode diplomatis efektif yang membuat Anda banyak berpikir sebelum memberi kritik.

7 Personil dengan 1 Misi Ajaib

Judul The Monuments Men sendiri diambil dari nama sekelompok orang (baca: yang di tahun 1945 pernah eksis) yang diberi tugas oleh Presiden AS Roosevelt untuk mengambil kembali barang-barang seni yang pernah dicuri Hitler, untuk diselamatkan dan dikembalikan ke negara asalnya.

Untuk mengemban tugas berat ini, ditunjuklah Frank Stokes (Clooney), seorang kepala museum yang memiliki kepedulian besar terhadap karya seni, guna pergi ke medan perang, dan berburu harta karun tidak sah milik Hitler tersebut. Untuk memuluskan misi yang ajaib ini, Stokes mengajak 6 personil yang terdiri dari berbagai profesi relevan; kurator seni, ahli sejarah, dan arsitek. Ketujuh orang yang menyamar sebagai tentara ini kemudian menamakan diri mereka sebagai The Monuments Men.

Tugas yang diemban Stokes tidak mudah karena ternyata di medan perang kehadiran para pejuang seni ini tidaklah diharapkan. Meski dengan tameng sebuah mandat dari Presiden AS, namun mereka tidak mendapat sambutan hangat dari para komandan lapangan. Untungnya, salah satu anggota kelompok itu, James Granger (Damon), adalah anak muda yang brilian; berjasa besar menemukan banyak karya seni, yang awalnya ingin disembunyikan atau dimusnahkan Nazi.

Clooney menjelaskan bahwa di dunia nyata, karakter yang ia mainkan adalah perwujudan sosok George Stout (baca: pemimpin The Monuments Men yang sesungguhnya). Ia adalah pria sederhana, kepala museum dari Fogg, yang sebelumnya memang pernah mengabdi di medan perang, tepatnya di PD I. Wajar saja jika Stout paham benar, apa nasib setiap karya seni jika sebuah perang besar berakhir.

MM4

Selain memajang Clooney dan Damon, film ini juga dihias nama-nama besar lain seperti Bill Murray (Ghostbusters, Lost in Translation), Cate Blanchett (The Aviator, The Curious Case of Benjamin Button), dan John Goodman (Argo, Monsters, Inc). Tak ketinggalan, Jean Dujardin yang sebelumnya memenangkan Oscar untuk kategori Best Actor lewat film hitam putih The Artist (2011), juga urun peran dalam kelompok pejuang yang legendaris itu.

Yang unik, ada sedikit aksi KKN di film yang kali ini ia garap. Pasalnya, Clooney sengaja memasang ayahnya, aktor gaek Nick Clooney untuk berperan sebagai Stokes versi tua, yang di akhir film digambarkan mengajak cucunya, untuk mengenal karya seni yang ia berhasil ia selamatkan dari Nazi.


Director: George Clooney

Cast: George Clooney, Matt Damon, Bill Murray, Cate Blanchett, John Goodman, Jean Dujardin

Duration: 120 mins


Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top