Connect with us
thorragnarok

The Piper Movie Review: Not an Easy Fairy Tale to Get Lullabied with, It Offers a Brilliant Horrid Ride into a Strange Land’s Dark Revelation

MUVIBLAST - movie website for movie enthusiasts, based in Indonesia. Movie reviews, movie review, film review, review film, movie trailer, movie trailers, trailer movie, movie news, coming soon movies, playing now movies, box office movies, indie movies, cinema movies, independent movies, japanese movies, korean movies, hollywood movies, asian movies

REVIEWS

The Piper Movie Review: Not an Easy Fairy Tale to Get Lullabied with, It Offers a Brilliant Horrid Ride into a Strange Land’s Dark Revelation

Overall Rating: 4.0 Stars

Dibuka bak sebuah dongeng yang kelihatannya berakhir indah, The Piper memang diadaptasi dari salah satu dongeng karya The Brothers Grimm (baca: The Brothers Grimm sendiri mengadaptasi dari legenda rakyat asal Jerman). Namun sayang, akhir dari kisah The Piper tidak seindah kelihatannya di awal itu.

Diadaptasi dari legenda rakyat asal Jerman yang berjudul The Pied Piper of Hamelin, The Piper memodifikasi legenda aslinya dengan memberikan latar waktu pasca Perang Korea tahun 1950-an yang penuh kecamuk. Walau perang menjadi latar utama dimulainya kisah dalam The Piper, namun justru sebuah pemandangan yang asri dan damailah yang akan MuviBlaster lihat lebih dulu.

Adalah Woo Ryong (Ryoo Seung Ryong), seorang peniup seruling yang cacat kakinya memulai perjalanan panjang menyeberangi gunung demi gunung menuju Seoul. Perjalanan yang sulit ini dilakukan guna mengobati penyakit TBC anaknya, Young Nam (Goo Seung Hyun) yang sudah kronis.

Namun, seperti kisah dongeng, perjalanan Woo Ryong diwarnai berbagai hal gaib yang sulit dijelaskan logika. Setelah bermalam di sebuah gubuk tua, Woo Ryong bersama Young Nam mendadak menemukan sebuah jalan setapak. Jalan setapak yang muncul karena fenomena tiupan angin di malam hari pun menarik perhatian Woo Ryong.

Walau Young Nam sudah membujuk sang ayah untuk tetap fokus pada perjalanan mereka ke Seoul, untungnya apa yang keduanya temukan di ujung jalan tersebut tidaklah buruk. Adalah sebuah desa yang dipimpin seorang kepala desa bijaksana namun dengan para warga yang perangainya aneh.

Terlepas sikap para warga yang kurang responsif, Woo Ryung dan Young Nam berpikir tetap berpikir positif dan dengan cepat beradaptasi. Ironisnya, diam-diam sambutan hangat para warga pada keduanya justru membuat sang kepala desa dan anaknya tak senang. Di sinilah, mimpi buruk sang Piper dimulai.

Every Fairy Tale Has Its Darkest Side

Ternyata, desa tersebut terkena sebuah kutukan mengerikan. Setelah sebuah insiden di masa lalu yang menyebabkan seorang dukun wanita mati terbakar, desa tersebut terjangkit wabah tikus memakan daging kucing. Sang kepala desa pun resah namun juga tak  menjadi senang setelah melihat Woo Ryong berhasil mengusir tikus-tikus tersebut.

Alih-alih berterima kasih dan menuntaskan kesepakatan yang telah dibuatnya dengan Woo Ryong, kepala desa malah mencuci otak para warga desa, meyakinkan mereka bahwa Woo Ryong adalah seorang mata-mata komunis perang yang hendak menghancurkan desanya.

Kekesalan kepala desa ini semakin dipicu ketika seorang dukun wanita palsu bernama Mi Sook (Chun Woo Hee) diam-diam menaruh hati pada Woo Ryong. Sontak begitu Mi Sook meminta ijin untuk meninggalkan desa, kepala desa marah luar biasa. Hingga di sini, kami pun semakin dibuat penasaran apa motif kepala desa ini.

Mengapa ia yang di awal terlihat begitu bijaksana bisa berubah pikiran dan justru malah berbalik meneror Woo Ryung dan Young Nam? Ketakutan apa yang ia simpan sehingga kedua tamunya ini harus disingkirkan? Mengapa pula ia harus berbohong pada warganya mengenai status perang yang sebenarnya sudah berakhir?

The Piper Movie Review

No Lullaby Expectation

Kami tidak bermaksud memberi konotasi negatif ketika mengatakan dongeng The Piper ini membuat tidur jadi tak nyenyak. Sebaliknya, The Piper sukses menyuntikkan kami rasa takut yang tak biasa, apalagi untuk ukuran sebuah dongeng.

Kami kenal kisah Hansel dan Gretel yang diculik oleh penyihir jahat dan hendak dipanggang menjadi kue jahe atau kisah serigala jahat mengincar gadis berkerudung merah. Namun, tidak adanya satu pun penampakan penyihir atau serigala jahat yang notabene minim belas kasih akhirnya membuat kami pun mau tak mau bertanya-tanya siapakah sesungguhnya the bad guy di film ini?

Menariknya, alih-alih membuat kami terus dirongrong rasa penasaran apa dan siapakah yang menjadi elemen negatif, fokus kami justru dibuat bercabang namun tetap bertanggung jawab pada sepak terjang dan hubungan ayah-anak antara Woo Ryung dan Young Nam yang begitu gigih dan menyentuh.

Walau cacat dan sekilas hanya bisa meniup seruling, Woo Ryung adalah seorang yang cerdas alias banyak akal. Kami terpukau sekaligus terhibur dengan strateginya mengusir tikus. Terlepas apakah nantinya kehadiran tikus-tikus ini adalah karena kutukan tersebut, saking meyakinkannya strategi ramuan khusus yang dibuat Woo Ryung, kami sempat dibuat percaya bahwa tikus-tikus ini hanyalah binatang biasa yang kebetulan berhabitat di desa itu.

Keeping Us in Suspense to the Max

Kami acungi jempol untuk sensasi suspense to the max yang berhasil diciptakan The Piper. Alih-alih berharap sebuah akhir bahagia layaknya dongeng kebanyakan, kami justru harap-harap cemas jika akhir yang disajikan akan lebih mengerikan. Dan memang demikianlah yang terjadi.

Semenjak Woo Ryung dan Young Nam tiba di desa tersebut, kami sulit duduk tenang. Namun inilah yang menjadi kekuatan The Piper sekaligus ciri khas film-film produksi Korea. Twist tak tertebak serta menegangkan, lengkap dengan berbagai adegan menguras emosi; terutama setiap kali Young Nam menolong sang ayah dan sebaliknya, memenuhi ruang durasi 119 menit The Piper ini.

The Piper Movie Review

Emosi yang kami rasakan ini juga tak luput dari performa prima para bintang utamanya, terutama Ryoo Seung Ryong (The Guest, The Target, Roaring Currents) yang dengan lihai menampilkan kebaikan, kejenakaan, serta kegeraman seorang manusia. Goo Seung Hyun yang memerankan Young Nam pun berhasil memikat kami dengan kepolosan serta dedikasinya yang ia tunjukkan dalam karakternya. Lee Sung Min (Broken, All About My Wife) sebagai kepala desa juga berakting begitu meyakinkan sebagai sosok yang bijaksana sekaligus manipulatif. Mimik wajah, tone suara, bahkan gerak-geriknya selalu pas dengan setiap momen adegan, membuat film ini semakin menegangkan.

Klimaksnya? Sesuai dengan yang kami harapkan walau sulit kami bayangkan. Ya … sulit kami bayangkan bahwa karakter Woo Ryung digambarkan sedemikian cerdasnya di akhir cerita. Bicara soal menyamakan kedudukan, bukan hanya kepala desa yang bisa. Berbekal strategi dan seruling yang sama, namun dengan rasa kehilangan dan sakit hati luar  biasa, The Piper berbalik arah meniupkan teror yang lebih mengerikan daripada kutukan yang sebelumnya telah ada. So, is The Piper our bad guy here?

Dirilis serentak di Indonesia oleh Jive Entertainment pada 26 Agustus 2015, cari tahu jawaban teka-teki dongeng The Piper di jaringan CGV Blitz seIndonesia!

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top