Connect with us

The Program Movie Review: An Intriguing Real-Life Sport Conspiracy Performed Convincingly by Ben Foster on the Front Line

The Program Movie Review
StudioCanal

REVIEWS

The Program Movie Review: An Intriguing Real-Life Sport Conspiracy Performed Convincingly by Ben Foster on the Front Line

This review may contain mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Sebelum menonton The Program besutan Stephen Frears (High Fidelity, The Queen, Philomena), kami hanya mengenal Lance Armstrong sebagai (mantan) atlit sepeda profesional yang kehidupan sosialnya penuh gegap gempita. Ia sempat memacari penyanyi favorit kami, Sheryl Crow, dan merupakan sahabat baik pentolan rock band favorit kami pula, Bono dari U2. Lainnya, kami mendengar kalau ia terlibat dalam kasus doping serius, namun berkat film inilah kami jadi tahu kisah nyata versi lengkapnya.

Senada dengan Armstrong, kami juga hanya kenal Ben Foster sebatas seorang aktor yang lebih sering diberi peran pendukung ketimbang utama. Tak banyak filmnya yang kami ingat, hanya ketika ia menjadi mutan Angel dalam X-Men: The Last Stand (2006) saja, gaung namanya mendadak santer.

Menariknya, terlepas dari keabsenan kami akrab dengan kedua sosok di atas, The Program membuat kami dalam terkesima dengan sepak terjang keduanya, hanya dalam durasi 103 menit saja. Pertama, Armstrong memiliki pengalaman hidup profesional, yang walau penuh cacat, sangat menarik. Kedua, Foster dengan baik menampilkan karakter Armstrong yang ambisius sekaligus kepala batu itu.

Armstrong milik Foster sukses mengintimidasi dengan gaya bicara lugas serta level kepercayaan diri tinggi. Berkali-kali dicurigai doping oleh berbagai pihak, terutama oleh jurnalis David Walsh (David O’Dowd) dari The Sunday Times, Foster mengelak meyakinkan dengan semburan strategi cerdas. Bisa dilihat lewat beberapa konferensi pers, Foster menampilkan Armstrong yang piawai berkomunikasi depan umum. Tidak bertele-tele, tepat sasaran, sesuai dengan harapan publik yang mencintai dirinya, dan membungkam Walsh yang terus menerus menyangsikan penolakannya.

The Program Movie Review

Poin yang kami catat penting di sini adalah, tidak penting apakah kemudian Armstrong ketahuan belangnya atau tidak, karena ia sudah terlanjur jadi legenda. Dan kami justru melihat sikap mempertahankan kebohongan ini selama bertahun-tahun, jauh lebih menarik.

Batin tersiksa karena tidak bisa berkompetisi secara sportif kami yakin ia rasakan. Membohongi publik yang mencintainya adalah tambahan beban yang tidak mudah dijalani seorang idola dunia. Hingga akhirnya, Armstrong mengakui semua kecacatan dalam semua prestasinya, kami yakin ia menyesali sekaligus mensyukuri kecurangannya itu.

Strategi Pemasaran Jitu Penutup Kecurangan

Teknologi yang diterapkan pada program doping milik Armstrong boleh disebut sebagai yang termutakhir saat itu, namun Lance dan timnya yang menjadikan prosesnya begitu cerdas bersembunyi. Berkali-kali dites dan menunjukkan hasil negatif, tak heran jika selama 7 tahun lamanya, Foster meraih gelar juara ajang Tour de France sebanyak 7 kali berturut-turut.

The Program Movie Review

Saking cerdasnya bersembunyi, Armstrong otomatis memegang bola kuat untuk menampik semua kecurigaan yang menghampirinya, mengubahnya menjadi rasa simpati yang terus berdatangan. Lebih jauh lagi, Armstrong menggunakan latar belakang penyakit kanker testis tragis yang sukses dilewatinya sebagai senjata tambahan, sebuah tameng yang diberi atribut kegiatan amal.

Singkat kata, ibarat sebuah produk, Armstrong memiliki strategi pemasaran mumpuni. Dilemanya selalu terletak pada tanya tanya publik seputar kualitas. Apa benar produk itu orisinil? Apa benar produk itu memiliki kualitas terjamin? Apa benar produk tersebut diciptakan di atas pondasi visi dan misi yang dapat dipertanggungjawabkan, terlepas hingar bingar promosi yang mengelilinginya? Well … jawaban inilah yang selalu tricky dijawab, termasuk dalam kasus Armstrong.

Visualisasi Fakta Tanpa Banyak Dramatisasi

Hanya saja, walau kisah Armstrong menarik dan Foster serta bintang lainnya, terutama O’Dowd, sudah bermain baik, kami nilai kadar dramatisasi dalam The Program kurang tinggi. Oleh karena itu, janganlah MuviBlaster berharap akan merasa terbawa secara emosi ketika menonton, karena deretan visualisasi dan performa para bintangnya adalah untuk menguak fakta kebobrokan Armstrong ketimbang menyorot drama kesuksesannya yang semu itu.

Selain minim dramatisasi, nyaris seluruh interaksi para karakternya cenderung bersifat teknis karena hanya dilatari motif praktis; membuat Armstrong seorang bintang besar dan menghimpun banyak keuntungan dari berbagai pihak; sponsor, federasi, dan berbagai pihak lain.

Namun tak mengapa, kami nilai konsep pengarahan praktis ini wajar saja dan tak membawa dampak negatif signifikan pada filmnya, mengingat materi utama The Program adalah kisah nyata seorang atlet dan dunianya yang notabene bersifat fisik dan sportif.

Menang atau kalah maupun bohong hingga akhirnya ketahuan, apapun hasilnya harus diterima dengan lapang dada dan tanpa rasa dendam, termasuk ketika ia akhirnya menyerah setelah seorang whistleblower membeberkan banyak faktaMungkin penyesalan Armstrong hanyalah ketika ia dilucuti oleh seorang junior sekaligus rekan kepercayaannya sendiri, Floyd Landis (Jesse Plemons). Hmm …

The Program Movie Review

Director: Stephen Frears

Cast: Ben Foster, Guillaume Canet, Lee Pace, Dustin Hoffman, Jesse Plemons

Duration: 104 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

thorragnarok

To Top