Connect with us
princessmononoke

Train to Busan Movie Review: Made in Korea, It’s More Into a Touching Than a Thrilling Zombie Flick

Train to Busan Movie Review
Next Entertainment World

REVIEWS

Train to Busan Movie Review: Made in Korea, It’s More Into a Touching Than a Thrilling Zombie Flick

This review may contain mild spoilers

(3.5/5) 3.5 Stars

Jika zombie dalam World War Z (2013) mendadak berubah unaggresive ketika menghadapi makhluk hidup berpenyakit, zombie dalam Train to Busan justru takut pada kegelapan. Dan jika kereta dalam Snowpiercer (2013) bak neraka bagi penumpang kelas bawahnya, kereta dalam Train to Busan justru tak pandang bulu, menjadi satu-satunya harapan bagi siapa saja penumpang yang selamat. Dengan perbandingan demikian, mudah disimpulkan bahwa kesempatan terbesar para karakter Train to Busan untuk selamat adalah ketika kereta memasuki terowongan panjang. Namun apa iya penyelesaiannya semudah itu? Dan dengan berbagai materi yang begitu mirip kedua film pendahulunya tersebut, nilai jual apa yang hendak di-highlight oleh film yang tengah jadi box office di Korea ini?

Kami nilai wajar jika Train to Busan sedang populer. Tema zombie invasion selalu menarik walau sudah berulang kali diangkat, apalagi oleh industri perfilman Korea yang belakangan lebih sering memproduksi film genre aksi dan drama. Namun jangan kira bahwa kepopuleran Train to Busan terletak pada setting waktu kolosal atau tone-nya yang sepanjang durasi gelap. Tak sengaja dibuat seram, film yang dibintangi aktor kawakan Gong Yoo (Coffee Prince, The Suspect) ini berkonsep apocalypse sebagai akibat dari dampak kemajuan global, sebuah konsep yang kami akui realistis di jaman sekarang, dan kian terasa nyata berkat suntikan drama ayah-anak yang mengharukan.

Ya … sudah bukan rahasia umum kalau Korea adalah jagonya penelur skenario drama penguras air mata. Tema umum yang notabene mudah ditebak pun bisa membuat penontonnya berkaca-kaca akibat terhanyut oleh drama haru biru yang membuat hati tak tega. Singkat kata, bagi MuviBlaster yang sudah keburu malas menyaksikan serangan mayat hidup dengan leher terkoyak berlari mengejar mangsa, jangan berkecil hati dahulu, karena selain drama ayah-anak di atas, kisah karakter pendukung lain juga menarik untuk diikuti.

Dari sekian banyak manusia dalam kereta menuju Busan tersebut, diplotlah beberapa untuk menjadi karakter pendukung penting, terutama dalam hal menyelamatkan mereka yang akhirnya menjadi penyintas di akhir cerita. Adalah Sang Hwa (Ma Dong Seok) yang jago berkelahi dan tetap bisa bertingkah kocak walau sedang dikejar zombie. Ada juga sepasang ibu-anak lansia yang selalu berdebat soal berbuat baik pada orang lain. Menyoal drama ayah-anak, karakter Gong Yoo sendiri adalah seorang ayah yang dinilai putrinya egois. Bagaimana seluruh karakter ini menyingkirkan ego masing-masing untuk bahu membahu melindungi satu sama lain adalah hal yang menurut kami perlu dicermati.

Ketegangan Minim

Mengingat film ini mengandung unsur thriller, ketegangan yang seyogyanya itu ada memanglah ada, apalagi ketika sekumpulan zombie mengejar dan menggigit secara babi buta, namun kami nilai minim.

Alasan pertama adalah setting waktu siang hari sepanjang durasi. Dikarenakan perjalanan antar stasiun distrik rata-rata memakan waktu hanya sekitar 1 jam, otomatis Train to Busan tak memiliki kesempatan untuk beraksi di malam hari. Ketegangan pun jadi banyak berkurang karena tak banyak penampakan mengagetkan terjadi walau di adegan lorong gerbong sempit sekalipun. Para karakter pun tampak waspada walau kereta sedang memasuki terowongan gelap, bahkan beberapa kali berkesempatan mengerjai para zombie tersebut.

Alasan kedua adalah make-up para zombie yang masih mirip manusia. Kecuali bola mata yang berubah putih pucat dan gigi bersimbah darah, zombie milik Train to Busan tergolong masih jauh dari kesan gore.

Alasan ketiga. Ternyata dengan kelemahan para zombie yang mudah terdeteksi,  kami yang menonton pun merasa tak secemas itu. Jika awalnya kami khawatir seluruh karakter akan habis digigit, belakangan kami justru memprediksi bahwa sebagian besar karakter akan selamat. Yang mana yang akan terjadi, silahkan Anda cari tahu jawabannya sendiri.

Train to Busan Movie Review

Akhir Tak Terduga

Sungguh tak tertebak siapa saja karakter yang akan selamat di akhir cerita. Walau mereka yang kuat berpotensi selamat, secara tak sadar, mereka justru memikul tanggung jawab besar; secara fisik harus membantu yang lemah dan secara moral perlu mengorbankan diri demi keselamatan orang banyak. Pertanyaannya, apakah Train to Busan adalah tipe film yang mudah menyerah pada akhir yang bahagia?

Walau di satu sisi terlihat klasik dan klise, di sisi lain strategi ini justru terlihat realistis sehingga selalu saja efektif untuk membangun sebuah klimaks maksimal. Apalagi jika kembali membahas soal karakter Gong Yoo yang dinilai putrinya egois, mudah untuk menebak bahwa kontradiksi fisik VS moral ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk menunjukkan bahwa opini sang putri selama ini salah. Pertanyaannya, apakah ketika momen itu tiba dan situasi semakin genting, semua usaha Seok Woo akan ada gunanya?

Train to Busan Movie Review

Director: Yeon Sang Ho

Cast: Gong Yoo, Ma Dong Seok, Choi Woo Shik, Jung Yu Mi

Duration: 118 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top