Connect with us
princessmononoke

Transformers: The Last Knight Movie Review: No Essentials Beyond Those Spectacular Visuals

Transformers The Last Knight Movie Review
Paramount Pictures

REVIEWS

Transformers: The Last Knight Movie Review: No Essentials Beyond Those Spectacular Visuals

This review contains no spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

“Can we expect some essentials beyond those spectacular visuals?” Begitulah pertanyaan kami ketika trailer demi trailer menjanjikan adegan-adegan megah dengan efek visual di atas rata-rata ala Michael Bay (Bad Boys, The Island, Transformers 1-4). Pertanyaan ini merupakan indikasi bahwa kami ragu pada sekuel yang diberi premis kemunculan sosok Ksatria Terakhir di kala Optimus Prime (Peter Cullen) menghilang dari bumi ketika sedang dibutuhkan. Siapa sosok ksatria ini? Apakah pemimpin Autobots itu akan kembali? Dan apakah ini akhirnya akan menjadi jilid terakhir dari yang terakhir itu?

Sebatas trailer, premis di atas membukakan kami pintu harapan akan adanya plot baru nan menarik di luar Autobots vs Decepticons yang selama ini disuguhkan. Sebatas trailer pula, kami berpikir Bay akhirnya mengerti apa yang diinginkan penonton, terlepas aspek humanis berkualitas yang diidam-idamkan itu masih sulit diwujudkan. Sayang, pemikiran yang kemudian berubah menjadi harapan ini harus pupus dalam investasi durasi 148 menit saja.

Ibarat dalam siklus pertumbuhan, franchise live action satu ini tak pernah lepas dari pubertas. Dengan latar belakang konflik yang tak pernah runtun, sosok karakter manusia yang silih berganti serta sikap kekeuh pada premis bahwa para robot Transformers tak bisa 100% hengkang dari bumi, tim belakang layarnya pun kesulitan mengeksekusi secara realistis. Plot kurang relevan, imajinasi berlebihan, serta komposisi berbagai elemen tidak seimbang. Alhasil, apa yang mungkin disebut sebagai benang merah, lebih mirip sebuah akal-akalan agar sekuel ini masih dapat diterima publik. Singkat kata, selama sebuah konsep storytelling mumpuni tak pernah ada, tak pernah ada pula esensi di balik ledakan-ledakan hebat dan transformasi robot-mobil-robot yang mashyur itu.

Transformers The Last Knight Movie Review

Kembali ke premis, untuk mewujudkannya, Transformers: The Last Knight membutuhkan bantuan Raja Arthur dan para ksatria yang hidup di jaman 1600 SM, membuat 1/4 babak sekuel ini berisi pemandangan kolosal yang indah namun janggal. Dikisahkan pada jaman tersebut, Merlin (Stanley Tucci) si penyihir yang hobi mabuk, bersekutu dengan Ksatria Tranformers. Persekutuan inilah yang menjadi cikal bakal perseteruan antara robot dan manusia di jaman modern.

1/4 babak selanjutnya diisi dengan adegan para Autobots yang tersisa bersembunyi dari kejaran tim TRF (Transformers Reaction Force) yang hendak menangkap mereka. Beruntung, masih ada Cade Yeager (Mark Wahlberg) dan kehadiran karakter baru seorang gadis remaja bernama Izabella (Isabella Moner) yang sekuat tenaga membantu Autobots, walau entah sampai kapan. 1/4 babak selanjutnya, penonton diperkenalkan pada karakter manusia baru lain yang diplot serba sosok pewaris terakhir; Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins), si pewaris terakhir sejarah Transformers di bumi dan Vivian Wembley (Laura Haddock), si pewaris keturunan Witwiccan terakhir. Adegan di babak ini intens mencari lokasi sebuah artefak (baca: Tongkat Merlin) yang dipercaya dapat mencegah kiamat yang akan terjadi.

Sisa babak terakhir tentu saja disiapkan untuk pertempuran akbar semua pihak dalam mewujudkan maupun mencegah kiamat ini terjadi, mulai dari pihak manusia yang dipimpin Yaeger dan Wembley, pihak Autobots yang dipimpin sementara oleh Bumbleebee (Erik Aadahl), pihak Decepticons yang masih dipimpin Megatron (Frank Welker), karakter baru robot penyihir Quintessa (Gemma Chan) yang perdana menampakkan diri sebagai pencipta seluruh robot Transformers, hingga Nemesis Prime yang merupakan sisi gelap dari Optimus dengan misi beda haluan.

Begitu banyak pihak yang terlibat, begitu banyak sub konflik yang perlu dibuat untuk menciptakan pertikaian maupun penyelesaian one on one. Walau memang tidak semua eksekusinya buruk, namun durasi yang berlangsung sudah terlampau lama untuk mentoleransi perbaikan sana sini, indikasi lain bahwa sejak awal daftar prioritas itu tak dibuat; konflik mana yang penting untuk didahulukan penyelesaiannya maupun yang disimpan untuk gebrakan di kemudian hari, ketimbang dicampur aduk all at once.

Ensemble cast manusianya juga tak memberi banyak kontribusi berarti, terlepas masing-masing terlihat sudah berusaha all out secara fisik. Yeager yang semakin siap mengadu nyawa di medan perang dan Wembley yang bertransformasi dari seorang yang rapi dan terpelajar menjadi jagoan wanita ala Mikaela Banes-nya Megan Fox. Keduanya ditemani Josh Duhamel sebagai William Lennox, yang sayangnya, lagi-lagi, hanya diperhitungkan kehadiran fisiknya saja. Hopkins memang sempat beberapa kali mencuri perhatian dengan gaya aristokratnya yang nyentrik namun dengan cepat tertutup pesona visual para robot Transformers. Moner juga sempat memberi warna baru di paruh pertama durasi namun sayang tidak ambil bagian lebih jauh dalam konflik utama film ini.

Berat hati kami katakan bahwa durasi 148 menit banyak terbuang untuk adegan-adegan teknis yang mulai membosankan mata. Terlepas belum atau tidak mengerti apa yang diinginkan penonton, Bay sudah kehabisan waktu untuk memperbaiki kekacauan ini.


Director: Michael Bay

(Voice) Cast: Mark Wahlberg, Laura Haddock, Anthony Hopkins, Isabella Moner, John Torturro, Peter Cullen, Erik Aadahl, Frank Welker, Ken Watanabe, Gemma Chan

Duration: 148 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top