Connect with us
thorragnarok

Warcraft: The Beginning Movie Review: Not a Fresh Breath but Soulless Movie Adaptation Made Only for Gamers

Warcraft Movie Review
Universal Pictures

REVIEWS

Warcraft: The Beginning Movie Review: Not a Fresh Breath but Soulless Movie Adaptation Made Only for Gamers

This review contains no spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Selalu saja ada pengecualian untuk film-film adaptasi video game laris, termasuk Warcraft: The Beginning yang jumlah gamer-nya mengalami penurunan drastis. Karena, walau berkurang banyak, film ini tetap mendapat jaminan jumlah penonton sebanyak jumlah gamer-nya (baca: sekitar 5,000-an sesuai informasi terakhir yang kami dapat). Kalau terbukti bagus, para non-gamer akan jadi ikan tangkapan baru dan filmnya menjadi breakthrough di genre ini.  Sebaliknya, film ini akan menambah daftar panjang film yang dibuat hanya untuk memuaskan interest para gamer-nya saja. Lalu apa maksud kami membuka ulasan ini begini?

Tak munafik, kami mengaku sebagai salah satu calon penonton non-gamer paling bersemangat ketika menyaksikan trailer-nya beberapa bulan lalu. Melihat trailer berisi visualisasi setting dan karakter mirip dunia Middle Earth-nya The Hobbit (baca: banyak juga yang menyamakan dengan Game of Thrones), wajar jika kami memasang ekspektasi tinggi. Kami bahkan memasang headline bernada optimis untuk trailer review di sini. Lalu bagaimana hasilnya?

Ingin sekali memuji namun apa daya banyak kekurangan sana sini yang mengharuskan kami mengkritik. Sayang sekali, Warcraft: The Beginning bukanlah angin segar yang kami cari apalagi pemutus rangkain kutukan itu. Trailer-nya memang terlihat epik dan menjanjikan, namun filmnya mengalami kedodoran di banyak aspek penting.

Pertama, proses pengenalan karakter dan dunia Warcraft yang terlalu bertele-tele. Untuk ukuran Jones yang dikenal sebagai sosok hardcore, Jones justru mengulur banyak waktu untuk keseruan gameplay-nya. Walau detail setiap karakter diperhatikan dan teknologi CGI dunia manusia serta orc ini teraplikasikan cukup baik, tempo dan alur ceritanya cenderung jalan di tempat. Dan ketika pertarungan akbar itu pecah, greget kami sudah tidak pada momen terbaiknya.

Warcraft Movie Review

Kedua, pengembangan karakter yang kurang maksimal. Film ini dibuka dengan penampilan Durotan (Toby Kebbel), istrinya yang gahar, Draka (Anna Galvin), dan anak mereka yang masih bayi. Namun apa yang terjadi selanjutnya adalah deretan karakter lain yang ditampilkan tanpa henti, tanpa porsi pas, dan tanpa adegan berarti. Terutama kami yang tidak awam dengan semua karakter ini namun begitu penasaran dengan backstory beberapa karakter, terutama si orc campuran cantik warna hijau, Garona (Paula Patton), jelas jadi bingung dan kecewa karena sulit membaca motif tiap karakter apalagi mengenal masing-masing dengan baik.

Ketiga, banyaknya sub plot yang masuk keluar silih berganti, namun kurang diperhatikan koneksinya. Hadirnya begitu banyak karakter yang semuanya rata-rata menarik, otomatis masing-masing membawa backstory dan konfliknya sendiri. Namun, karena tidak diolah dengan baik, terjadilah banyak plot hole yang membingungkan, terutama bagi kami, penonton yang kurang awam dengan bibit, bebet, dan bobot dunia Warcraft ini.

Lagi-lagi, Kegagalan

Tahun ini cukup banyak video game-nya yang dibuatkan filmnya, walau masih bisa dihitung jari. Namun, di antara Ratchet and Clank, The Angry Birds Movie, dan Assassin’s Creed, Warcraft-lah yang menjadi primadona. Singkat kata, kegagalan ini harus menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi sineasnya namun juga genre ini secara menyeluruh; bukan lagi meramu ulang formula, namun lebih kepada membuat strategi spesifik terutama untuk jilid pertamanya. Formula bisa jadi sama, namun pengaturan timeline dan kontrol ego setiap pihak di belakang layar kami nilai paling penting sekarang.

Mendengar potensi trilogi, sudah terbayang betapa kompleks jalinan cerita dalam franchise Warcraft ini nantinya. Di lain pihak, trilogi menjadi tanda bahwa sebuah franchise tengah dibangun dengan struktur jelas. Ya … begitu banyak karakter yang mau dihidupkan, sebuah blue print pun harus dibuat. Siapa dan apa yang akan di-highlight di jilid pertama, siapa karakter baru yang mau dikenalkan di jilid kedua, dan seterusnya. Lebih jauh lagi, strategi apa yang cocok untuk format filmnya harus dipikirkan cermat, ketimbang memindahkan nuance video game-nya secara mentah ke dalam format film yang mengandung nilai artistik dan emosi, membuatnya terasa megah, bukan hanya di mata namun juga hati penonton.

Kesalahan Warcraft: The Beginning tidaklah jauh-jauh. Setting-nya memang memiliki palet warna indah, namun ketika diisi manusia dan orc sekaligus, tampak sebuah kejanggalan secara artistik, membuat salah satu kubu terasa palsu kasat mata. Banyaknya plot hole otomatis membuat kami lebih banyak bingung ketimbang merasa simpati terhadap situasi kisahnya. Sungguh sayang nature hardcore Duncan Jones telah mendominasi soft skill-nya yang sudah terbukti tokcer dalam Moon (2009) dan Source Code (2011).

Warcraft Movie Review

Lalu, Mau Dibawa Ke Mana?

Well … Warcraft: The Beginning memang bukanlah awal yang baik namun ending-nya memberi sinyal kuat bahwa sebuah sekuel harus dibuat. Sudah terlanjur memplot persahabatan antara manusia dan orc (baca: bukan konsep versus seperti video game), sungguh sayang jika modifikasi ini berhenti di tengah jalan.

Senada dengan ketakutan Durotan ketika ia menyadari dirinya telah menjadi ayah, terlepas ia menjadi ayah yang baik atau tidak, ia sudah menjadi ayah. Nasi sudah menjadi bubur namun generasi baru telah lahir, tidak ada salahnya berusaha, alih-alih menjadi pengecut. “I’ve led thousands of warriors into battle but I fear being a father. Does that make me a leader or a coward?” – Durotan. You got your answer, Dude.


Director: Duncan Jones

Cast: Travis Fimmell, Paula Patton, Toby Kebbell, Ben Foster, Dominic Cooper

Duration: 123 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

25.10.17

thorragnarok

To Top