Connect with us
transformersthelastknight

Wonder Woman Movie Review: Wonder Woman Is Too Idealistic That Her Story Turns Sluggish and Boresome

Wonder Woman Movie Review
Warner Bros. Pictures

REVIEWS

Wonder Woman Movie Review: Wonder Woman Is Too Idealistic That Her Story Turns Sluggish and Boresome

This review contains no spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Jika ada pahlawan super yang memiliki prinsip ideal jauh lebih tinggi dari Captain America, Wonder Woman-lah sosok itu. Ditambah dengan minimnya pengetahuan alter ego dari Diana Prince akan peradaban manusia modern, seringkali sosoknya tampil naif dan kurang pintar, jika bukan menyebalkan. Inilah faktor utama mengapa kami menilai kisah Wonder Woman generasi baru versi Gal Gadot (F5, Batman V Superman: Dawn of Justice) ini kurang greget disaksikan, terlepas memang demikianlah karakter asli nya. Pendekatan yang di satu sisi membumi, namun di sisi lain mengekspos habis kepolosan Diana sebelum ia mengenal kejamnya dunia.

Selanjutnya. Akting Gadot yang kami harapkan maksimal, terutama dalam menangani sisi polos karakternya, juga tidak terjadi. Dialog standar yang terucap dari bibir seksinya kian standar karena terasa datar. Diplot bukan sebagai seorang biseksualchemistry-nya dengan Steve Trevor (Chris Pine) juga tidak tercipta. Gerak-geriknya baru memberi kesan berarti di bagian paruh film terakhir, bagian yang memang sengaja diplot mengekspos pertarungan akbar antara dirinya dengan si villain.

Plot mengalir lambat dan tanpa banyak intrik yang berarti, hanya berputar pada keinginan Diana untuk belajar bertarung yang dilarang keras ibunya, Ratu Amazon Hyppolita (Connie Nielsen). Padahal, sesuai dengan kisah yang selalu diceritakan sang ibu, ancaman Dewa Perang Ares belumlah berakhir sehingga tak heran jika setiap wanita di pulau Diana tinggal setiap hari selalu berlatih bertarung. Namun mengapa hanya Diana yang tak diperbolehkan?

Wonder Woman Movie Review

Film dibuka dengan kisah Diana cilik (Emily Carey) yang tinggal di pulau cantik bak surga bernama Themyscira. Pulau ini 100% dihuni kaum perempuan Amazon sehingga Diana yang menjadi satu-satunya anak kecil di pulau itu, dipertanyakan siapa gerangan sosok ayahnya. Diana yang tak mengenal ayahnya apalagi bertemu dengan seorang pria, memulai lembaran baru dalam hidupnya ketika ia menolong Steve yang secara tak sengaja terdampar di pulau itu.

Kisah selanjutnya tak jauh dari perjalanan perdana Diana ke dunia manusia, memahami apa sebenarnya hakikat hidup seorang manusia, yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada di benaknya selama ini. Alhasil, penemuan inilah yang membuat sosok Diana jadi idealis berlebihan, membuat banyak konflik terasa diulur dan meleset mencapai target. Terlalu banyak drama pertikaian soal prinsip yang membuat Steve milik Pine tampak kewalahan menghadapi Diana, sebagai salah satu imbasnya. Terlalu banyak kesalahpahaman dalam diri Diana yang harus diluruskan membuat beberapa klimaks yang tak perlu terjadi, dibuat terjadi.

Villain yang dihadirkan juga tampil ala kadarnya. Motif kejahatannya ringan jika tak bisa dikatakan standar. Bahkan ada kemunculan villain bonus yang kami nilai absurd, membuat ancaman yang selama ini ditakutkan Diana terasa delusional.

Sebagai sebuah film pembuka, Wonder Woman masih dapat diterima, apalagi menggunakan tone yang tidak segelap pahlawan super Adam milik DC sebelumnya. Gadot yang berparas cantik dan bertubuh proporsional berpotensi menjadi idola baru, notabene memberi inspirasi bagi para penonton wanita yang tengah mencari role model di rana superhero. Namun sebagai film yang ingin dinilai secara objektif, Wonder Woman gagal menampilkan sosok pahlawan super yang memiliki taji untuk menghadapi realita dalam semestanya.


Director: Patty Jenkins

Cast: Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Elena Anaya, Emily Carey

Duration: 141 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

despicableme3

dunkirk

baywatch

To Top