Connect with us
princessmononoke

X-Men: Apocalypse Movie Review: Larger as Well as Overwhelmed by Number, the Maximum Thrill Is Never Unleashed

X-Men: Apocalypse Movie Review
20th Century Fox

REVIEWS

X-Men: Apocalypse Movie Review: Larger as Well as Overwhelmed by Number, the Maximum Thrill Is Never Unleashed

This review may contain spoilers

(2.5/5) 2.5 Stars

Berita baiknya, X-Men: Apocalypse memberi banyak elemen nostalgia, jika bukan diulang-ulang, untuk para MuviBlaster penggemar berat geng mutan jebolan Marvel ini. Selain itu, X-Men: Apocalypse juga memutar -mundur waktu, memperkenalkan versi muda nyaris semua mutan pesohornya. Dan yang paling penting adalah pencerahan bahwa tak peduli seberagam dan sekeren apa kekuatan super di luar sana, kekuatan super dalam pikiran tetaplah jadi raja. Lalu apa berita buruknya?

Namun sayang, ketiga aspek yang kami highlight di atas tak mampu menutupi banyak elemen lain yang begitu klise, jika tak mau disebut gagal. Sosok antagonis yang berperangai kejam namun ternyata tak cerdas,  momen yang serunya semu karena tak pernah mencapai klimaks, hingga yang paling kami sulit tolerir, dialog-dialog yang seriusnya cheesy dan lucunya garing. Alhasil, kami pun jadi lebih sering gigit jari sendiri.

Merupakan bagian dari keluarga besar Marvel, X-Men dikenal yang paling serius. Namun, di sela-sela status ini, Bryan Singer (X-Men First Trilogy) yang akhirnya mendapatkan kembali singgasananya, mencoba menyuntikkan elemen komedi lewat sosok Quicksilver (Evan Peters) di X-Men: Days of Future Past (2014), dan berhasil. Dan sebenarnya, ketika adegan ini kembali diulang bahkan dibuat berdurasi lebih panjang, unsur komedi itu masih tetap terasa. Kesalahannya adalah, ketika tanpa disadari, dalam X-Men: Apocalypse, efek adegan ini tidak berkelanjutan pada adegan lainnya. Lalu apakah ini berarti adegan seriusnya sungguh bisa dianggap serius?

X-Men: Apocalypse Movie Review

Kami jamin bukan hanya kami saja yang kecewa dengan plot dan pengembangan karakter yang dihadirkan dalam sekuel yang memasang supervillain mutan pertama dan terkuat bak Tuhan (baca: bukan dewa lagi) ini. Plot linear yang walau tidak semudah itu ditebak, namun tidak menghasilkan greget adalah penyebab utama. Penyebab lainnya adalah pendalaman karakter yang kurang cukup walau masing-masing diberi slot durasi cukup banyak. Apa yang terjadi?

Kami dikenalkan dengan beberapa versi muda mutan ternama, terutama Storm (Alexandra Shipp), Jean Grey (Sophie Turner), Cyclops (Tye Sheridan), dan Nightcrawler (Kodi Smit-Mcphee). Namun pengenalan ini hanyalah pengenalan, sekedar memperkenalkan apa kekuatan mereka dan bagaimana cara mereka mengendalikannya. Hampir seluruh slot durasi masing-masing diisi adegan standar dengan dialog standar pula. Sedangkan para mutan senior yang sudah wara-wiri sejak X-Men: First Class (2011) malah kehilangan jati diri sekaligus tajinya. Mystique/Raven (Jennifer Lawrence) yang kurang sangar apalagi bitchy, Eric/Magneto (Michael Fassbender) yang mendadak jadi galau tak jelas, dan Hank/Beast (Nicholas Hoult) yang perangainya yang semakin old-school saja. Bahkan Charles/Prof. X (James McAvoy) makin terlihat lelah, apalagi pasca pikirannya berhasil disusupi Tuhan, oops … Apocalypse (Oscar Isaac).

Kelahiran Mutan Pertama

Sekuel ini dibuka dengan pemandangan panas kota Kairo, Mesir, tepatnya dalam sebuah piramida berpuncak emas, di mana Apocalypse tengah menunaikan proses pemindahan jiwanya ke dalam tubuh baru. Namun, belum proses ini selesai, piramida tersebut disabotase hingga runtuh, mengubur Apocalypse yang masih hidup dalam keadaan tak sadar. Hingga akhirnya waktu berlalu, Moira MacTaggert (Rose Bryne), agen CIA yang merupakan love interest Charles, menginvestigasi piramida tersebut dan menemukan sebuah fakta mengerikan. Siapa sangka, di tempat lain, tepatnya di X-Men School, Jean mengalami mimpi buruk pertamanya, membuat sekolah berguncang dan Charles ikut khawatir. Singkat cerita, fakta yang ditemukan Moira memang berkaitan dengan mimpi Jean, yang keduanya merujuk pada kelahiran Apocalypse, yang ternyata tidak disengaja.

Yang menjadi masalah adalah Apocalypse yang memiliki kekuatan demikian besar dan beragam, dikisahkan secara mendadak mendapat motif naif untuk menghancurkan bumi. Is he really has a problem here? atau sekedar ingin menjadi troublemaker yang tak diundang? Sayangnya yang kedua, motifnya merekrut 4 mutan (baca: The Four Horsemen) juga terkesan asal-asalan alias tidak selektif. Asal pilih karena tak punya bank data mengenai siapa saja mutan di muka bumi ini, Apocalypse pun terpaksa merekrut mutan-mutan amatir yang ia temui secara tak sengaja.

Kelahiran Dark Phoenix

Ada sebuah twist menjelang akhir film yang awalnya kami nilai berpotensi sebagai sebuah game changer. Adalah Jean, yang ternyata, sejak muda sudah memperlihatkan bakat alter ego (baca: Dark Phoenix)nya itu. Dan hal ini bukan tanpa sebab karena kelahiran Dark Phoenix memang dipicu sebuah adegan kritis yang mengharuskan Jean, bukan hanya mengendalikan, namun mengeluarkan 100% kekuatannya.

Hasilnya? Well … pertama-tama kami kemukakan dulu bahwa bukan rahasia umum kalau Jean adalah salah satu mutan terkuat (baca: mutan level Omega) karena kemampuan telepatik dan telekinetiknya melampaui kemampuan mutan seangkatannya, bahkan sang mentor. Namun, ketika Jean yang dikisahkan masih muda ini (terlepas luar transformasi wujudnya) diplot menjadi penyelamat seperti Jean milik Famke Janssen dalam X2 (2003), kami merasa keputusan ini tidak matang dan membuat mutan seniornya terlihat seperti pecundang. Too bad … opini game changer di atas harus kami tarik pulang.

X-Men: Apocalypse Movie Review

Apakah Singer memang bermaksud memberi nostalgia tanpa batas di sini? Berusaha membawa para penonton setia X-Men ke masa-masa jayanya dulu? Sayangnya, kalau ya, keputusan ini seperti sebuah repetisi yang tak perlu. Pasalnya, X-Men: Days of Future Past sudah sukses menjadi breakthrough, memberi parameter baru untuk kelangsungan franchise X-Men di tengah gempuran geng superhero lainnya, sehingga amat disayangkan jika tongkat estafet jatuh di tangan yang salah.

Apalagi melihat pengalaman gagal Batman V Superman: Dawn of Justice dan kesuksesan Captain America: Civil War, publik dengan mudah mendapat pembanding untuk menilai bagus tidaknya X-Men: Apocalypse. Dibandingkan dengan konsep versus Batman V Superman dan Cap V Iron Man, X-Men: Apocalypse kami nilai jauh lebih pincang. Dibandingkan dengan konsistensi penggarapannya, mengecualikan Batman V Superman yang baru memulai, Captain America justru kian berjaya lewat jilid ke-3. Indeed, a lot of homework to do, Singer.


Director: Bryan Singer

Cast: James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Sophie Turner, Oscar Isaac, Nicholas Hoult, Rose Bryne

Duration: 147 mins


 

Leave Comments Below
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

COMING SOON

gintama

thebattleshipisland

waroftheplanetoftheapes
To Top